Tragedi Kanjuruhan dalam Pusaran Pengambilan Keputusan

ADVERTISEMENT

Kolom

Tragedi Kanjuruhan dalam Pusaran Pengambilan Keputusan

Fauzan Hidayat - detikNews
Rabu, 05 Okt 2022 10:00 WIB
donasi tragedi kanjuruhan
Foto ilustrasi: Berbuatbaik
Jakarta -
Tragedi Kanjuruhan menyisakan duka yang mendalam bagi dunia sepak bola Indonesia. Ratusan jiwa melayang dalam peristiwa yang memilukan ini. Kita percaya bahwa semua unsur yang ada pada saat kejadian baik pemain, penonton, suporter, pengamanan, media, maupun penyelenggara kegiatan tidak satu pun yang mengharapkan tragedi ini terjadi.

Peristiwa yang menelan korban 174 jiwa usai pertandingan Arema FC vs Persebaya di Stadion Kanjuruhan, Malang ini tentu di luar dugaan. Sejauh ini, Kapolda Jatim Irjen Nico Afianta menyebutkan bahwa sebab utama terjadinya korban jiwa adalah karena penumpukan massa yang kekurangan oksigen dan terinjak-injak akibat panik dengan situasi yang mencekam.

Bermula dari luapan kekecewaan suporter Arema FC terhadap timnya yang kalah, para suporter itu kemudian turun ke lapangan untuk menyampaikan rasa kecewa kepada pemain. Pihak keamanan (polisi) pun melakukan upaya pencegahan untuk menghindari terjadinya kerusuhan. Karena dianggap anarkis, polisi pun melakukan tindakan dengan menembakkan gas air mata. Kapolda Jatim menjelaskan bahwa sebelumnya Aremania menyerang petugas keamanan sampai merusak fasilitas yang ada di stadion.

Kini, pemerintah pun sedang melakukan penyelidikan untuk mencari pihak yang terlibat dan dianggap bertanggung jawab penuh atas kejadian ini. Dilansir detikcom (2/10), terhadap peristiwa ini, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Kota Medan menduga adanya pelanggaran HAM, pelanggaran profesionalisme dan kinerja pihak kepolisian yang bertugas, serta mendesak pemerintah daerah setempat untuk bertanggung jawab atas korban tragedi kanjuruhan tersebut.

Dua Perspektif Kontradiktif

Tentunya, hal yang paling disoroti dari kejadian ini adalah jatuhnya ratusan korban jiwa. Apabila dianalisis lebih dalam, terdapat dua sudut pandang mengenai penyebab utama tragedi Kanjuruhan ini. Pertama, pandangan bahwa sebabnya adalah tindakan anarkis dari Aremania. Tentu pandangan ini bersumber dari pihak kepolisian.

Dengan kata lain mereka akan berkata: Andai saja Aremania tidak turun ke tengah lapangan dan melakukan tindakan anarkis merusak fasilitas stadion dan menyerang petugas, maka gas air mata tidak akan ditembakkan. Dalam hal ini, Aremania bisa saja menjadi sasaran. Jika saja tidak ada pembelaan hukum yang kuat, tentu busur panah penyelidikan dan persangkaan akan mengarah ke Aremania.

Kedua, pandangan bahwa sebab utamanya adalah tembakan gas air mata oleh pihak kepolisian. Dugaan ini tentu bersumber dari pihak-pihak yang menyayangkan upaya penertiban yang dilakukan, dengan pertanyaan: Kenapa harus dengan tembakan gas air mata? Bukankah pedoman FIFA terkait Stadium Safety and Security Regulation Pasal 19 poin B, sudah jelas? Di situ ditegaskan bahwa penggunaan senjata api dan gas air mata dalam rangka pengendalian massa sama sekali tidak boleh!

Apabila ditelusuri lebih dalam lagi, pihak kepolisian sendiri pun perlu untuk diselidiki tentang bagaimana Standar Operasional Prosedur (SOP) terkait dengan penggunaan gas air mata.

Aturan Penggunaan Gas Air Mata

Tembakan gas air mata yang dipilih sebagai opsi dalam penanganan peristiwa di Kanjuruhan tentu disebabkan oleh sebuah asumsi bahwa telah terjadi huru hara di lokasi kejadian perkara. Berdasarkan Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 8 tahun 2010 tentang Tata Cara Lintas Ganti dan Cara Bertindak Dalam Penanggulangan Huru-Hara disebutkan bahwa huru-hara merupakan kejadian unjuk rasa yang berubah menjadi kekacauan, kerusuhan, dan melawan hukum.

Maka, atas dasar interpretasi kondisi yang saat itu terjadi (huru-hara), polisi pun melakukan tembakan atau pelemparan gas air mata ke arah pelaku huru hara. Tentunya, tindakan itu dilakukan guna melindungi warga masyarakat dari ekses kerusuhan massa. Namun, perlu diketahui pula bahwa dalam Pasal 18 ayat (2) huruf h Perkapolri No.8/2010 tersebut juga disebutkan bahwa "tidak dibenarkan melemparkan gas air mata dan penyemprotan air tanpa perintah dari komandan kompi (Danki) atau kepala detasemen (Kaden) PHH (Penanggulangan Huru-Hara)".

Artinya, secara prosedural, tanpa perintah dari Danki atau Kaden PHH, maka penembakan gas air mata tidak mungkin dilakukan oleh anggota kepolisian yang bertugas.

Pengambilan Keputusan

Apa yang dihadapi oleh Danki atau Kaden dalam kondisi serba tidak kondusif saat terjadinya tragedi Kanjuruhan itu perlu untuk dianalisis. Kondisi di mana kemampuan dalam pengambilan keputusan yang paling efektif sangat dituntut dalam waktu yang singkat. Danki dan Kaden seakan menghadapi situasi dengan istilah "bagai makan buah simalakama".

Di satu sisi mereka menduga ancaman keamanan bagi pemain Arema FC sehingga mereka merasa dituntut untuk segera melakukan pengamanan agar suporter tidak mendekat dan menghindari tindakan anarki. Di sisi lain, mereka semestinya tahu bahwa dalam melakukan pengamanan tersebut ada rambu-rambu yang harus dijaga. Dalam hal penggunaan gas air mata, ada larangan dari FIFA.

Dalam kondisi kegalauan untuk mengambil salah satu opsi tersebut, mereka harus bertindak. Maka, keputusan untuk menembakkan gas air mata itu pun dilakukan. Dan terjadilah yang terjadi.

Antara Optimasi dan Satisficing

Brinckloe et, al (1977) mengemukakan dua pandangan dalam proses pengambilan keputusan, yaitu Optimasi dan Satisficing. Optimasi dilakukan dengan cara memperhitungkan untung rugi dari alternatif yang telah disusun secara sistematis. Memperkirakan segala kemungkinan yang akan timbul akibat dari keputusan yang akan diambil, barulah diputuskan opsi keputusan mana yang akan diberlakukan.

Sedangkan satisficing dilakukan dengan cara menempuh opsi yang cenderung berorientasi pada kepuasan daripada penyelesaian dengan opsi terbaik. Tidak dengan pertimbangan mendalam terhadap untung rugi suatu keputusan. Hal ini bisa disebabkan karena pengakuan terhadap rasionalitas terbatas (bounded rationality) yang memberikan permakluman bahwa pikiran manusia tidak mampu mengolah informasi yang terlalu banyak.

Dalam situasi tragedi Kanjuruhan, agaknya pihak kepolisian tersebut mengambil keputusan Optimasi. Benar-benar telah melalui perhitungan matang sebelum mengambil opsi tembakan gas air mata. Tapi apakah pertimbangan atas forcasting bahwa akan terjadi korban jiwa akibat dari keputusan tersebut sudah dilakukan?

Hal yang disayangkan adalah apabila dalam mengambil keputusan opsi penggunaan gas air mata itu dilakukan dengan cara satisficing. Mengedepankan alasan rasionalitas terbatas dalam situasi yang demikian rumit untuk mempertimbangkan opsi lain di luar keputusan yang pada akhirnya sangat merugikan itu.

Pastinya, kerusuhan dalam dunia sepak bola bukanlah kali pertama terjadi. Standar operasional prosedur dalam menangani segala potensi dampak yang terjadi semestinya telah jauh-jauh hari dapat dimaksimalkan untuk mencegah segala kemungkinan buruk yang akan terjadi. Semoga tragedi Kanjuruhan ini menjadi pelajaran penting bagi kita untuk benar-benar berbenah. Duka cita mendalam atas para korban, dan keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran.

(mmu/mmu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT