Keluarga yang Artifisial

ADVERTISEMENT

Pustaka

Keluarga yang Artifisial

Rakhmad Hidayatulloh Permana - detikNews
Selasa, 04 Okt 2022 15:22 WIB
Novel Keluarga Lego (Rakhmad/detikcom)
Foto: Novel Keluarga Lego (Rakhmad/detikcom)
Jakarta -

Judul Buku: Keluarga Lego; Penulis: Cicilia Oday; Penerbit: Kakatua, 2022; Tebal: vii+278 halaman

Apakah arti sesungguhnya dari 'keluarga'? Apakah keluarga merupakan ikatan yang hanya ditentukan oleh hubungan darah? Apakah makna keluarga hanya sebatas status yang tertera dalam kartu keluarga? Bagaimana jika peran seorang anggota keluarga digantikan oleh kecerdasan artifisial? Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin terkesan ganjil. Tetapi, pertanyaan-pertanyaan ini akan selalu relevan dengan orang yang terjebak dalam disfungsional keluarga. Apalagi ketika mereka mulai mempertanyakan makna dari keluarga.

Bahkan, sebagian dari kita mungkin akan berimajinasi tentang bagaimana jika adik kita yang menyebalkan bisa kita ganti dengan robot yang penurut. Atau, kita membayangkan ayah tukang mabuk perannya bisa diganti oleh robot pekerja keras. Imajinasi-imajinasi semacam itulah yang coba ditawarkan oleh Cicilia Oday melalui novel debutnya, Keluarga Lego.


Novel ini bercerita tentang wanita paruh baya bernama Yohana yang tinggal di panti jompo bernama 'Tempat Peristirahatan Termulia'. Ia tinggal di panti jompo itu karena keinginannya sendiri usai rumahnya kebakaran. Setelah sepuluh tahun tinggal di sana, ia bertemu dengan penghuni baru bernama Naomi yang tinggal di tempat itu karena terpaksa. Bahkan, saat awal-awal tiba di panti, Naomi mengamuk. Namun, lama kelamaan Yohana bisa berteman dengan Naomi.

'Tempat Peristirahatan Termulia' memang tak jauh berbeda dengan panti jompo pada umumnya. Tempat itu bagai suaka bagi orang-orang kesepian dan merasa dirinya kian dekat dengan lahat. Kendati demikian, Yohana menikmatinya, apalagi ketika ia bisa berkawan dengan Naomi.

Namun, semuanya berubah ketika Naomi diadopsi oleh keluarga barunya. Meskipun awalnya Yohana yang mendorong Naomi agar mendapatkan keluarga baru, tetapi akhirnya ia terjebak dalam kesepian yang memuakkan di panti itu. Ia merasa kehilangan Naomi. Hari-harinya hampa.

Situasinya jadi semakin hampa ketika menantunya tak menjenguknya lagi. Hubungan Yohana dan menantunya memang rumit. Yohana kerap mengomeli menantunya itu. Walaupun terkadang Yohana bangga karena masih merasa memiliki keluarga yang bisa memberi afeksi. Tetapi sekali lagi, hubungan mereka rumit. Kompleks sekali. Sukar untuk didamaikan.

Kehampaan Yohana mulai mendapatkan cahayanya ketika ia bertemu dengan perempuan paruh baya yang memakai bros lego. Belakangan, Yohana tahu, perempuan itu robot. Ia robot milik perusahaan jasa persewaan keluarga bernama Keluarga Lego.

Keluarga Lego menawarkan solusi menarik bagi mereka yang merasa tidak mendapatkan keluarga idealnya hanya melalui aplikasi yang ada di GooglePlay. Keluarga Lego memberikan opsi kepada Yohana untuk menciptakan keluarganya sendiri. Sesuatu yang tak ia dapatkan selama ini. Namun, apakah Yohana bisa memperoleh kebahagiaan melalui keluarga artifisial tersebut?

***


Membaca novel ini, pembaca diajak untuk mengenal seluk beluk permasalahan para lansia yang bergulat dengan egonya. Saat membaca bagian-bagian awal novel ini, pembaca akan langsung bisa menduga Yohana adalah tokoh yang bermasalah sejak awal. Dan memang, di akhir cerita, sejumlah pertanyaan soal Yohana akan terjawab.

Pembaca secara tak langsung juga akan diberi pilihan untuk berempati kepada Yohana. Tetapi di sisi lain, pembaca akan dibuat sebal dengan sikap egois Yohana.

Sayangnya, Cicilia Oday tak memberikan ruang yang setara kepada suara-suara tokoh lain. Novel ini tampak seperti buku otobiografi atau memoar yang ditulis oleh Yohana dengan sudut pandang orang lain. Ceritanya seolah terjebak dalam labirin pikiran Yohana.

Selain itu, premis cerita novel ini kurang bisa dielaborasi-digali dengan cukup matang. Padahal, premis cerita tentang 'memilih keluarga sendiri' ini merupakan topik yang menarik. Bahkan belakangan cerita-cerita keluarga disfungsional kerap menjadi cerita viral di Twitter. Sayangnya sekali lagi, ini tidak digali dengan baik.

Lalu terkait gaya bertutur. Sebenarnya, cara bercerita Cicilia cukup beres. Ceritanya minim dari kesalahan-kesalahan minor penulis baru. Tetapi, cara bertutur novel ini tidak menghadirkan suasana intens yang membuat pembaca masuk ke dalam semesta cerita.

Kendati demikian, Cicilia tetap menghadirkan cerita yang bagus. Plottwist yang disiapkan di akhir boleh dibilang menyelamatkan kedodoran cerita di sana-sini. Cerita Keluarga Lego juga mengingatkan bahwa memaafkan masa lalu adalah cara untuk mencintai diri sendiri.

Rakhmad Hidayatulloh Permana. Wartawan detikcom.

(rdp/rdp)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT