SBY, Sokongan AS, dan Antitesis Megawati

ADVERTISEMENT

Kolom

SBY, Sokongan AS, dan Antitesis Megawati

Sudrajat - detikNews
Sabtu, 01 Okt 2022 14:03 WIB
Sudrajat, wartawan detikcom
Sudrajat (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Mantan politisi PDI Perjuangan Zulfan Lindan mengungkapkan kemenangan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Pilpres 2004 karena ada sokongan Amerika Serikat (AS). Cerita ini diamini Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto. Sokongan AS ke SBY itu diberikan karena Megawati tak mengakomodasi kepentingan AS untuk menyerang Irak.

Politisi PDI Perjuangan sebut kekalahan Megawati dari Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Pilpres 2004 karena sokongan Amerika SerikatPolitisi PDI Perjuangan sebut kekalahan Megawati dari Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Pilpres 2004 karena sokongan Amerika Serikat Foto: Montase: Fauzan Kamil

Bila menyimak rekam jejak AS di dunia, sepintas apa yang disampaikan kedua politisi itu dapat dimaklumi. IIshaan Tharoor, redaktur internasional The Washington Post menulis soal jejak campur tangan AS dalam pemilu nasional di beberapa negara. Di Filipina, misalnya, AS membantu kampanye Presiden Ramon Magsaysay pada 1953. AS juga membantu partai-partai Kristen di Lebanon dalam Pemilu 1957 dengan menggunakan suntikan dana rahasia.

"Hal serupa termasuk dilakukan di Jepang pada tahun 1950-an dan 1960-an supaya Partai Demokrat Liberal yang berhaluan tengah-kanan tetap berkuasa," tulis Tharoor dalam artikelnya The Long History of The US Interfering With Election Elsewhere, 13 Oktober 2016. Total, tulis New York Times, 17 Februari 2019, AS melakukan sedikitnya 81 campur tangan terang-terangan dan rahasia dalam pemilihan umum di berbagai negara pada 1946 sampai 2000.

Tapi bila mencermati kembali konstelasi sosial politik di Tanah Air, setidaknya dalam kurun 2003 - 2004, tentu tak bisa secara simplistis menyebut AS berada di balik kemenangan SBY. Atau, kekalahan Megawati kala itu karena kebijakan politik luar negeri yang dijalankannya tak disukai AS. Ada banyak faktor lain yang membuat SBY menang, atau menyebabkan Megawati kalah.

Setelah menjadi pemenang Pemilu 1999, PDIP seperti mabuk kepayang dan tak optimal menjalankan kekuasaan. Sejumlah kader partai itu harus menjalani proses hukum karena sejumlah kasus, terutama korupsi. Akibatnya, di Pemilu 2004, perolehan suara PDIP melorot dari 35,689 juta (33,74 persen) atau setara dengan 153 kursi DPR, menjadi 21.026.629 (18,53 persen) atau cuma setara 109 kursi DPR.

Menghadapi pemilu dan pemilihan presiden langsung pertama pada 2004, internal DPP PDIP juga tidak solid. Sehingga Kwik Kian Gie kemudian membuat gerakan pemurnian DPP untuk menggusur "The Gang of Three", yakni Sekjen PDIP Soetjipto, Pramono Anung, dan Gunawan Wirosarjono.

Megawati pun belakangan mengakui tak cuma oknum-oknum DPP yang disebutnya bodoh, juga para pengurus di daerah yang mabuk kemenangan. Mereka tak mengoptimalkan mesin partai bekerja setelah terpilih menjadi anggota legislatif di daerah masing-masing.

"Mereka pongah setelah menjadi anggota DPR. DPP saya juga goblok-goblok," ujarnya saat bertemu para pengurus DPC dan DPD PDIP se Jawa Timur di Rumah Makan Taman Apsari Surabaya, 1 Desember 2006.

Bagaimana dengan kinerja Megawati selama menjadi presiden menggantikan KH Abdurrahman Wahid? Selama setahun meliput di Istana, 2003-2004, saya merasakan aura yang anyep, membosankan. Sebagai presiden, Megawati seperti bekerja sesuai argo. Sekadar menjalankan rutinitas. Apalagi penampilan pribadi Megawati yang terkesan terlalu pendiam, kurang artikulatif, dan nyaris tak pernah melayani doorstop. Kalau pun ada pernyataan, seringkali standar, tidak nge-lead.

Survei LP3ES pada akhir September 2003 juga menyebutkan bahwa secara umum tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja pemerintahan Megawati kurang dari 50 persen. Survei itu menggambarkan dalam masalah penegakan hukum berupa pemberantasan KKN dan pengadilan pejabat korup, pemerintah Megawati cuma menyelesaikan 11 persen. Di bidang ekonomi, masyarakat juga kecewa pada tingkat pengangguran yang tinggi.

Sebaliknya, kepuasan masyarakat terhadap masalah keamanan mencapai 75 persen. Penanganan terorisme, konflik Aceh serta Papua mencatat keberhasilan yang tinggi. Sayangnya, di bidang ini kredit poin kemudian jatuh kepada sosok SBY yang menjabat Menko Polhukam.

Tragedi Bom Bali pada Oktober 2002 dan pemberlakuan Darurat Militer di Aceh sejak pertengahan Mei 2003 kian menguatkan sosok SBY. Dia figur militer yang kala itu dicitrakan relatif bersih, intelek, dan reformis. Bahasa tubuhnya juga luwes dengan kemampuan berbicara yang lebih tertata. Sosok SBY menjadi semacam antitesis Megawati. Tak heran bila semasa kampanye dia termasuk yang sempat digilai kaum emak-emak.

Selain Megawati yang merupakan atasan langsung, di Pilpres 2004 SBY juga harus menghadapi mantan bosnya di TNI, Jenderal Wiranto. Meski lebih senior dari sisi pangkat, jabatan, dan pengalaman, tapi Wiranto telanjur dicitrakan sebagai bagian terdekat rezim Orde Baru. Dia pernah menjadi ajudan Presiden Soeharto, dan kemudian dianggap bertanggung jawab atas kerusuhan pasca jajak pendapat di Timor Timur, 1999.

Selain itu ada tokoh yang pernah dijuluki lokomotif reformasi Amien Rais yang kala itu juga menjadi magnet tersendiri. Saya menilai sebetulnya Amien lebih artikulatif dan egaliter. Sayang, pilihan katanya seringkali kelewat tajam dan terkesan merasa paling pinter sendiri.

Di sisi lain, SBY juga sebetulnya tak lepas dari kampanye negatif. Sejumlah mantan perwira tinggi yang pernah mengenalnya dari dekat menyebut SBY sebagai "jenderal peragu", sulit mengambil keputusan, dan cuma pandai berwacana.

Tak cuma diembuskan para sejawat dan seniornya di lingkungan TNI, Jusuf Kalla pun semula menolak menjadi cawapres SBY dengan alasan lemah dan tidak mampu mengambil keputusan segera. "Dia susah ambil keputusan," ujarnya seperti terungkap terungkap dalam buku Sofjan Wanandi dan Tujuh Presiden karya Robert Adhi Ksp.

Sudrajat wartawan detikcom

Simak Video 'Demokrat Balas soal SBY Golden Boy of America: Tak Berdasar Fakta':

[Gambas:Video 20detik]



(mmu/mmu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT