ADVERTISEMENT

Jeda

Tiga Maklumat Raja Salomo dan Satu Maklumat Sekakmat

Xavier Quentin Pranata - detikNews
Sabtu, 01 Okt 2022 11:18 WIB
ilustrasi opini tentang pemilu
Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

Sampai saya mengetik tulisan ini, kabar turun gunungnya SBY untuk memastikan AHY bisa berlaga di Pilpres 2024 masih menjadi pembicaraan. Paling tidak saat saya ngopi sambil ngobrolin politik. Belakangan, SBY yang dianggap melontarkan isu kecurangan yang seperti bumerang bagi diri dan partanya sendiri, mengalami cyber bullying. Begitu jengkelnya netizen, khususnya yang mendukung pemerintahan yang sah, dengan pernyataan itu sehingga ucapan SBY dijadikan senjata untuk memukul balik. kembali. Pembicaraan tentang Hambalang dan proyek mangkrak lainnya seperti bensin yang dinyalakan kembali.

Putin, di ujung dunia yang lain, saat ini kewalahan dengan sebagian rakyat yang disebutnya pengkhianat negara karena tidak mau dimobilisasi untuk menjaga perbatasan dengan Ukraina yang sampai saat ini gagal dicaploknya. Alih-alih patuh, rakyat memilih untuk turun ke jalan memprotes kebijakan yang dianggap tidak bijak ini. Mereka yang takut dikirim ke garis depan memilih untuk mematahkan tangannya dengan berbagai cara.

Raja Charles III yang baru naik takhta tampaknya ingin mengulang sejarah UK dengan 'mengasingkan' putra bungsu dan menantunya. Kepada Harry dan Meghan yang bukan berdarah bangsawan, Charles berpesan untuk untuk "terus membangun kehidupan mereka di luar negeri". Bukankah kalimat bersayapnya itu menyiratkan agar Meghan dan Harry terbang ke Amerika dan tidak kembali ke Inggris?

Sejarah berulang. Nasib mereka mirip dengan Edward VIII, kakak laki-laki Raja George VI yang merupakan ayah Ratu Elizabeth II. Demi kekasihnya Wallis Simpson, dia memilih untuk tinggal di Prancis. Aksesnya ke Inggris pun dibatasi. Rupanya raja baru ini sudah melupakan bahwa Lady Diana pun, seperti Meghan, darahnya tidak biru. Sebiru apa sih darah Camilla?

Tiga Maklumat

Raja Salomo atau Sulaiman, raja terbijak yang pernah ada, memberikan tiga maklumat bagi para pengkhianat. Pertama, Bila kayu habis, padamlah api; bila pemfitnah tak ada, redalah pertengkaran. Seperti arang untuk bara menyala dan kayu untuk api, demikianlah orang yang suka bertengkar untuk panasnya perbantahan.

Bagi Salomo, pengkhianat itu seperti bahan bakar. Di setiap kesempatan dia ingin menyiramkan bensin ke api agar bara --bahkan yang hampir padam pun-- menyala kembali. SBY yang mencoba membuka karpet merah bagi anaknya ternyata karpetnya menggulung dirinya sendiri. Orang yang tahu adanya kecurangan sebelum terjadi dianggap pernah melakukan hal yang sama sehingga dihantui oleh ketakutannya sendiri.

Putin yang sudah membuat resah rakyat karena perang yang bikin negaranya makin susah justru dianggap mengkhianati negaranya sendiri. Dengan menyerbu Ukraina, ekonomi Rusia yang belum pulih benar kembali terkena korona megalomania. Charles yang baru saja naik takhta dan "mengusir secara halus" Meghan dan Harry malah mengingatkan rakyatnya akan pengkhianatannya terhadap Lady Diana yang dipuja orang sedunia.

Kedua, Seperti sedap-sedapan perkataan pemfitnah masuk ke lubuk hati. Kata orang gosip itu semakin digosok semakin sip. Pemfitnah suka menambahi, bahkan membesar-besarkan, suatu persoalan di satu sisi, sementara di sisi lain mengurangi --bahkan menghilangkan-- persoalannya sendiri. Baginya, semut di seberang laut tampak jelas, sedangkan gajah di pelupuk mata sendiri tak kelihatan. Mengapa? Karena matanya dibutakan oleh "gajah egoisme" di dalam dirinya sendiri.

Penyakit kronis ini bernama self-rightneousness. Orang yang selalu merasa dirinyalah yang paling benar seringkali menyalahkan orang lain. Ungkapan maling teriak maling sering kita pakai untuk menohok orang yang suka menyindir orang lain tanpa sadar bahwa sindirannya membuka kedoknya sendiri. Bukankah sedap-sedapan itu, apa pun bentuknya, membuat kita terus makan tanpa berpikir bahwa efek sampingnya buruk bagi kesehatan.

Ketiga, Seperti pecahan periuk bersalutkan perak, demikianlah bibir manis dengan hati jahat. Meskipun dilapisi perak, pecahan periuk berpotensi untuk melukai siapa pun yang memegangnya. Uniknya, seperti gosip, justru ada orang-orang yang senang mengejarnya. Kita bisa saja menyebut mereka kepo, tetapi mereka sendiri mengidap FOMO (Fear Of Missing Out). Artinya, orang semacam ini takut ketinggalan berita atau tidak update. Akibatnya, berita bohong, palsu, dan pelintiran pun dilahapnya.

Menurut survei yang pernah saya dengar, hampir 20% orang suka men-share berita tanpa mengecek keabsahannya. Cilakanya, ada orang yang sengaja menyebar berita bohong jika itu menguntungkan dirinya dan menghancurkan siapa saja yang dianggapnya musuh. Bukankah lebih baik kita JOMO (Joy Of Missiong Out) sambil menikmati es teh yang less sugar tanpa dipusingkan oleh somasi?

Satu Maklumat

Tiga kalimat Raja Salomo memang bermanfaat bagi kita untuk kita jadikan wasiat. Setiap perkataan yang kita lontarkan, cepat atau lambat, akan mengenai diri kita sendiri. Waktu berada di Echo Valley, dan saya teriakkan "I love you" dari seberang lembah yang mempesona itu, saya dapat jawaban "I love you." Seandainya jawaban dari seberang "I love you too" saya segera beranjak dari sana karena pasti lembah yang menawan itu ada penghuninya.

Setiap kita punya blind spot. Kita begitu mudah menyebut orang pengkhianat tanpa sadar bahwa kita pun punya kesalahan yang sama atau bahkan lebih besar lagi. Jika pengkhianat menyediakan bahan bakar agar api kembali berkobar, lalu siapa sebenarnya yang menyulut api pertama? Bukankah tidak ada asap tanpa api?

Sang Guru Agung melihat blind spot ini sehingga berkata, "Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu. Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu."

Inilah maklumat yang dahsyat: Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya.

Xavier Quentin Pranata pelukis kehidupan di kanvas jiwa

Simak juga 'SBY Khawatir Pilpres 2024 Curang, Pengamat: Kampanye Gratis PD':

[Gambas:Video 20detik]



(mmu/mmu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT