Tertawa dan Menangis Bersama "One Piece"

ADVERTISEMENT

Kolom

Tertawa dan Menangis Bersama "One Piece"

Gusti Aditya - detikNews
Jumat, 30 Sep 2022 11:00 WIB
Manga
Jakarta -

Pada saat itu, saya hanya seorang bocah yang masih mengelap ingus di kaosnya. Tertawa terbahak-bahak di sebuah pojok ruangan baca, bernama rental komik di Taman Siswa, Yogyakarta.

Di bilik komik itu, saya berjumpa dengan berbagai manusia dengan bentuk yang beranekaragam. Mulai dari ninja, samurai, pembasmi hantu, manusia berkepala kappa, sampai bajak laut yang memiliki kekuatan super —bisa membuat tubuhnya jadi melar seperti karet.

Di bilik itu, saya acap tertawa. Melihat tingkah-polah bajak laut bernama Topi Jerami. Namun pada hari yang sama, saya bisa dibuat menangis oleh pelaku yang sama, Kru Topi Jerami. Dua hal ini kerap saya rasakan. Dengan membaca dan melihat gambar, imajinasi saya menembus batas-batas yang sebelumnya tak pernah terjamah.

Monkey D. Luffy menjadi makin kuat, begitu halnya dengan saya yang makin dewasa. Manga yang berjudul One Piece bersauh di kepala saya. Lambat laun, sauh tersebut tidak hanya menancap di dasar pikiran, namun lebih jauh dari itu, sampai di hati dan perasaan saya.

One Piece, bagi saya, mungkin juga bagi beberapa manusia di luar sana, merangsek masuk ke dalam teritori paling dalam yang bernama dunia khayal yang terasa begitu nyata. Mengapa begitu nyata? Ada sebuah poin yang mengisyaratkan, One Piece tengah terbahak-bahak melihat bejat dan kejinya dunia. Seakan, mereka berkata, "Dunia bajak laut saja tidak separah duniamu tuh!"

Hinati Fujinami didiagnosis mengidap kangker paru-paru. Ajal sudah menanti Fujinami di usianya yang sangat muda. Ketika anak-anak lain membaca One Piece dengan harapan dan optimistik menunggu chapter berikutnya, tidak begitu dengan Fujinami.

Ketika ditanya keinginan terakhirnya, ia ingin mendengar akhir kisah manga kesukaannya, yakni One Piece. Eiichiro Oda, sang mangaka, mengabulkan keinginan anak tersebut. Dilaporkan, ketika usai bercerita, Fujinami tersenyum, lantas menangis. Hanya satu kata yang ia lontarkan sebagai respons kepada Oda. "Indah," katanya.

Sebagian dari pembaca, mungkin kisah nyata di atas dianggap berlebihan. Bagaimana bisa seorang bocah yang berhadapan dengan ajal memilih mendengar akhir kisah One Piece sebagai keinginan terakhirnya? Namun, para pembaca yang budiman, seperti apa yang saya tuliskan dari awal, bagi beberapa manusia, One Piece bersauh bahkan sampai hati dan pikiran.

Banyak kisah yang mengabarkan, banyak yang urung melakukan bunuh diri karena ingin tahu akhir kisah One Piece. Pada suatu ketika saya menjelajahi sebuah situs bernama Quora, ada yang bertanya, apa kamu pernah ingin bunuh diri, apa yang membuatmu mengurungkan hal itu? Hati saya mencelos ketika ada jawaban yang mengatakan, ia urung melakukan bunuh diri karena One Piece belum tamat.

Pengguna Quora bernama Murphy, selain alasan keluarga, One Piece menjadi alasan lainnya. "....One Piece (anime) belum tamat. Mungkin alasan yang terakhir terbilang sangat aneh, tapi itu memang benar adanya. One Piece menjadi alasan ketiga saya mengurungkan niat untuk bunuh diri," tulisnya.

Saya tak pernah menganggap jawaban Murphy itu konyol atau tidak masuk akal. Kadang kala, nyawa seseorang tertolong dari hal-hal yang terasa sederhana. Seperti ingat masakan ibu di kampung halaman, teringat kucing belum dikasih makan, bahkan One Piece yang masih menyimpan berbagai misteri.

Lebih megah dari itu, walau terkesan begitu komikal dan menghadirkan tokoh yang berbentuk aneh, namun kisah-kisah One Piece terasa amat realistis. One Piece banyak mengangkat kisah-kisah rasanya begitu dekat, seperti rasialis yang dialami oleh ras Manusia Ikan yang mendapatkan perlakuan semena-mena dari manusia di atas permukaan laut.

Adanya rasialisme, tentu saja perbudakan hadir sebagai arus balik dari fenomena tersebut. Di One Piece ada juga, yakni yang dialami oleh ras-ras marjinal seperti—selain manusia ikan—ras kurcaci dan raksasa. Mereka diperjualbelikan oleh ras manusia. Siapa yang punya uang diperbolehkan memiliki hak hidup sebuah ras yang terpinggirkan.

Benar, seperti halnya kehidupan kontemporer saat ini, uang dalam jagad One Piece amat berpengaruh banyak menggerakkan kehidupan. Dengan uang, selain membeli budak, juga bisa untuk meraih sebuah hierarki kuasa. Banyak pemimpin zalim dalam One Piece yang bisa dijadikan contoh bahwa uang dapat mengubah segalanya.

Tentu saja sebagai mangaka, Oda tak punya waktu untuk mengkritisi laju zaman. Namun dalam setiap gores tinta yang akan membentuk panel-demi-panel manga, Oda bisa berpendapat dengan liar. Jika ingin memutus kezaliman, maka melawanlah. Seperti Kru Topi Jerami yang siap melawan siapa saja agar hidup manusia di sebuah daerah terkutuk, menghilangkan semua rutuk.

Dunia bergerak dengan begitu cepat dan menjadi jahat, namun Luffy dan kawan-kawan memberikan kesempatan bagi para pembaca untuk tertawa. Seperti sebuah pengingat, tawa bisa meleburkan segala lelah, amarah, dan kebencian.

One Piece juga seperti sebuah dongeng lirih yang diucapkan seorang ibu ketika hendak menidurkan anaknya. Dari kisah-kisah yang disebul ke telinga, mempersilakan siapa saja untuk menangis. Karena sebuah tangis, tidak membuat seorang manusia menjadi kerdil. Menjadi dewasa, lantas tua, mengarungi kisah di dalam kapal bersama para bajak laut dengan bergembira. Hidup terasa indah kala kita tertawa dan menangis bersama One Piece.

Simak juga 'Aksi Fans One Piece, Bagi-bagi Nasi Gratis':

[Gambas:Video 20detik]



(mmu/mmu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT