Empati, Keteladanan, dan Upaya Merawat Harapan

ADVERTISEMENT

Kolom

Empati, Keteladanan, dan Upaya Merawat Harapan

Katarina Retno Triwidayati - detikNews
Rabu, 28 Sep 2022 10:54 WIB
ilustrasi empati
Foto ilustrasi: iStock
Jakarta -

Saya sering berpikir bahwa banyak hal di dunia ini sudah pakem. Sesuatu terjadi dengan prosedur tertentu termasuk emosi yang menyertainya. Misalnya, berita buruk seperti kekerasan dan pelecehan seksual menimbulkan emosi yang kurang lebih sama yaitu marah dan sedih.

Namun, hal itu terpatahkan dengan peristiwa yang saya alami pada pekan awal perkuliahan yang lalu. Kebetulan saya mengajar di program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Saya juga mengampu mata kuliah Bahasa Indonesia yang peserta tiap kelasnya merupakan gabungan dari berbagai program studi.

Di salah satu kelas Bahasa Indonesia, saya mengajak mahasiswa mendiskusikan topik yang sedang hangat diperbincangkan. Salah satu dari mereka mengajukan topik tentang kasus pelecehan seksual siswa sekolah dasar.

Saya menanyakan perasaan mereka terkait berita tersebut. Betapa terkejutnya saya saat mendengar seorang mahasiswa mengatakan bahwa dia tidak merasakan emosi apa-apa. "Biasa saja," ujarnya mempertegas pernyataannya.

Ternyata empat dari 27 mahasiswa di kelas itu berpikiran sama. Mereka berpendapat bahwa kasus semacam itu sudah sering terjadi. Pemberitaannya mudah ditemukan di media massa. Bahkan, mereka menilai bahwa kasus itu pun kemudian ditangani dengan cara yang selalu sama: menyudutkan korban. Jadi, mereka tidak merasa ada yang istimewa dari kasus itu. Biasa saja.

Ketika topik tersebut saya bawa ke kelas PGSD, reaksi mahasiswa beragam. Sebagian besar menyampaikan kegeraman, kemarahan, dan juga rasa sedih yang tak ditutupi. Tapi tidak ada yang sampai mengatakan tidak merasakan apa-apa seperti di kelas sebelumnya.

Saya pernah mengajukan pertanyaan pada mahasiswa PGSD. Pertanyaan itu terkait dengan materi yang diterima mereka saat sekolah dasar dulu dan masih diingat sampai sekarang. Ternyata mereka menjawab tidak ingat.

Akhirnya saya menganulir pertanyaan itu dan meminta mereka berbagi. Saya meminta mereka membagikan pengalaman berkesan yang dialami saat sekolah dasar dulu. Satu per satu mahasiswa pun berbagi cerita.

Ternyata empat dari lima cerita yang dibagikan di salah satu kelas adalah cerita suram. Sementara itu di kelas yang lain, ada enam dari tujuh cerita itu merupakan cerita mencengangkan, ada unsur kekerasan fisik dan mental. Pengalaman-pengalaman itu tentu saja menimbulkan efek tertentu, baik jangka pendek maupun jangka panjang.

Sharing pengalaman itulah yang kemudian membuat saya mengajukan pertanyaan lanjutan pada mahasiswa. "Apakah lembaga pendidikan merupakan tempat yang aman?" Jawaban mereka tentu beragam.

Kita sudah sering menjumpai pemberitaan tentang sisi kelam dunia pendidikan. Para oknum itu membuat masyarakat kadang melupakan hal baik dari lembaga pendidikan. Kemudian kita menyadari slogan "guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa" mulai sayup-sayup dan akhirnya tak lagi terdengar.

Padahal, secara jujur pendidikan kita memang memiliki berbagai persoalan yang sangat kompleks. Kualitas pendidik dan ketersediaan sarana prasarana yang tidak sama di tiap daerah merupakan sedikit dari persoalan itu. Kinerja dan apresiasi yang kerap tak sepadan juga hanya poin kecil dari persoalan pendidikan.

Dalam diskusi di kelas PGSD itu, kami mengidentifikasi bahwa kekerasan yang terjadi di masa lalu mereka dapat dipandang dari banyak aspek. Guru yang memiliki stress tertentu akhirnya berperilaku buruk di kelas. Ia menjadi pemarah karena tekanan di luar pekerjaannya dan melampiaskannya pada siswa. Dan hal itu memang biasa dan sejalan dengan pernyataan bahwa orang yang memiliki hirarki kekuasaan cenderung menekan yang lebih lemah.

Guru dengan gangguan kesehatan tertentu juga bertindak kasar di kelas. Perilaku buruk itu tidak hanya berdampak pada rasa tidak aman saat belajar saja. Siswa menjadi sulit memahami materi. Dampaknya cukup panjang, hasil tes sebagai salah satu cara mengukur keberhasilan pembelajaran pun tidak maksimal. Hal ini lalu menimbulkan efek lain. Persis domino.

Itu belum cerita-cerita tentang guru yang rasis di kelas. Guru dengan pandangan yang semacam ini tentunya tidak muncul begitu saja. Bisa jadi guru itu dididik untuk menjadi intoleran, tidak menghargai perbedaan. Dan ketika menjadi guru, secara tidak sadar dia memberi contoh nyata tentang intoleransi itu.

Guru juga memikul banyak hal terkait pekerjaannya. Tidak hanya soal administrasi dan memastikan tujuan pembelajaran tercapai. Guru pun mesti mampu menjadi contoh atau teladan. Dan jujur saja, tidak semua guru sanggup mengemban tanggung jawab yang itu.

Di sinilah, kita kemudian mempertanyakan bagaimana bisa pendidikan kita akan menjadi lebih baik jika di tataran praktik kita berhadapan dengan hal-hal semacam ini. Benarkah cita-cita menjadi Indonesia yang lebih baik dengan target pendidikan ini dan itu akan tercapai? Atau semuanya hanya akan menjadi wacana manis yang ada di awang-awang saja?

Rasa pesimis akibat mendengar cerita buruk yang dialami mahasiswa sempat muncul di benak saya. Saya sempat mempunyai dugaan yang sangat mengerikan. Jangan-jangan mereka menjadi guru yang menghancurkan mental anak-anak di masa mendatang.

Tapi rupanya saya salah menentukan sudut pandang. Mestinya, justru karena mereka masih calon guru, ini kesempatan baik untuk melakukan banyak hal. Mengajak mereka membicarakan pengalaman dan meminta mereka membangun niat baik sebagai calon guru adalah hal kecil yang bisa saya lakukan. Dengan mencermati kasus dan realitas sosial itu, siswa diajak menemukan solusi yang kreatif dan kritis. Pada saat itulah perlahan empati dikembangkan.

Mereka adalah kebaikan-kebaikan yang benihnya sedang ditanam. Di pundak mereka, pendidikan dasar di masa mendatang diharapkan semakin cemerlang dari hari ini.
Toh pada akhirnya, siswa bisa saja lupa pada materi yang diajarkan guru. Tapi mereka menyimpan dengan sangat baik pengalaman buruk atau baik bersama gurunya. Guru tidak lagi dikenang karena materi yang disampaikannya tetapi karena perilakunya di dalam kelas.

Namun seperti diuraikan sebelumnya, kenyataan sosial saat ini menampilkan wajah guru yang intoleran, tidak menimbulkan rasa aman, dan berbagai citra buruk lainnya. Oleh sebab itu, di ruang kelas, guru masa sekarang perlu mengasah empatinya dan siswa. Tidak hanya fokus pada beragam teori yang berhenti sebagai teori saja.

Teori tentang empati dan juga pendidikan karakter bisa jadi berhenti sebagai teori dan harapan baik saja. Tetapi mendiskusikan persoalan yang dialami teman sekelasnya akan membawa mereka pada pemahaman akan kesejatian pembelajaran: memanusiakan manusia yang lain.

Katarina Retno Triwidayati dosen PGSD

Simak juga 'Komisi X DPR Dorong PAUD Jadi Pendidikan Formal, Apa Alasannya?':

[Gambas:Video 20detik]




(mmu/mmu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT