Mengenang Jakob Oetama dan Berdirinya Harian Kompas

ADVERTISEMENT

"Common Sense" Ishadi SK

Mengenang Jakob Oetama dan Berdirinya Harian Kompas

Ishadi SK - detikNews
Selasa, 27 Sep 2022 18:16 WIB
ishadi sk
Ishadi SK (Ilustrasi: istimewa)
Jakarta -

Dunia jurnalistik Indonesia pasti tidak lupa akan nama Jakob Oetama. Jurnalis senior Indonesia yang merupakan pendiri media ternama adalah Kompas Gramedia Group. Dua tahun setelah sepeninggalannya, nama Jakob Oetama terus terkenang sebagai tokoh penting di pemberitaan dan jurnalistik di Indonesia.

Jakob Oetama meninggal dunia pada Rabu, 9 September 2020, dua tahun lalu. Ia lahir di Borobudur, Magelang pada 27 September 1931. Ketertarikannya sebagai wartawan diperoleh ketika duduk di bangku kuliah. Meski awalnya Jakob mengikuti jejak ayahnya menjadi seorang guru pada tahun 1950.

Jakob Oetama muda menimba ilmu untuk menjadi wartawan di Perguruan Tinggi Publisistik, Jakarta dan Jurusan Publisistik Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Gadjah Mada. Pada bulan April 1961, begitu selesai kuliah, Jakob Oetama diajak PK Ojong, pendiri majalah mingguan Star Weekly, mendirikan majalah bulanan INTISARI, yang terbit pertama kali pada bulan Agustus 1963. Atas dorongan Panglima Angkatan Darat Letjen Achmad Yani yang mengusulkan kepada Drs Frans Seda, Ketua Partai Katolik, agar partainya memiliki sebuah media.

Frans Seda yang menghubungi PK Ojong dan Jakob Oetama untuk membentuk sebuah Yayasan yang menerbitkan sebuah Koran. Namun, rintangan untuk izin terbit koran yang dibentuk oleh keduanya cukup sulit di masa itu. Berkat semangat Frans Seda, Koran terbentuk.

Awalnya nama korannya adalah Bentara. Kemudian nama diikuti kata Rakyat. Kemudian, untuk perizinan Frans Seda mendapatkan dari Bung Karno secara langsung. Bahkan Bung Karno yang memberikan ide untuk dinamakan Kompas. Dari sinilah nama Kompas lahir dan setelah itu juga disetujui oleh Redaksi.

Edisi koran Kompas pertama hadir pada 28 Juni 1965. Saat itu harga langganan satu koran Kompas hanya Rp500 saja perbulannya. Perjalanan Harian Kompas juga tidak semudah itu. Pada 20 Januari 1978 Harian Kompas sempat dibredel, berbarengan dengan media lainnya: Sinar Harapan, Merdeka, Pelita, The Indonesia Times, Sinar Pagi dan Pos Sore.

Singkat cerita, pada 6 Februari 1978, Harian Kompas kembali terbit setelah pembredelan.
Sejak itu media Kompas menjadi salah satu media ternama, bertahan dan berkembang di Indonesia.

Pada 14 September 2022, Kompas berumur 57 tahun. Kompas Gramedia telah berkembang pesat, untuk media bukan hanya koran Kompas, Kompas TV, atau Kompas.com. Tetapi berbagai media lain juga ada. Tidak hanya dunia media, perkembangan Kompas Gramedia hingga ke Bisnis Retail, Rumah Sakit, Manufaktur, Pendidikan, termasuk Pendidikan Tinggi sering kali mengadakan event, Properti dan Layanan Digital.

Mengutip dari website Kompas Gramedia, total keseluruhan bisnis Kompas Gramedia mancapai 400 jaringan usaha di seluruh Indonesia.

Di usia yang ke-78, Jakob Oetama telah membangun sebuah kelompok usaha media yang komprehensif dan menjadi Kompas Indonesia yang sesungguhnya.

Dengan Pak Jakob Oetama saya amat dekat berhubungan. Hampir pada lima tahun terakhir, seminggu sekali saya melakukan kontak khusus dengan beliau. Pendekatan saya dengan Pak Jakob Oetama terbaca di buku saya, "Media dan Kekuasaan: Televisi di Hari-Hari Terakhir Presiden Soeharto". (Cetakan Pertama: Maret 2014. Cetakan Kedua: April 2014)

Pada pengantar buku saya, Pak Jakob Oetama, atas permintaan saya menulis pengantar sepanjang enam halaman. Catatan beliau diantaranya adalah tiga hal menarik dan menggelitik yang akan saya jabarkan.

Pertama, membenarkan premis umum bahwa kehadiran media massa mulanya untuk kepentingan politik, khususnya dalam hal televisi sebagai alat politik yang berkuasa. Kedua, dengan jati diri independen dan semangat jurnalis pada umumnya, termasuk di media televisi, hidup dinamika terus membangun sikap kritis dari satu pihak bisa berbenturan dengan penguasa, ibu kandung televisi, di pihak lainnya antara jurnalis televisi dengan pemilik media yang cenderung ber-status quo untuk kepentingan kekuasaan maupun bisnis atau pemilik modal. Ketiga, tuntutan agar Jurnalis selalu menggoyang-goyangkan badan, bersikap menggugat secara kritis dan bukan skeptis, terus mempertanyakan, karena dituntut terus meningkatkan pengetahuan dan kepekaan nurani, termasuk di kalangan Jurnalis televisi.

Dunia televisi (Indonesia) dalam era Orde Baru tidak bisa lepas dari dinamika yang dihadapi jenis-jenis media lainnya. Kehadiran televisi memang lebih belakangan dibanding cetak dan radio, apalagi digital yang lebih cepat membangun keakraban sebagai citizen journalism (jurnalisme warga).

"Menurut saya di sini, penjabaran Ishadi SK yang memaknai pergulatan news room dalam era dominasi represif rezim penguasa yang dengan sendirinya melibatkan emosi dan nurani, cara mencari, memilah, dan menyampaikan hasilnya ke pemirsa. Sebagai bagian dari perjalanan jatuh bangun industry media, utamanya media televisi, niscaya kita diperkaya. Catatannya tidak selesai sebagai catatan historis, namun menawarkan bahan yang bisa kita pungut sebagai bahan belajar menata kehidupan lebih dengan perspektif demokratisasi dan independensi media." (Jakob Oetama dalam buku Media dan Kekuasaan: Televisi di Hari-Hari Terakhir Presiden Soeharto, Maret & April 2014)

Catatan ini berakhir sekaligus menunjukkan betapa tingkat kapasitas Pak Jakob Oetama sebagai pengampu media cetak, radio, televisi dan digital di masa sekarang.

Jakarta, 27 September 2022
Ishadi SK

(mmu/mmu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT