Monoloyalitas Praktik Dokter, Mungkinkah?

ADVERTISEMENT

Kolom

Monoloyalitas Praktik Dokter, Mungkinkah?

Puspa Ayu Lestari - detikNews
Selasa, 27 Sep 2022 11:15 WIB
Ilustrasi Konsultasi Dokter
Foto ilustrasi: Getty Images/iStockphoto/kokouu
Jakarta -

"Ma, coba dilihat siapa yang menelepon. Kalau dari UGD, sini HP-nya!"

Tertera tulisan UGD salah satu rumah sakit (RS) di layar ponsel suami saya. Detik berikutnya terdengar suami sedang memberikan instruksi terkait beberapa penanganan medis melalui handphone yang sudah berpindah ke tangannya.

Ya, suami saya adalah dokter bedah di salah satu RS milik pemerintah. Kemarin dalam keadaan kita berkendaraan keluar kota, dia yang posisinya sedang menyetir tetap harus melayani konsulan kegawatdaruratan pasien.

Pemandangan seperti itu mungkin lazim terlihat. Entah dalam film-film atau di kehidupan nyata. Kalau Anda kebetulan mempunyai teman seorang dokter, mereka akan cukup sibuk dengan ponselnya bahkan dalam keadaan sedang bersantai atau liburan. Bukan untuk gaya-gayaan menunjukkan diri sebagai orang penting, misalnya, bukan itu. Ini lebih tentang tuntutan profesi dan gambaran sistem pelayanan kesehatan kita.

Dokter, utamanya dokter spesialis atau dokter umum yang bekerja di fasilitas kesehatan dengan pelayanan rawat inap dan persalinan 24 jam kebanyakan akan "terjebak" pada situasi seperti itu. Banyak kehilangan waktu pribadi dan waktu sosialnya demi tuntutan pekerjaan.

Sudah rahasia umum, dokter adalah salah satu profesi dengan jam kerja terpanjang dan tersibuk. Aturan jam kerja ideal berdasarkan UU ketenagakerjaan tahun 2003 yang meliputi 7 jam sehari untuk 6 hari kerja dan 8 jam sehari untuk 5 hari kerja pun sering dilanggar oleh para dokter. Bukan tanpa sebab hal itu terjadi; sedikitnya ada dua alasan. Pertama, berdasarkan UU praktik kedokteran nomor 29 tahun 2004, dokter diperbolehkan memiliki izin praktik maksimal di tiga tempat berbeda.

Kedua, tentu saja karena tuntutan ekonomi. Semakin panjang jam kerja, pendapatan yang didapat juga semakin besar. Dan, dokter di Indonesia rata-rata bekerja/praktik di tiga tempat berbeda. Pertanyaannya, apakah seorang dokter dengan hanya bekerja/praktik di satu tempat kemudian kesejahteraannya cukup terjamin? Jawabannya relatif, karena ukuran kepuasan orang per orang terhadap besaran pendapatannya tentu berbeda-beda.

Saya juga seorang dokter umum. Sewaktu kuliah ada salah satu dosen yang juga seorang dokter klinisi berpesan pada kita para mahasiswanya. Bahwa dokter adalah salah satu profesi dengan "ongkos sosial" yang cukup tinggi. Sebagian besar masyarakat akan memandang aneh kalau seorang dokter itu tidak kaya.

Pengalaman saya sebagai dokter di wilayah pedesaan, pada saat diundang menghadiri acara hajatan seorang warga misalnya, amplop sumbangan seorang dokter biasanya akan dibedakan oleh yang punya empu hajatan. Atau, di lain keadaan ketika ada kegiatan desa, sumbangan pembangunan masjid, pembangunan jalan atau apapun. Kalau warga lain diperbolehkan seikhlasnya atau semampunya, berbeda untuk bapak/ibu dokter. Sudah tertera nominal yang harus disumbangkan, dan biasanya jumlahnya tidak sedikit. Kalau sekali-dua kali mungkin tidak apa-apa, kalau sering ya berat juga he he he.

Jam kerja yang panjang bagi dokter selain mungkin bisa mendongkrak pendapatan, di sisi lain akan berpengaruh juga pada kualitas pelayanan medis yang diberikan. Sampai terjadi human eror dalam terapi mungkin tidak. Tapi kelelahan akibat jam kerja yang panjang, bisa jadi menyebabkan seorang dokter tidak lagi melayani pasien dengan rasa empati tinggi. Celakanya di banyak kasus, pasien justru menilai kinerja dokter dari keterampilan mengelola emosinya tersebut.

Saya pernah mempunyai pengalaman mengantar ibu saya berobat ke dokter jantung langganan. Berkali-kali kontrol ke sana ibu saya selalu merasa puas dengan pelayanan dokternya. Tapi, ada istilah sepandai-pandai tupai melompat, akan jatuh juga. Sebaik-baiknya dokter, akan ada lelahnya juga. Hingga pada suatu waktu kembali mengantar ibu ke sana, dokter menganjurkan agar ibu saya menjalani tindakan kateterisasi jantung.

Mungkin bagi seorang dokter jantung, tindakan tersebut biasa saja. Tapi buat ibu saya, itu hal yang cukup menakutkan. Sayangnya dokter menyampaikan hal itu tanpa sama sekali melihat ibu saya. Bahkan agak terburu-buru sambil menunduk menuliskan resep. Saya tahu ibu saya kecewa sekali pada waktu itu.

Sepanjang perjalanan pulang yang biasanya ramai ibu saya bercerita, kali ini dia diam saja. Sebelum pulang dari RS saya sempat melirik jumlah antrean pasien dokter jantung itu, di angka ratusan masih menunggu. Entahlah tiba-tiba saya malah jatuh kasihan juga ke dia. Perjalanannya menghabiskan sore itu pastilah tidak mudah bukan?

Mulai Dipikirkan

Beberapa bulan terakhir cukup hangat menjadi bahan diskusi tentang monoloyalitas praktik dokter di beberapa grup profesi. Jadi biarpun praktik dokter maksimal di tiga tempat itu dilindungi oleh UU, banyak yang berpendapat sebaiknya mulai dipikirkan dokter berpraktik cukup di satu tempat saja. Selain menghindari kelelahan berlebihan, diharapkan agar dokter mempunyai cukup waktu luang untuk keluarga dan kebahagiaannya sendiri.

Ada sebuah buku yang menggambarkan keadaan ini. Sebuah memoar kisah nyata yang ditulis Paul Kalanithi seorang dokter bedah saraf yang berjuang melawan kanker paru-paru yang dideritanya, berjudul When Breath Becomes Air. Paul menuliskan: Aku mengenal dunia kedokteran hanya melalui ketidakhadirannya.Secara spesifik ketidakhadiran ayahnya yang juga seorang dokter membersamai Paul kecil menghabiskan waktu hingga remaja. Sangat menyentuh karena pada akhirnya Paul pun harus kalah melawan penyakitnya.

Sekarang ketika kesadaran para dokter untuk mulai membatasi jam kerjanya dengan harapan agar pelayanan medis yang diberikan ke pasien menjadi lebih baik. Pasien juga akan lebih puas dilayani oleh dokter-dokter yang bahagia. Pertanyaan selanjutnya, apakah dengan monoloyalitas atau berpraktik di satu tempat saja kemudian kesejahteraan dokter beserta "ongkos sosial"-nya tadi bisa dipenuhi?

Saya tidak akan bicara gaji atau take home pay rata-rata dokter Indonesia. Sebagai gambaran saja, saya seorang dokter dan kepala puskesmas di salah satu kabupaten provinsi Jawa Tengah. Tapi saya merasa masih sangat membutuhkan membuka praktik sore hampir setiap hari. Saya hanya berharap anak saya kelak tidak lagi mengenal dunia kedokteran melalui "ketidakhadiran ibunya". Itu saja.

Puspa Ayu Lestari dokter umum dan kepala puskesmas

Simak juga 'Kemenkes Bicara soal WHO Sebut Akhir Pandemi Covid-19 di Depan Mata':

[Gambas:Video 20detik]



(mmu/mmu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT