Mewujudkan Keadilan Ekologis

ADVERTISEMENT

Kolom

Mewujudkan Keadilan Ekologis

Agustian Ganda Putra Sihombing - detikNews
Senin, 26 Sep 2022 14:57 WIB
Mewujudkan Keadilan Ekologis
Agustian Ganda Putra Sihombing (Foto: dok. pribadi)
Jakarta -

Sikap manusia yang egois terhadap lingkungan sekitar tampak semakin parah. Terutama, setelah kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan yang memantik antroposentrisme akut. Kebutuhan dan hasrat manusia ditonjolkan, sementara hak lingkungan untuk berkembang, bertumbuh, dan lestari ditekan.

Atas argumen tersebut, dapat dibayangkan bahwa lingkungan akan berseru kepada manusia: Kalian berlaku tidak adil. Hanya menyedot. Tapi tidak mau membarui, memperbaiki, dan mengusahakan kesehatan bagi kami. Barangkali terkesan dramatis. Tapi, jika pernyataan itu direnungkan secara dalam, kita bisa merasakan suatu ketidakadilan terjadi di antara manusia dan alam semesta.

Hidup dalam Persaingan

Kalau kita berani untuk terbuka di hadapan alam semesta, salah satu faktor pemicu semakin kuatnya ketidakadilan adalah manusia hidup dalam persaingan yang tak putus-putus. Sejak majunya mobilitas lewat industrialisasi, manusia makin gencar menciptakan alat-alat yang diharapkan membantu pekerjaan. Bahkan, manusia berharap untuk mendapatkan hasil yang memuaskan dari situ.

Atas nama kepentingan ekonomi, manusia giat mencipta, mengembangkan, menguji, dan memakai mesin-mesin dan industri yang memiliki efek samping terhadap lingkungan. Semakin mesin-mesin tercipta secara mutakhir, semakin jauh jurang pemisah persaingan.

Selain itu, tanpa memikirkan efek ke masa depan, manusia tetap saja ingin bersaing. Manusia secara perlahan-lahan memu(s)nahkan ragam kekayaan unsur biologis alam semesta. Hal ini terjadi karena banyak dari hasil ciptaan ide dan tangan manusia yang tidak ramah lingkungan dan tidak ekologis.

Alam semesta dan makhluk lemah di dalamnya pasti menjadi pihak yang dirugikan. Tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka mencoba untuk menyelamatkan diri dari efek persaingan. Untung-untung ada yang bisa bertahan dan berkembang biak demi kelangsungan rantai generasi. Tapi, tidak sedikit pula yang kehidupannya terancam punah dan sirna.

Mimpi Bumi

Sebenarnya, bumi yang saat ini sedang kita huni --menjadi rumah bersama (our common home)-- memiliki mimpi yang sangat mengharukan. Hal ini diutarakan oleh Thomas Berry dalam tulisannya berjudul The Dream of Earth. Thomas menguraikan bahwa saat ini kita sungguh membutuhkan bimbingan rohani (spiritual direction), bahwa kita sesungguhnya merupakan bagian tak terpisahkan (integral) dari komunitas bumi.

Mestinya kita sungguh menyadari bahwa semua kehidupan ini terajut dalam jaringan komunitas kehidupan. Hidup di bumi berada dalam dukungan semua "warga komunitas kehidupan". Tidak ada yang terpisah dan dapat hidup sendiri. Kesulitan yang kita rasakan adalah kita tidak mampu untuk bangun dan keluar dari patologi menyesatkan yang menghipnotis kita untuk nyaman merusak atau menelantarkan bumi.

Kita begitu asyik dengan mesin, industri, limbah, dan teori kenikmatan yang membuat bumi dan alam semesta menangis. Kita akhirnya menjadi autis dan keadaan demikian telah berlangsung selama berabad-abad. Walau sudah ada terdengar suara untuk memberi perhatian dan menanggapi kebutuhan bumi lewat menghentikan ketidakadilan, kita cenderung mengabaikannya.

Kegagalan tersebut menyebabkan penjarahan planet bumi tanpa menyadari keadilan ekologis. Kita membutuhkan sebuah spiritualitas yang membarui pemahaman kita tentang alam semesta bagaimana alam menjadi ada dan apa saja urutan transformasi yang telah dilaluinya.

Ide yang sama sungguh ditekankan oleh Paus Fransiskus dalam ensiklik Laudato Si'. Sri Paus mengajak semua orang untuk secara sadar merawat bumi sebagai rumah bersama. Segala unsur dan makhluk hidup yang ada di dalamnya tidak independen, tetapi berada dalam jaringan yang saling berhubungan walau belum bisa kita identifikasi dan pahami secara tuntas. Setiap unsur dalam dirinya (in se) memiliki hak untuk mendapatkan proporsi keadilan yang perlu dihormati oleh manusia.

Hidup secara Arif

Memang, kita akan berhadapan dengan situasi yang sungguh dilematis. Apakah kita harus mengabaikan perkembangan industri dan lalu menganggapnya sebagai sesuatu yang merusak? Atau, apakah kita lebih memilih untuk hidup dalam paham konservatif yang mempertahankan sistem tradisional asal bumi selamat?

Kita perlu hidup secara arif. Jika dihadapkan dengan situasi zaman yang kian berkembang dan maju, kita tidak bisa tutup mata dan bahkan menolaknya. Bagaimana pun kita harus ikut kemajuan zaman. Karena, kemajuan zaman dan teknologi merupakan bagian dari kelanjutan kemajuan alam semesta. Hanya saja, kita perlu mempertimbangkan hal-hal etis dan ekologis.

Bumi dan segala isinya --yang berada di luar manusia-- perlu dihargai demi norma dasar etika. Yaitu, semua anggota komunitas bumi harus mencapai kesejahteraan dan keadilan. Itulah poin pentingnya, yakni keadilan ekologis. Bahwa, setiap komponen kehidupan memiliki porsi seturut hakikatnya untuk hidup saling mendukung di tengah realitas bahwa ada komponen yang bisa diperbarui, tetapi ada juga komponen yang sudah terancam punah.

Keadilan ekologis juga mempunyai dimensi yang lalu, sekarang, dan akan datang. Tetapi, ketiga dimensi itu ditentukan pada masa sekarang. Untuk itu, seseorang harus berpikir matang dan arif sebelum memutuskan untuk bertindak. Jangan sampai potensi-potensi yang masih bisa berkembang di bumi menjadi musnah dan punah.

Relasi manusia dan bumi bersifat eksistensial. Manusia hanya ada dalam lingkungan (Umwelt) dan manusialah yang membuat lingkungan menjadi manusiawi dan sungguh hidup (Lebenswelt). Hubungan eksistensial ini akan menuntun manusia untuk memelihara keadilan di dalam bumi ini. Hal ini pula ingin mendongkrak kualitas hidup kita untuk semakin peduli pada realitas yang tengah dirasakan oleh bumi.

Kita perlu bergerak maju (move on) dalam akselerasi yang tak mengenal lelah untuk bergerak dari spiritualitas yang mengasingkan diri terhadap alam kepada spiritualitas yang akrab dengan alam. Jika standar keadilan ekologis dapat berjalan dengan baik dan konsisten, niscaya keseimbangan ekologis akan menyusul. Hal ini bukan harapan utopis dan ilusi semata, tapi menjadi pekerjaan rumah manusia yang punya potensi dan kapasitas untuk bertindak demi bumi, masa depan, dan sesama ciptaan. Sic fiat!

Agustian Ganda Putra Sihombing OFMCap mahasiswa Magister Filsafat Konsentrasi Etika Moral Universitas Katolik Santo Thomas Sumatera Utara, biarawan Ordo Kapusin Provinsi Medan (OKPM)

(mmu/mmu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT