ADVERTISEMENT

Jeda

Menolak Perintah dan Menjaga Jarak

Zam Zam Muhammad Fuad - detikNews
Minggu, 25 Sep 2022 11:14 WIB
Menolak Perintah dan Menjaga Jarak
Jakarta -

"Siap salah, Ndan!"

Sebegitunya sikap seorang anak buah kepada atasannya. Ia rela melakukan apa saja demi membuktikan kesetiaan. Bahkan demi atasannya, acap anak buah bertindak di luar batas kemanusiaan, seperti menembak mati sahabatnya, menyembunyikan dan merusak barang bukti. Anda tahu kan, saya sedang membicarakan apa?

Di antara kita tentu ada yang bertanya, kok bisa sih anak buah semenurut itu? Emang tidak bisa ya menolak perintah atasan?

Dalam dunia kerja, terlebih birokrasi, apalagi kemiliteran, menolak perintah memang tidak mudah. Soalnya, birokrasi itu tersusun dari struktur hierarki yang kaku. Biasanya, yang boleh mengambil keputusan adalah yang duduk di tangga hierarki atas. Bawahan cuma melaksanakan perintah saja.

Kalau mau bicara ideal, sekalipun sebagai bawahan, tetap saja tidak boleh melakukan perbuatan melanggar hukum. Sebab dalam struktur birokrasi pun ada SOP dan aturan yang membatasi kewenangan seseorang.

Tapi ini Indonesia lho. Budayanya masih setengah feodal. Dalam kultur feodal, hukum atau SOP kurang menjadi pedoman. Yang lebih dianut adalah perintah atasan. Hukum menjelma menjadi atasan itu sendiri. Jadi menolak perintah atasan adalah tindakan melawan hukum atau bahkan pemberontakan.

Petugas yang berani menolak perintah berisiko kehilangan pekerjaan atau jabatan. Bahkan kalau atasannya psikopat, nyawa juga bisa melayang. Kalau nurut selamat, kalau melawan kiamat.

Prinsip Umum

Dalam dunia kerja, mau PNS atau swasta, ada prinsip umum: kalau mau hidup enak, jadilah atasan, minimal mendekatlah pada atasan. Terkait hal ini, ada ungkapan Jawa adoh ratu, cedak watu. Artinya, kalau Anda dekat dengan atasan, hidup Anda akan enak, kecipratan fasilitas-fasilitas istimewa. Tapi kalau Anda menjauhi atasan atau bahkan melawan, Anda harus rela disingkirkan.

Maka jangan heran kalau di dunia kerja banyak orang yang lihai menjilat atasan. Bagaimana lagi. Sifat dasar manusia memang maunya hidup enak. Bahkan orang yang memilih hidup susah pun yakin pada adagium "akan indah pada waktunya". Nah, hidup enak juga kan ujung-ujungnya.

Tapi please deh! Ngono yo ngono ning ojo ngono. Maksud saya, walaupun pada dasarnya manusia maunya hidup enak, jangan sampai menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kenikmatan dunia. Kita tetap harus menjaga kewarasan dan tetap mengedepankan virtue atau nilai-nilai kebaikan. Biarpun setia pada atasan, ya jangan mau kalau disuruh terjun ke jurang.

Kita harus selalu ingat bahwa atasan bukanlah malaikat. Ia juga manusia biasa yang berpotensi menjerumuskan. Bahkan semakin posisinya tinggi, semakin berpeluang ia menjadi orang jahat. Itu bukan saya yang bilang ya.

Seorang sejarawan cum politisi Inggris, Lord Acton pernah berujar: power tends to corrupt, absolute power corrupts absolutely, yang artinya kekuasaan itu jahat. Semakin seorang berkuasa, jelas semakin jahat.

Ada sebuah film yang bagus sekali membahas relasi antara kekuasaan dan kejahatan, yaitu Lord of The Ring. Dikisahkan ada sebuah cincin yang bisa membuat pemakainya memiliki kekuatan super. Tapi, sekalinya cincin itu dipakai, ia akan menjadi amat jahat. Nah, begitulah kekuasaan.

Seturut dengan logika itu, atasan jelas punya kecenderungan untuk berbuat jahat. Semakin ia berkuasa, potensi jahatnya semakin menjadi-jadi. Ini penting kita pahami sedari awal agar kita bisa jaga jarak. Sehingga, ketika ada perintah yang melawan hukum atau virtue, kita bisa menolak tanpa diganduli perasaan "kagak enak hati".

Selain itu, jangan dikira kalau sudah dekat dengan atasan, Anda akan selalu mendapat perlindungan. Mari melakukan eksperimen pikiran. Misal, kalau Anda disuruh jadi kurir uang korupsi, lalu kena OTT KPK, apakah Anda akan dilindungi? Jangan harap!

Orang itu kalau sudah berkuasa, bakal susah melepaskan kekuasaannya. Dengan segala cara ia akan melindungi kekuasaannya. Termasuk mengorbankan anak buahnya.

Dalam film Lord of The Ring, ada satu adegan saat Sam menghalau Frodo yang sedang ingin menggunakan cincin sakti itu. Tidak mau dihalangi, Frodo marah sambil menghunus pedang kepada Sam, yang notabene adalah sahabat karibnya sendiri.

Kekuasaan

Itulah kekuasaan. Ia bisa membuat orang jadi buta demi meraih dan mempertahankan kekuasaan. Tidak peduli teman, sahabat, ajudan, saudara, kalau berani mengganggu kekuasaan, ya disikat.

Ada satu cerita dari Romawi. Syahdan ada orang bernama Caligula yang ngebet menjadi kaisar. Oleh karena itu, ia berencana mengudeta penguasa saat itu, Kaisar Tiberius. Namun Caligula sadar kalau kekuatannya terbatas. Kemudian ia meminta bantuan saudaranya bernama Marco untuk menggulingkan Tiberius. Konspirasi jahat itu berhasil. Tiberius mati diracun. Singkat cerita, Caligula diangkat menjadi Kaisar. Lalu Marco dapat apa? Tidak dapat apa-apa. Sebab ia kemudian dibunuh Caligula. Tragis!

Di Indonesia juga banyak kasus serupa. Kalau tidak percaya silakan googling sendiri dengan memasukkan kata kunci "ajudan ditangkap KPK". Niscaya Google akan membeberkan nasib orang-orang yang selalu menuruti perintah atasan atau tidak mengambil sikap hati-hati pada atasan.

Jadi, ada baiknya juga menjaga jarak dengan atasan. Jangan pula menjadi seorang yes man atau yes women. Ingat, kekuasaan yang dimiliki atasan cenderung menjadikannya orang jahat. Kalau kita salah langkah, bisa-bisa malah kita dijadikan tameng untuk menutupi kejahatannya.

Dan, terkait hal ini, ada peribahasa Jawa yang pas sekali untuk dijadikan renungan: ojo cedhak kebo gupak. Jangan dekati kerbau kotor, kalau tidak mau ikut kotor.

Zamzam Muhammad Fuad pengelola Perpustakaan Lentera Cendekia, Yogyakarta

(mmu/mmu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT