ADVERTISEMENT

Kolom

Media Sosial, Parenting, dan Kegelisahan Orangtua

Nailul Fauziyah - detikNews
Rabu, 21 Sep 2022 10:35 WIB
Gaya Parenting Orang Tua di Jepang yang Bisa Dicontoh, Pahami Emosi Salah Satunya
Foto ilustrasi: Getty Images/staticnak1983
Jakarta -
Kemajuan teknologi yang memberikan banyak kemudahan untuk kehidupan manusia serta zaman yang semakin modern menyimpan sekelumit konflik bagi orangtua masa kini. Konflik dalam diri orangtua itu kemudian menjadi tekanan dalam diri, dan akhirnya mengorbankan anak sebagai penyeimbang harapan dan keinginan orangtua.

Anak merupakan anugerah terbesar bagi setiap orangtua. Orangtua akan memberikan seluruh perhatian dan keringatnya demi tumbuh kembang anaknya yang maksimal. Berkembangnya diri anak adalah kepuasan dan kebahagiaan bagi orangtua, terlebih jika perkembangan anak memperlihatkan kemajuan yang signifikan.

Saat ini banyak sekali kita temui di berbagai platform media sosial konten-konten yang berisi informasi parenting. Ini merupakan kemudahan bagi kebanyakan orangtua untuk belajar parenting, terlebih orangtua yang usia mereka merupakan bagian Gen Z atau Milenial yang aktif dalam menggunakan media sosial. Tetapi, ada sisi lain dari posting-an yang berkedok parenting padahal isinya pamer dari orangtua masa kini.

Alih-alih memberikan informasi atau sekadar berbagi cerita tentang perkembangan anak, justru menjadi ajang pamer kelebihan anak untuk sekadar memuaskan diri orangtua atas pujian dari sekitarnya. Begitu bangga dan bahagianya orangtua memperlihatkan keterampilan anak balitanya yang sudah pintar ini-itu. Alih-alih membagikan kebahagiaan atau sekadar berbagi kisah hidup keluarga, ternyata konten tadi mengandung racun bagi banyak orangtua di luaran sana.

Mengapa disebut racun? Mari kita bahas lebih dalam lagi.

Purwati, nama teman saya yang disamarkan, menceritakan betapa sedihnya ia ketika sang anak pada saat usia dua tahun masih belum bisa berbicara lancar. Ia mengaku mati-matian mencoba berbagai cara untuk senantiasa merangsang anaknya supaya bisa berbicara dengan lancar. Kebiasaan memberikan buku gambar dan mendongengkan anak di beberapa momen juga sudah ia lakukan. Namun hasilnya masih nihil.

Ia semakin meratapi sedihnya ketika melihat anak teman-temannya serta anak-anak para selebgram yang diikutinya dianggap pandai dan cakap di berbagai keterampilan serta mencapai tugas perkembangan dengan baik. Ia aktif melihat aktivitas teman-teman serta selebgram yang diikuti dan diidolakan melalui unggahan story di Instagram.

Pernah beberapa waktu, ia membentak anaknya karena sang anak tak mencapai target keterampilan yang diharapkannya. Namun, setelah membentak ia mengaku merasa bersalah dan memeluk erat anaknya. Tak hanya itu, ia sering kesal sendiri, tak puas dengan dirinya bahkan hidupnya.

Jika kita perhatikan, dinamika perubahan emosional psikis Purwati terjadi karena ekspektasinya terhadap perkembangan diri sang anak. Parameter yang digunakannya dalam mengukur perkembangan diri anak merujuk pada perkembangan anak orang lain. Tentu saja Purwati akan selalu merasa sedih dan kesal jika sang anak tidak mencapai perkembangan seperti anak teman atau selebgram yang diikutinya.

Kisah ini tentu tak hanya terjadi pada Purwati. Banyak orangtua yang juga senasib dengan Purwati. Beberapa siasat orangtua masa kini dalam menjembatani anak untuk mencapai perkembangan yang maksimal yaitu dengan memasukkan anaknya yang masih berusia satu atau dua tahun ke babyschool. Mungkin banyak orangtua yang menyekolahkan anak dengan maksud menitipkan sembari dirinya bekerja, namun ada harapan orangtua yang diharapkan di balik itu, yaitu "anakku menjadi pintar dan mampu dalam berbagai keterampilan".

Tak sedikit orangtua yang memutuskan menyekolahkan anaknya dari sejak usia bayi. Dari kalangan orang biasa, selebgram, hingga artis ternama pun turut menyekolahkan anaknya yang masih usia sangat dini. Sebetulnya, orangtua di era modern ini tidak tertinggal dari literasi parenting.

Bahkan kelebihan orangtua masa kini adalah mereka sangat kreatif dalam memberikan pendidikan serta pola pengasuhan terhadap anak. Seperti pentingnya mendampingi anak saat berlatih motorik halus, orangtua saat ini sudah sangat kreatif dengan menyediakan berbagai media untuk membantu anaknya mencapai perkembangan motorik halus. Atau juga memberikan pendidikan calistung (membaca, menulis, dan menghitung), orangtua masa kini sangat kreatif mencarikan media serta turut mendampingi anaknya dalam belajar.

Namun, orangtua masa kini dihadapkan dengan gencarnya media sosial. Banyak orangtua saat ini yang melek terhadap media sosial dan menjadikannya seperti santapan makanan, artinya seperti menjadi kebutuhan. Ketika orangtua lain mem-posting kegiatan atau perkembangan anaknya di media sosial, tidak menutup kemungkinan menjadi racun tersendiri bagi orangtua lain di luar sana.

Akhir dari tulisan ini, untuk para orangtua, kalian semua hebat dan telah melakukan yang terbaik. Anak kalian akan tumbuh dengan baik, sehat, dan bahagia jika kalian juga senantiasa baik, sehat, dan bahagia. Tak perlu risau dengan kelebihan perkembangan anak tetangga sebelah, teman dekat, saudara, atau bahkan selebgram/artis idola. Dan, tak perlu juga membanding-bandingkan satu anak dengan anak lainnya, terlebih membandingkan anak kalian dengan anak orang lain.

Segera sadarkan diri bahwa kalian terkontaminasi racun-racun dari berbagai posting-an tentang perkembangan anak lain di media sosial atau dari lingkungan sekitar kalian. Anak kalian juga memiliki kelebihan yang mungkin tidak tampak saat ini. Jika kalian sudah berusaha sebaik mungkin dalam mendampingi tumbuh kembang anak, kalian sudah melakukan tugas kalian dengan baik. Jika hasilnya tak sesuai dengan harapan, bersabarlah. Anak kalian sedang betul-betul berusaha mencapainya, namun tidak dalam waktu cepat.

Nailul Fauziyah dosen Bimbingan dan Konseling UNIPAR Jember
Simak juga 'Semua Anak Berhak Cerdas':

(mmu/mmu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT