ADVERTISEMENT

Kolom

Membayangkan Kolaborasi Perkeretaapian

Ananda Putri Sujatmiko - detikNews
Selasa, 20 Sep 2022 11:00 WIB
Sejak pemerintah menetapkan harga baru BBM bersubsidi pada Sabtu (3/9), terpantau volume pelanggan Kereta Api Jarak Jauh mengalami peningkatan.
Foto ilustrasi: Dok. KAI
Jakarta -

Perjalanan di berbagai pelosok wilayah di Jepang membuat saya sadar betapa pentingnya moda transportasi massal yang menghubungkan berbagai wilayah rural hingga urban. Mulai dari utara Pulau Hokkaido, pulau utama Honshu, pulau selatan Kyushu, hingga pulau terluar Okinawa, tidak ada yang tidak terkoneksi dengan kereta. Lintasan kereta bawah laut juga sudah bukan barang baru sejak 1988. Hanya di sebagian kecil wilayah pulau dan pegunungan saja yang membutuhkan akses darat non kereta berupa mobil atau bus.

Meskipun kualitas stasiun desa dan kota di Jepang punya perbedaan yang signifikan, tapi interkoneksi antarwilayah tidak perlu dipertanyakan. Dengan demikian, pemerataan sumber-sumber ekonomi, jumlah sektor pariwisata, dan pembangunan bisa menjadi lebih terdistribusi dengan baik. Pengalaman ini membuat saya merefleksi kondisi Tanah Air tercinta.

Memang, pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung yang rangkaian keretanya baru saja tiba di Tanjung Priok awal September 2022 ini adalah upaya yang baik dalam mengubah citra transportasi Indonesia. Namun, mengingat pembangunan perlu diperluas ke luar Pulau jawa, masih banyak sekali sektor lain seperti pariwisata, baik di Jawa maupun luar pulau Jawa-Bali-NTB yang sulit dijangkau menggunakan transportasi umum dan tidak terkoneksi antarprovinsi.

Tidak hanya sektor wisata, kenyamanan perjalanan sehari-hari para pengguna KRL Commuter Line dari wilayah satelit ibu kota pun kerap terganggu, akibat terbatasnya jumlah KRL dan terbatasnya fasilitas stasiun yang belum mampu menampung kapasitas penumpang yang bertambah dari hari ke hari. Hal ini membuat optimalisasi value-added dan perluasan ripple-effect economy di banyak wilayah menjadi tersendat. Belum lagi masalah isu lingkungan dan jejak emisi karbon yang bertambah dari moda transportasi pribadi.

Kolaborasi Luar Biasa

Sementara perusahaan penyedia jasa kereta api di Indonesia hanya PT Kereta Api Indonesia (KAI), di Jepang penyedia jasa transportasi ini sangat bervariasi: mulai dari unit pemerintah yang terbesar dan sudah diprivatisasi yaitu Japan Railways, hingga perusahaan swasta seperti Tokyu Railway, Tobu, Seibu, Keisei, Keio, Yurikamome, Odakyu, Iyo, Hankyu, dan masih banyak lagi.

Memang, apabila rute perjalanan membutuhkan transfer antarkereta dari perusahaan yang berbeda, maka tarif yang berbeda juga akan dikenakan kembali kepada pelanggan (non-direct operation). Namun, yang mengagumkan, masing-masing penyedia jasa layanan ini bersedia untuk berkolaborasi dan "berintegrasi" dalam hal jalur kereta, demi menghasilkan layanan yang seamless dan meningkatkan kenyamanan untuk setiap orang, seperti lansia, ibu hamil, orang tua dan balita, anak sekolah, dan para pekerja.

Tidak hanya itu, antarperusahaan penyedia jasa kereta bawah tanah misalnya, juga memiliki tarif yang hampir sama. Meskipun berbeda besarannya, kualitas fitur utama stasiun dan peron pun juga sama-sama nyaman: punya toilet yang bersih, konter informasi yang ramah, minimarket, jarak yang dekat antara kereta dan peron yang ramah kereta bayi, lansia, serta selalu tersedia vending machine.

Pengguna bahkan bisa jadi tidak ngeh kalau naik kereta dari perusahaan yang berbeda. Kebanyakan baru akan sadar ketika harus tap kartu lagi atau beli tiket yang berbeda. Pengelompokkan 47 prefektur (di Indonesia disebut dengan provinsi) Jepang dalam 8 regions yang didasarkan pada jejak sejarah dan letak geografis juga ternyata membawa keuntungan dari kolaborasi nyata di bidang transportasi.

Dalam berwisata misalnya, perusahaan Japan Railways menyediakan pass dengan harga yang terjangkau untuk berpetualang ke beberapa prefektur dalam regions tersebut. Hal ini memudahkan pengguna untuk mengeksplorasi dan berpindah dari satu prefektur ke prefektur lainnya dengan cepat, hemat, dan nyaman. Karena koneksi tersebut, maka antarprefektur jadi terasa semakin dekat untuk saling berkolaborasi dan bersama-sama membangun wilayahnya, sehingga tidak ada yang tertinggal.

Belum lagi ketika bicara kerja sama antarpemerintah daerah prefektur yang juga erat di berbagai bidang. Tidak hanya itu, dari aspek model bisnis, tingginya jumlah transaksi pengguna kereta api di Jepang --31% penumpang kereta di dunia ada di Jepang (JR East Company, 2022)-- membuat Japan Railways yang awalnya fokus pada sektor transportasi telah memperluas sektor bisnisnya ke beberapa sektor seperti fintech dan sektor gaya hidup (minimarket, hotel, pusat perbelanjaan, bisnis retail).

Potensi Perluasan Kereta Api

Ditjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan sebenarnya sudah menyusun Rencana Induk Perkeretaapian Nasional (RIPN) 2030. Dalam dokumen tersebut, peta rencana jaringan dan prediksi pola perjalanan penumpang dan barang di wilayah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua, Madura, Bali, dan Batam telah tergambarkan. Harapannya, pada 2030 akan terbangun jaringan kereta api sepanjang 12.100 km di seluruh Indonesia.

Meskipun angka ini terbilang cukup luas, namun tampaknya masih kurang dari luas jaringan kereta api Jepang yang seluas 20.000 km di atas negara yang luasnya sedikit lebih kecil dari pulau Sumatera tersebut, dan melayani penduduk yang jauh lebih sedikit dari Indonesia. Walau demikian, setidaknya ada secercah harapan adanya moda transportasi massal yang murah, nyaman, dan aman antarprovinsi di Indonesia.

Sektor kereta api sebenarnya adalah sektor potensial bagi wilayah yang padat penduduk. Apabila Jepang yang saat ini mengalami penurunan populasi dan aging society tetap mampu meraih pendapatan yang besar, maka besaran potensi ekonomi dari perluasan akses perkeretaapian di Indonesia perlu dikalkulasi kembali, mengingat jumlah penduduk Indonesia diprediksi akan terus meningkat setidaknya hingga 2035-2040 (Statista, 2022; UNFPA, 2014).

Belum lagi dampak intangible seperti perubahan gaya hidup masyarakat yang akan lebih disiplin dan menghargai fasilitas serta transportasi umum. Siapa yang bisa membayangkan, ke depan akan lahir banyak potensi pariwisata terbaru di wilayah yang belum banyak tereksplorasi di Indonesia, melahirkan sumber ekonomi baru, serta akselerasi perluasan pembangunan karena adanya jalur kereta api yang mudah diakses?

Eksplorasi jejak sejarah, air terjun, museum, gaya hidup, dan wisata alam yang menjadi bagian mendarah dari Indonesia akan menjadi lebih menyenangkan tanpa memakan biaya mahal dan meninggalkan banyak jejak emisi karbon.

Ananda Putri Sujatmiko pelajar Master Course di National Graduate Institute for Policy Studies (GRIPS) Tokyo, Jepang

(mmu/mmu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT