ADVERTISEMENT

Obituarium

Azyumardi Azra Sang Pencerah Bangsa

Abdul Gaffar - detikNews
Senin, 19 Sep 2022 15:10 WIB
Azyumardi Azra
Prof. Azyumardi Azra (Foto: Ari Saputra/detikcom)
Jakarta -

Bangsa sedang berduka cita yang sangat mendalam atas wafatnya sang cendekiawan; sejarawan muslim terkemuka di Tanah Air telah pergi meninggalkan dunia fana ini, Prof. Dr. Azyumardi Azra di Malaysia (18/9/2022). Sosok yang dikenal banyak "amal jariah gagasan" melalui segudang karya buku, artikel jurnal, artikel media massa. Ke depan beliau sudah tidak lagi menghias di belantara akademik maupun non akademik untuk memberikan pencerahan, tinggal amal-amal baik yang telah diwariskan untuk dikaji dan diamalkan.

Prof. Azyumardi Azra dikenal sebagai cendekiawan dan sejarawan muslim Indonesia yang memiliki kekhasan dalam menuangkan ide-ide brilian, utamanya mengurai sejarah Islam dunia, khususnya di Indonesia. Sangat wajar jika hasil dari pemikiran beliau acap menjadi referensi primer (rujukan utama) dari para akademisi berbagai jenjang baik yang berguru langsung maupun tidak langsung.

Bagi saya sendiri, Prof. Azra lebih dikenal sebagai sosok yang unik dan multi-talenta. Di samping menjadi sejarawan juga sebagai agamawan bahkan tidak jarang tampil sebagai pengamat politik baik di luar negeri maupun dalam negeri sebagai representasi tokoh yang sangat peka terhadap problem-problem kebangsaan.

Buah pikiran Prof. Azra dari sekian banyak pandangan, antara lain telah dituangkan melalui karya berjudul Konflik Baru Antar Peradaban: Globalisasi, Radikalisme, dan Pluralitas (2002), berhasil mengkritisi dinamika Islam di era kontemporer yang berbenturan langsung dengan modernisasi, globalisasi, liberalisasi, demokrasi, radikalisme, terorisme, nasionalisme, civil society, dan bahkan partai politik Islam. Menghadapi kecenderungan ini, cara yang paling mungkin untuk mencegah terjadinya clash of civilizations adalah melalui dialog antar peradaban-peradaban.

Selanjutnya, Islam Substantif: Agar Umat tidak Jadi Buih (2000), merekam jejak pandang Prof. Azra mengenai hubungan Islam dan politik. Dinamika pergumulan dan pergulatan liku-liku perubahan politik (umat Islam) dan Indonesia pra dan pasca tumbangnya rezim Soeharto, dipaparkan secara mendalam dan jernih. Bahkan lebih cenderung menyetujui dan memperbolehkan para pemeluk agama, termasuk juga kalangan muslim, membawa agama sebagai politik identitas pada konteks level political ethics.

Karakter konsep keislaman yang dikembangkan oleh mantan Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta ini, sebagai bentuk wawasan dan perilaku keislaman yang sangat mementingkan dimensi kesejarahan, apresiatif terhadap khazanah intelektual Islam dan berbagai dinamikanya, baik yang klasik maupun modern, pembentukan karakter dan sikap bagi bangsa.

Prof Azra dengan segala kecerdasan dan kepiawaiannya telah mampu mewariskan buah pikiran kepada umat Islam Indonesia, agar bisa mengenal ajaran Islam dengan konteks keindonesiaan. Tentu sosok pemikir yang sejajar dengan sederetan cendekiawan muslim seperti (almarhum) Cak Nur, Gus Dur, Syafi'i Maarif. Yaitu sama-sama suka mengambil jalan kontroversi dengan pertimbangan keumatan melalui proses dialog religius dan akulturasi budaya.

Intelektual Tercerahkan

Prof. Azra tergolong intelektual tercerahkan yang mencerahkan umat, sebagaimana didefinisikan oleh Ali Syari'ati, orang yang sadar akan keadaan manusia (human condition) di masanya serta setting kesejarahan dan kemasyarakatannya. Intelektual tercerahkan sebagai penerus serta pewaris Nabi Muhammad.

Tanggung jawab terbesar yang dimiliki intelektual tercerahkan ialah menentukan sebab-sebab sesungguhnya dari keterbelakangan umat, menemukan penyebab sebenarnya dari kebobrokan umat dalam lingkungannya yang kemudian dibawa ke arah yang berparadigma berperadaban dan berketuhanan secara inklusif (terbuka). Tentu, beberapa hal tersebut telah dilakukan oleh Prof. Azra di masa hidupnya.

Terlihat pada pemikiran keagamaan yang tergolong mutakhir tentang "moderasi agama", Prof. Azra mengatakan konsep keberagamaan di Indonesia sangat berbeda negara-negara lainnya, karena secara historis dalam pembentukan negara Indonesia sejak 17 Agustus 1945 sampai sekarang, moderasi itu kelihatan sekali dalam keberagamaan khususnya dalam hal ini Islam sebagai umat yang terbesar dan menerima Pancasila, empat prinsip dasar negara bangsa, UUD 1945, NKRI, Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika.

Prof. Azra menyandingkan moderasi beragama dengan Islam wasathiyah. Menurutnya, tradisi Islam wasathiyah di Indonesia terbentuk melalui proses sejarah yang panjang. Dimulai dengan proses Islamisasi tanpa perang yang dilakukan para ulama dengan corak inklusif, akomodatif, dan akulturatif terhadap budaya lokal. Tetapi, hal ini pada awalnya memicu gejala sinkretisme dengan kepercayaan dan pengamalan agama lokal (Azzumardi Azra, 2017).

Islam wasathiyah bagian dari reinkarnasi dari nilai rahmatan lil 'alamin. Dengannya, aktualisasi perdamaian akan tercapai tidak hanya bagi umat Islam Indonesia, akan tetapi juga dunia muslim secara keseluruhan sehingga akan selalu tampak sikap tawasuth (sikap pertengahan), tawazun (seimbang), ta'adul (sesuai), serta tasamuh (toleran).

Tentu bangsa berharap, akan ada penerus almarhum Prof. Azra sebagai intelektual tercerahkan masa kini yang dengan mengemban amanah pengarusutamaan revolusi pemikiran substantif, guna memberi sumbangsih pemikiran intelektual disertai gerakan sosial berdasarkan pada landasan-landasan keyakinan terdalam yang dilengkapi dengan sumber-sumber paling kaya untuk dijadikan sebuah pencerah dalam kehidupan umat di dunia akhirat serta mampu melaksanakannya dengan memberikan dan mengedepankan teladan. Amal baikmu tetap abadi di hati kami, selamat jalan sang pencerah bangsa!

Abdul Gaffar dosen IAI Al-Khairat Pamekasan

(mmu/mmu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT