ADVERTISEMENT

Kolom

Selamatkan Anak-anak Perempuan Kita

Fotarisman Zaluchu - detikNews
Jumat, 16 Sep 2022 11:06 WIB
ilustrasi kekerasan seksual
Foto ilustrasi: Getty Images/aldomurillo
Jakarta -

Kekerasan seksual masih terus menerus terjadi pada anak-anak perempuan muda kita. Ironisnya, kekerasan seksual tersebut kerap terjadi di lingkungan pendidikan dan keagamaan, dan dilakukan oleh orang yang memiliki otoritas lebih tinggi pada kehidupan perempuan tersebut. Penanganan yang sering tidak berjalan adil pada korban, pemulihan korban secara tidak paripurna, sering menyebabkan kasus-kasus seperti ini jarang terungkap.

Alhasil, kasus yang mencuat bak fenomena gunung es. Kasus yang tidak terungkap, terjadi sangat masif, jauh lebih banyak dari yang tercatat. Mengapa sulit membongkar kasus pelecehan pada perempuan di lembaga pendidikan dan lembaga keagamaan? Saya ingin menjelaskannya dengan mengungkapkan sebuah kisah yang disampaikan kepada saya oleh seorang perempuan, mengenai kehidupannya di masa lalu saat ia masih bersekolah di SMP. Perempuan ini dulunya suka bernyanyi. Ia berbakat yang cukup menonjol di antara teman-temannya. Sekolah pun mendukungnya dan meminta ia belajar olah vokal pada seorang guru musik.

Awalnya semua berjalan baik. Guru laki-laki tersebut memberikan pelajaran yang membuatnya bersemangat. Sampai pada suatu hari segalanya berubah. Pada hari itu, selesai belajar musik, guru laki-laki itu menarik tangannya. Guru laki-laki itu meminta agar ia dicium. Spontan ia marah, antara bingung dan marah. Ia keluar ruangan latihan. Di rumah, sambil menangis, ia menceritakan kejadian itu pada orangtuanya. Respons yang diterimanya jauh dari harapannya. Papanya meminta ia tidak berbicara kepada orang lain karena keluarga akan malu. Ibunya meminta ia mematuhi larangan Papanya. Maka hancurlah hatinya. Ia tidak tahu hendak mengadu kepada siapa.

Sejak itu ia menjadi pribadi yang berbeda. Perlahan dalam dirinya ada ketidaksukaan pada kenyataan yang dihadapinya. Ia merasa dilecehkan tanpa mampu membela diri. Ia merasa tidak ada yang peduli pada dirinya, seolah ia tak pantas menceritakan pengalaman yang baginya sangat menakutkan itu. Setiap kali ia melihat guru laki-laki itu, ia marah dan ingin menumpahkan emosinya. Tetapi tidak bisa. Lama kelamaan ia menjadi pribadi yang gampang tersinggung. Ia pun merasa orang lain hanya bersandiwara demi menutupi masalah yang menurutnya harus diselesaikan itu. Tidak puas dengan keadaan, ia mudah menutup hubungan dengan orang lain.

Kejadian di atas adalah sebuah kisah yang puluhan tahun kemudian baru diceritakannya secara terbuka kepada saya dalam situasi yang jauh berbeda. Ia jauh lebih siap, lebih terbuka dan mudah mengungkapkan isi hatinya. Namun pengalaman pahit dan mengerikan selama puluhan tahun lalu itu telah menghancurkan mentalnya, jatuh berkeping-keping. Ia sadar akan hal itu, maka ia memilih bercerita kepada saya.

Rawan dan Rentan

Perempuan muda rawan dilecehkan. Kita telah mendengar kisah pahit anak-anak Indonesia yang sangat belia, menjadi korban oleh guru atau dosennya. Dengan alasan apapun, entah itu belajar, mengantarkan nilai, bimbingan skripsi, diskusi, mereka rentan jadi korban pelaku-pelaku yang nuraninya entah diisi oleh apa. Minggu lalu saya mendengar ada seorang rohaniawan yang melecehkan anak bimbingannya yang sedang belajar teologi. Pelecehan terjadi justru dalam gedung kantor gereja. Ia mengadu kepada orangtuanya, tetapi kemudian masalah diselesaikan secara kekeluargaan.

Berapa banyak anak-anak perempuan muda kita, yang mengalami pelecehan di sekolah-sekolah dan lembaga keagamaan, yang seperti kisah yang saya ceritakan di atas, harus menahan beban batin? Berapa banyak mereka yang untuk berbicara pun dianggap haram karena akan memperburuk citra keluarga di mata publik, dan demi itu diminta diam meski hati mereka nestapa?

Sedih rasanya menyaksikan peristiwa demi peristiwa demikian semakin marak. Anak-anak perempuan kita menjadi objek pelecehan oleh oknum-oknum yang hatinya bagaikan serigala. Dampak pada mental anak-anak perempuan atas kejadian pahit yang dialaminya mungkin sudah kita ketahui; tapi dampak personalnya sering membuat kita abai. Masing-masing orang mungkin memiliki perbedaan kemampuan untuk mengelola depresi, kecemasan, traumanya.

Tetapi dampak ini bisa sebulan, bisa enam bulan, bahkan bisa bertahun-tahun dalam kehidupan setiap orang. Sudahlah kejadian yang memalukan terjadi atas tubuh mereka sendiri, dilarang pula berbicara oleh orang terdekatnya, beban itu tidak akan sama pada setiap perempuan muda, dan dampaknya pun tidak bisa begitu saja dideteksi. Maka persoalan kita bukan hanya mengetahui eskalasi kejadian ini di lembaga pendidikan dan lembaga keagamaan, tetapi juga melakukan pendampingan personal pada setiap anak-anak perempuan muda agar mereka berbicara dan mengalami pemulihan.

Pelecehan Kedua

Pembiaran kasus-kasus pelecehan seksual pada anak-anak perempuan ini, melalui penanganan yang tak berdampak positif, adalah pelecehan kedua. Setelah dilecehkan oleh pelaku, anak-anak perempuan muda kita sering mendapatkan pelecehan berjenjang oleh keluarga, masyarakat, bahkan negara. Mereka tidak mendapatkan layanan yang pantas dan nyaman, sehingga enggan berbicara terbuka.

Dalam kasus yang diceritakan kepada saya di atas tadi, kemarahan perempuan tersebut semakin membesar ketika ia tidak didengarkan. Mentalnya yang sudah tertekan karena perlakuan yang tidak dikehendakinya, semakin lebih tertekan lagi oleh respons keluarga, masyarakat, dan negara. Inilah yang membuat kehidupan anak-anak perempuan muda di masa depan, menjadi rusak, baik dalam relasi dengan dirinya sendiri, apalagi dengan orang lain.

Dalam konteks sosio-kultural, anak-anak perempuan muda ini berada pada posisi paling minoritas, karena selain perempuan, mereka pun korban pelecehan seksual. Mereka kerap dituding miring, bukan sebagai korban, tetapi justru menjadi pemicu. Maka mereka menjadi "tripple minoritas": perempuan, perempuan korban, dan perempuan yang tak boleh berbicara.

Anak-anak perempuan muda kita sudah saatnya kita didik untuk berbicara. Berbicara tentu memerlukan saluran. Maka tugas setiap lembaga pendidikan dan lembaga keagamaan untuk menciptakan semacam saluran berbicara ini. Jika ini dianggap tidak efektif, maka sudah saatnya pemerintah menciptakan pusat krisis di setiap kabupaten/kota atau provinsi, supaya anak-anak perempuan muda mau berbicara mengenai pengalaman buruk yang mereka hadapi, dan sekaligus melihat bagaimana respons pada setiap keluhan yang mereka alami.

Mental korban butuh ketenangan. Kalkulasi risiko pada pendidikan sering mencegah mereka untuk berbicara secara lugas dan terbuka. Karena itu pemerintah harus memiliki rencana kontingensi yang beragam, karena tidak setiap masalah bisa diselesaikan seragam. Pemerintah punya sumber daya melakukan hal ini melalui Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Kementerian Pendidikan, dan Kementerian Agama. Jika perempuan harus ditarik dari lembaga pendidikan, maka pemerintah harus menjamin anak-anak perempuan tersebut harus tetap bersekolah, apapun skemanya.

Mereka juga harus mendapatkan pendampingan yang memadai, sepanjang mereka masih merasa dalam jiwa bahwa masih ada sesuatu yang membutuhkan pertolongan. Anak-anak perempuan muda kita berada dalam keadaan darurat. Pemerintah jangan diam saja, dan membiarkan terjadinya pelecehan kedua pada mereka.

Fotarisman Zaluchu PhD dari AISSR, University of Amsterdam; pendiri Perkamen

Simak juga 'Terjadi Lagi! Aksi Pelecehan Seksual di TransJakarta':

[Gambas:Video 20detik]



(mmu/mmu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT