ADVERTISEMENT

Kolom

Memahami Cara Belajar Mahasiswa Gen Z

Ridwan Radief - detikNews
Selasa, 13 Sep 2022 14:18 WIB
Memahami Cara Belajar Mahasiswa Gen Z
M Ridwan Radief (Foto: dok. pribadi)
Jakarta -

Pengalaman pertama menjadi asisten dosen di perguruan tinggi, saya kaget membaca hasil evaluasi dosen yang ditulis mahasiswa di akhir semester. Sebagian besar mahasiswa mengoreksi bahwa saya tidak lucu dalam mengajar. Sebagian yang lain menulis, terlalu menegangkan. Inti pesannya, mahasiswa menginginkan proses belajar yang menyenangkan.

Kekagetan saya dengan hasil evaluasi dosen dilatarbelakangi perihal saya dan beberapa teman mahasiswa tidak pernah memikirkan hal demikian saat di bangku S1 pada 2012. Yang saya inginkan saat itu adalah bagaimana memahami substansi materi perkuliahan dengan cepat. Terserah dilakukan dengan cara penyampaian yang serius atau tidak. Bahkan, dulu saya memiliki dosen yang jarang tersenyum saat mengajar. Ia dikenal di kalangan mahasiswa sebagai dosen yang sangat menegangkan. Sedikit bicara dan cuek.

Namun, saya dan beberapa teman yang lain tidak pernah menginginkan ia melucu. Justru dalam suasana yang sepi dan menegangkan, saya merasa lebih fokus belajar. Tidak ada waktu mengutak-atik telepon genggam apalagi sampai berdiskusi saat jam kuliah. Saya benar-benar menyimak setiap materi yang disampaikan. Mungkin karena hal itu, saya kembali ke kampus untuk mengajar. Namun hari ini, proses belajar demikian ternyata tidak lagi dibutuhkan oleh sebagian mahasiswa.

Santai dan Tidak Kaku

Pada semester berikutnya, saya kembali ingin memastikan bahwa metode belajar yang santai dan humoris memang dibutuhkan mahasiswa generasi Z. Pada awal pertemuan semester baru, saya meminta kepada mahasiswa menulis apa yang menjadi harapan dari proses belajar ke depan. Ternyata benar, mahasiswa menginginkan proses belajar yang santai dan tidak kaku. Mereka berharap ada kunjungan lapangan, belajar di luar kelas, menyenangkan, tidak dibebani banyak tugas dan jauh dari kesan yang menegangkan.

Saya kemudian menyadari bahwa era disrupsi teknologi perlahan-lahan mengubah cara pandang anak-anak dalam proses belajar. Penetrasi teknologi telah berhasil membuat sebagian besar anak-anak merasa nyaman hidup berdampingan media sosial. Sehingga, mereka asing dengan hal-hal yang kaku dan membosankan.

Menurut George Beall di huffingtonspot.com, terdapat karakter yang mencolok dari generasi Z. Genarasi Z kurang fokus. Generasi Z lebih mudah untuk terganggu fokusnya dengan hal yang baru. Perpindahan antara satu hal dan hal lainnya sangat cepat. Oleh karena itu, produsen harus terus memberikan sesuatu yang baru atau mereka akan merasa bosan dan meninggalkannya.

Apalagi setelah dihantam gelombang Covid-19 dan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), interaksi dalam proses belajar via zoom meeting sangat minim. Keterbatasan jaringan dan kondisi geografis menyebabkan kelas menjadi sangat monoton. Tidak salah jika kemudian mahasiswa angkatan 2020 menginginkan proses belajar yang menyenangkan, dinamis, dan sedikit dibumbui jokes.

Lebih Dinamis

Akhirnya saya membuka diri mengajar dengan cara yang santai dan sedikit berkelakar. Meski berbeda dari karakter saya sehari-hari yang cenderung kaku dan tidak pandai melucu, saya berharap dengan cara demikian mahasiswa bisa lebih santai dan mudah menyerap ilmu pengetahuan. Alhasil, proses belajar lebih dinamis dari sebelumnya. Interaksi satu sama lain semakin hidup. Mahasiswa mudah melontarkan pertanyaan dan menjawab kuis-kuis dari dosen.

Mereka seperti tidak memiliki beban atau rasa khawatir jika pertanyaan atau jawaban yang disampaikan tidak relevan. Hal yang paling penting bagi saya, mereka mudah mengutarakan perasaan yang mengganggu sehingga terkesan para mahasiswa sedang melepaskan beban yang ia pikul selama proses belajar.

Saya akhirnya mengambil pelajaran, seorang guru ternyata tidak hanya hadir sebagai tenaga pengajar. Lebih dari itu, seorang guru dituntut mampu berempati dengan persoalan hidup anak-anak. Kita harus bisa menjadi orangtua di sekolah. Mendidik, menyayangi, dan mendekap anak-anak. Tali kasih harus selalu terhubung, entah berperan sebagai orangtua, sahabat, atau kawan. Pendidikan tidak seharusnya membebani mahasiswa tetapi menjadi ruang untuk bertukar pendapat, bertukar pengalaman, dan bertukar solusi dari problematika hidup bermasyarakat.

M Ridwan Radief ASN dan asisten dosen

(mmu/mmu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT