ADVERTISEMENT

Kolom

Pada Akhirnya Kita Akan Kembali ke Desa

Syaeful Cahyadi - detikNews
Selasa, 13 Sep 2022 11:28 WIB
Hamparan sawah di daerah Bali. dikhy sasra/ilustrasi/detikfoto
Foto ilustrasi: Dikhy Sasra
Jakarta -

Suatu kali saat sedang menelepon, ibu menyarankan agar orang di ujung telepon --yang dipanggilmya 'dik'-- agar pulang kampung. Usut punya usut, orang di ujung telepon itu adalah rekan masa kecil ibu yang dahulu sama-sama merantau ke ibu kota. Belum lama ini, si teman beserta suaminya terkena PHK dan keduanya kebingungan.

"Aku dulu juga cuma nekat pulang, ya akhirnya bisa bertahan, malahan lebih enak di sini kalau dipikir-pikir," lanjut ibu.

Selang dua bulan selepas percakapan itu, pasangan suami-istri beserta dua anaknya tadi akhirnya pulang kampung dan memulai usaha kecil-kecilan. Mereka, sama-sama buruh pabrik di ibu kota, akhirnya kembali ke desa setelah hampir 30 tahun merantau.

Kepulangan-kepulangan semacam itu adalah hal biasa di desa sekitar saya. Ada yang pulang dan memulai usaha baru di desa. Ada pula yang pulang sekadar demi bersanding nisan dengan orangtua dan saudara-saudaranya.

Pilihan Rumit

Menjelang usia 20-an, anak-anak muda di kebanyakan desa biasanya akan menghadapi dua pilihan rumit: tetap tinggal dan bekerja di desa atau merantau ke kota besar. Pilihan pertama akan membawa konsekuensi ke penghasilan dan hal-hal turunan lain. Toh, apa yang mau dilakukan di desa? Pilihan kerja terbatas, gaji rendah, dan dianggap tidak mau maju. Sementara pilihan kedua membawa banyak konsekuensi, dan biasanya berkorelasi pada anggapan lebih positif.

Akhirnya, menjelang usia dua dekade, kelompok anak-anak muda di desa akan berpisah. Sahabat sepermainan mereka mungkin akan pergi merantau dan hanya pulang setahun sekali, sementara sisanya akan bergelut dengan realitas pedesaan dengan segala keterbatasan di sana. Mereka yang tadinya sangat akrab bisa jadi akan terpisah sebuah dinding tebal, entah ekonomi ataupun strata sosial, setelah pilihan tadi diambil.

Anak-anak perantauan akhirnya sampai di kota. Mereka tumbuh dan berkembang di lingkungan baru, jauh lebih modern, megah, maju. Tidak dipungkiri bahwa ini bisa menjadi salah satu pintu masuk menuju kesuksesan. Bukankah banyak pengusaha sukses merintis karier setelah mereka merantau ke kota besar?

Namun, tidak sedikit pula anak-anak desa mengalami gegar budaya selepas menginjakkan kaki ke kota. Kisah Malin Kundang, si anak lupa ibunya, mungkin salah satu contoh paling legendaris tentang hal ini. Atau, guyonan di pedesaan Jawa tentang bagaimana orang-orang desa tidak mau lagi berbahasa Jawa saat di desa selepas berada di kota, walaupun aksen mereka masihlah sangat ndeso alias medhok. Coba ingat pula, setiap desa pasti punya cerita soal perantau yang tidak pernah mudik atau pulang kampung barang sekalipun setelah ia pergi.

Sama seperti kisah para perantau di kota, selepas ditinggalkan oleh anak-anak yang pernah ia besarkan, desa sejatinya mengalami aneka dinamika. Tidak sedikit desa susah maju karena hilangnya sumber daya manusia terutama anak-anak muda. Desa hanya menyisakan sedikit anak muda bersama orang-orang usia tua. Maka, mau apa? Perubahan macam apa yang diharapkan dari demografi macam itu?

Di kota, dinamika juga menghajar anak-anak desa yang baru saja menginjakkan kaki di sana. Ada banyak budaya baru, tuntutan baru, kemewahan baru, beberapa mungkin akan mendaku menemu kebahagiaan baru. Namun, di balik semua itu, anak-anak muda asal desa tadi sejatinya tidak pernah memiliki akar budaya di kota. Kota tetap tidak mampu menghadirkan kenangan masa kecil dengan segala keluguan dan kepolosan mereka di masa lalu.

Akar mereka tetap saja berada ribuan kilometer jauhnya. Di sebuah tempat, yang mungkin, sedang terlupakan perlahan-lahan. Setinggi apapun gedung di kota, anak-anak desa tetap tidak bisa melihat desa dan orangtuanya. Mereka tetap harus pulang demi dua kemewahan sederhana itu. Di satu sisi, momen pulang ke desa sejatinya memuat hal rumit sekaligus personal.

Dahulu, desa boleh saja ditinggalkan anak-anak terbaiknya. Namun, desa tidak pernah menganggap itu sebagai pengkhianatan atau kedurhakaan. Desa tetap akan menerima anaknya untuk pulang. Entah untuk sesaat ataupun selamanya.

Desa tidak akan protes misal anaknya pulang hanya setahun sekali ketika lebaran. Desa juga tidak akan sakit hati jika anaknya hanya pulang demi menjual tanah warisan lalu pergi lagi. Ia tidak akan berkecil hati jua tatkala si anak merasa jijik tatkala melihat lumpur atau jalanan becek dan merasa dirinya sudah berjarak dengan kenyataan semacam itu.

Apakah gambaran di atas sekadar kiasan?

Menata Kembali Kehidupan

Sepasang suami-istri tadi, singkat kata, tidak perlu waktu lama untuk menata kembali kehidupan selepas PHK. Para tetangga secara tidak langsung turut membantu keduanya bangkit. Si suami sering diajak kerja oleh tetangga-tetangga lain. Ketika sang istri membuka usaha berjualan, para tetangga turut membeli dengan motivasi membantu, tanpa memikirkan lengkap tidaknya dagangan di warung tersebut ataupun harganya.

Desa, beserta manusianya, mungkin tidak pernah menaruh pertimbangan materialistis atas hal-hal macam itu. Misalnya, tidak pernah desa bertanya, "Dulu ketika sukses merantau kamu sudah memberi apa untuk desa ini sehingga sekarang kami harus membantumu ketika susah?"

Di desa saya, bahkan acap warga turut membantu membuatkan makam bagi perantau yang sudah puluhan tahun pergi. Warga hanya tahu yang meninggal adalah "anaknya simbah A, B, C" itu pun hanya beberapa orangtua saja. Kebanyakan warga lain hanya akan menimpali dengan, "Oh, yang tinggal di kota A itu." Rasanya, tidak ada pikiran bahwa si A bukanlah warga desa dan kami tidak perlu membantu karena tidak pernah ada interaksi dengannya.

Berkaca dari hal-hal semacam itu, jika saja boleh digambarkan secara dramatis, desa adalah sebuah tempat yang akan menerima apapun keadaannya, beserta orang-orangnya, dengan tangan terbuka. Mungkin ini bisa terdengar positif, walaupun juga kadang banyak pula sisi negatifnya. Desa, agaknya, akan lebih mempermasalahkan saat seorang pemuda enggan bersosialisasi dibandingkan saat seorang pemuda pintar enggan membagikan ilmunya untuk kemajuan warga. Desa agaknya juga tidak akan mengeluarkan suara miring tatkala seorang warganya menjual sawah warisan habis-habisan dan kelak akan dibangun perumahan.

Yang mungkin tidak desa sadari, dia adalah sebuah magnet kuat bagi manusia-manusia modern saat sudah lelah dengan segala hiruk pikuk kemajuan. Mari kita lihat hari ini, ke mana orang-orang kota pada akhirnya memilih hunian ideal dan dianggap sehat lingkungannya? Ke mana pula kelas menengah perkotaan mencari udara segar sekadar demi cuci mata? Bahkan, jika boleh mengatakan secara dramatis, negara ini saja memilih ibu kota baru di sebuah desa pedalaman Kalimantan.

Semua itu bisa saja ditelisik lewat alasan ekologis. Bahwa desa masih memiliki lahan terbuka yang melimpah dan bisa diubah sesuai kebutuhan --tentu saja bukan kebutuhan warga desa. Tentu sebuah kekonyolan dan kemustahilan jika hal tersebut dibalik, misalnya menggusur pemukiman di sebuah kota demi menciptakan sawah.

Tujuan Pulang Paripurna

Kala merangkai catatan ini, saya teringat aneka percakapan dengan rekan-rekan saya yang dahulu memutuskan merantau. Mereka pasti menyelipkan satu pesan kuat tentang keinginan untuk pulang kampung. Entah untuk membuka usaha setelah punya cukup modal atau sekadar pulang dan mencari pekerjaan di desa demi kembali dekat dengan orangtua dan keluarga.

Dari kisah-kisah mereka sesungguhnya saya belajar betapa desa adalah sebuah tempat untuk kembali paling sempurna. Saat anak-anak rantau sudah bosan dengan hiruk pikuk kota, sepi desa akan menjadi tujuan pulang paripurna. Saat sebuah negara butuh tempat baru untuk pembangunan, desa juga salah satu tujuan pulang paling didamba.

Setelah semua yang terjadi, setelah semua yang terlewati, desa tetap akan menerima anak-anaknya kembali ke pangkuannya. Entah dengan segala kekayaan yang kapan saja bisa menjelma pisau bermata dua atau dengan segala kekalahan sepanjang jalan menuju pulang.

Simak juga 'Megawati Dorong Kader Perkuat Desa: Agar Gemah Ripah Loh Jinawi':

[Gambas:Video 20detik]



(mmu/mmu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT