ADVERTISEMENT

Kolom

Investasi di SBN Ritel, Apa Bisa Untung?

Aulia Maulidya - detikNews
Senin, 12 Sep 2022 11:30 WIB
Ilustrasi investasi
Ilustrasi: Shutterstock
Jakarta -

Saat ini investasi makin banyak digandrungi, terlebih bagi milenial yang makin melek literasi. Ditambah, perkembangan teknologi dan informasi yang cepat mempermudah kita untuk memilih ragam investasi. Tentunya, yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan selera risiko pribadi. Namun di lain sisi, gencarnya arus informasi dan perkembangan teknologi juga melahirkan banyak penipu investasi. Dengan iming-iming cuan tanpa henti, uang orang dibawa lari.

Poin penting dalam investasi adalah memilih instrumen yang aman dan menguntungkan. Pernah dengar istilah high risk high return? High risk high return merupakan prinsip investasi yang berarti di balik ekspektasi imbal hasil yang tinggi ada risiko yang tinggi pula. Jadi, jangan pernah percaya siapapun yang menawarkan imbal hasil fantastis tanpa risiko.

Untuk memilih investasi yang aman, hal yang perlu dilakukan pertama kali adalah memastikan investasi tersebut sudah mengantongi izin dari otoritas berwenang, seperti Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (BAPPEBTI), serta Kementerian Koperasi dan UKM.

Beberapa instrumen investasi yang dipersepsikan aman karena risikonya yang cenderung rendah antara lain emas, deposito, dan obligasi negara. Emas merupakan instrumen investasi yang banyak dilirik karena nilainya yang stabil. Harga emas cenderung naik dalam jangka menengah dan panjang, namun sangat fluktuatif dalam jangka pendek. Selain itu, investasi melalui emas juga memiliki daya tarik tersendiri karena nilai intrinsiknya yang lebih jelas dan dapat dimiliki secara fisik.

Namun di lain sisi, investasi emas memiliki risiko rusak atau hilang karena bentuknya yang berupa fisik, sehingga dapat mengurangi cuan. Sedangkan deposito merupakan tabungan berjangka, hampir mirip dengan tabungan biasa. Bedanya, deposito memiliki jatuh tempo dan tak bisa diambil sewaktu-waktu, namun disertai dengan tingkat suku bunga yang lebih tinggi dari pada tabungan biasa. Sementara obligasi negara, sesuai namanya, adalah surat utang yang diterbitkan oleh negara.

Alternatif Investasi

Pemerintah Republik Indonesia menerbitkan obligasi negara atau yang dikenal dengan Surat Berharga Negara (SBN) Ritel sebagai salah satu alternatif investasi masyarakat, khususnya Warga Negara Indonesia (WNI). SBN Ritel sudah tak perlu diragukan lagi keamanannya karena dijamin undang-undang. Selain itu, karena diterbitkan oleh negara yang hampir tak mungkin bangkrut, SBN Ritel menjadi instrumen yang bebas dari risiko gagal bayar.

Namun, seberapa cuan sih jika kita investasi di SBN Ritel? SBN Ritel menawarkan imbal hasil yang cukup kompetitif. Contohnya, Sukuk Ritel (SR) seri SR017 yang saat ini diterbitkan pemerintah dengan imbal hasil 5,90% per tahun. Sementara rata-rata suku bunga deposito 4 Bank BUMN (dengan nominal < Rp 100 juta selama 12 bulan) hanya sebesar 2,56%. Investor juga berpotensi mendapat keuntungan dari penjualan SBN Ritel berjenis Obligasi Negara Indonesia (ORI) dan SR di pasar sekunder (capital gain).

Selain itu, SBN Ritel berjenis Sukuk Tabungan (ST) dan Saving Bonds Retail (SBR) memiliki imbal hasil mengambang dengan batasan minimal (floating with floor). Artinya, imbal hasil yang ditawarkan akan disesuaikan dengan suku bunga acuan dari BI (BI 7 Day Reverse Repo) setiap 3 bulan sekali. Jika suku bunga acuan naik, maka imbal hasil SBR dan ST juga akan naik, begitu pula sebaliknya.

Namun, tak perlu khawatir karena tetap ada batasan minimal, sehingga imbal hasil yang didapat tidak akan lebih rendah dari pada tingkat imbalan yang pertama ditetapkan. Misalnya, SBR011 yang diterbitkan pada Juni lalu, ditawarkan dengan imbalan 5,5%. Jika pada September mendatang terdapat penurunan suku bunga acuan BI, imbalan SBR011 akan tetap berada pada tingkat 5,5% karena itu merupakan tingkat imbalan minimal.

Keuntungan lainnya, yaitu pengenaan pajak atas produk SBN Ritel lebih rendah dari pada pajak deposito. Imbal hasil SBN Ritel dipotong pajak 10% sementara pada deposito dikenakan pemotongan sebesar 20%. Selain itu, jika ingin mencairkan deposito lebih awal dari jatuh tempo, investor dikenakan denda. Sementara untuk produk SBN Ritel, investor dapat dengan mudah menjual produk SBN Ritel yang tradable (Obligasi Negara Indonesia/ORI dan SR) di pasar sekunder.

Bagi investor SBN Ritel non-tradable (SBR dan ST), pemerintah menyediakan fasilitas Early Redemption, yaitu pelunasan sebelum jatuh tempo tanpa dikenakan biaya. Dengan imbal hasil yang lebih tinggi dan pajak yang lebih rendah, serta kemudahan likuiditasnya, tentu SBN Ritel lebih cuan dibandingkan deposito. Namun bagaimana jika dibandingkan dengan saham?

Melihat Faktor Risiko

Beberapa investor pemula mungkin acap bimbang dalam memilih saham atau SBN ritel dalam portofolio mereka. Hal ini dikarenakan investor hanya berfokus pada ekspektasi imbal hasil tanpa melihat faktor risiko dan tujuan investasi. Padahal, SBN Ritel dan Saham adalah dua jenis instrumen yang sangat berbeda dari segi karakteristik, sehingga seyogianya ditujukan untuk kebutuhan investasi yang berbeda pula.

Kembali ke prinsip "high risk high return", keuntungan saham memang lebih tinggi dari pada imbal hasil pada SBN Ritel, namun hal tersebut dibarengi risiko yang tinggi pula. Pertama, risiko pasar saham sangat fluktuatif, terlebih di tengah ketidakpastian akibat pandemi dan eskalasi tekanan global. Hal ini membuat keuntungan investor dalam jangka pendek terbatas, bahkan berpotensi merugi jika tidak memantau pergerakan harga sepanjang waktu.

Kedua, keuntungan investasi saham berupa dividen juga tidak stabil dikarenakan sangat bergantung pada kinerja perusahaan. Artinya, jika perusahaan mencatat rugi, maka investor tidak akan mendapat dividen pada periode tersebut. Ketiga, perusahaan lebih berpotensi mengalami default sehingga meningkatkan risiko gagal bayar.

Berdasarkan karakteristik tersebut, saham merupakan pilihan yang tepat untuk investasi jangka panjang, berbeda dengan SBN Ritel yang memiliki tenor 2-3 tahun dan disertai kepastian imbal hasil. Hal lain yang membedakan SBN Ritel dengan instrumen investasi lainnya adalah fungsinya sebagai instrumen pembiayaan APBN.

Hasil penerbitan SBN Ritel digunakan untuk pembangunan, termasuk melalui akselerasi infrastruktur, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan belanja APBN lainnya yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan dan kesejahteraan masyarakat. Artinya, selain mendapat keuntungan dari hasil investasi SBN Ritel, investor juga telah berkontribusi untuk pembangunan negara. Partisipasi masyarakat (investor) dalam kelangsungan pembangunan negara menjadi suatu kebanggaan dan kebermaknaan tersendiri, yang tak ditemukan di instrumen lainnya.

Terlepas dari banyaknya ragam investasi beserta karakteristik, keuntungan dan risikonya, investor perlu melakukan diversifikasi portofolio, yaitu dengan menempatkan dana investasi pada berbagai instrumen yang berbeda. SBN Ritel ataupun saham, juga instrumen lain seperti reksadana, deposito, bahkan emas, masing-masing diperlukan untuk menjaga portofolio investor aman, dengan keuntungan dan risiko yang efisien. Jadi, apakah investasi di SBN Ritel bisa untung? Saya rasa kita semua tahu jawabannya.

(mmu/mmu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT