ADVERTISEMENT

Kolom

"Rezeki Nomplok" Pertumbuhan Ekonomi

Dwi Ardian - detikNews
Senin, 12 Sep 2022 10:21 WIB
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi.
Ilustrasi: dok. detikcom
Jakarta -
Ekonomi Indonesia pada triwulan kedua tahun 2022 cukup mengesankan dengan tumbuh menguat yang mencapai 5,44 persen secara year on year. Sebagaimana disampaikan oleh Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Margo Yuwono pada acara rilis berita resmi statistik (5/8). Pertumbuhan ini menjadi kejutan tersendiri bagi berbagai kalangan di tengah krisis global perang Rusia-Ukraina dan inflasi yang semakin tidak terkendali.

Menurut catatan yang disampaikan oleh Margo Yuwono, hal yang cukup signifikan mempengaruhi tumbuh menguatnya perekonomian Indonesia pada triwulan kedua 2022 adalah "windfall". Menurut kamus bahasa Inggris terjemahan Indonesia, windfall memiliki arti durian runtuh, bodol, dan rezeki nomplok. Rezeki nomplok yang diperoleh Indonesia pada triwulan kedua terutama berasal dari komoditas ekspor.

BPS mencatat bahwa pada triwulan kedua 2022 mitra dagang Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi yang positif, selain itu ada kenaikan harga cukup signifikan pada komoditas ekspor Indonesia di pasar global. Neraca perdagangan pada triwulan kedua 2022 mengalami surplus 15,55 miliar dolar AS atau meningkat sebesar 148,01 persen dibanding triwulan kedua 2021. Secara kuartalan juga meningkat sebesar 67,85 persen.

Struktur Perekonomian

Struktur perekonomian Indonesia pada triwulan kedua 2022 dari sisi pengeluaran masih sangat didominasi oleh konsumsi rumah tangga yang mencapai 51,47 persen. Pada posisi selanjutnya adalah pembentukan modal tetap bruto yang mencapai 27,31 persen, disusul komponen ekspor yang mencapai 24,68 persen. Konsumsi pemerintah dan konsumsi lembaga nonprofit yang melayani rumah tangga mencapai 6,94 persen dan 1,17 persen.

Komponen ekspor memiliki pertumbuhan tertinggi yang mencapai 19,74 persen secara year on year. Kalau dilihat dari peranan atau andil dalam pertumbuhan ekonomi, komponen konsumsi rumah tangga merupakan yang tertinggi mencapai 2,92 persen poin, kemudian komponen ekspor 2,14 persen poin, serta pembentukan modal tetap bruto 0,94 persen poin.

Ada pun struktur perekonomian Indonesia menurut lapangan usaha didominasi oleh sektor industri pengolahan (17,84 persen), pertambangan (13,06 persen), pertanian (12,98 persen), dan perdagangan (12,71 persen). Pertumbuhan tertinggi pada triwulan kedua 2022 adalah sektor transportasi dan pergudangan yang mencapai 21,27 persen. Ada pun sektor yang memiliki andil terbesar pada pertumbuhan adalah industri pengolahan sebesar 0,82 persen poin, disusul transportasi dan pergudangan (0,76 persen poin), serta perdagangan sebesar 0,58 persen poin.

Tantangan

Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,44 persen secara year on year merupakan pertumbuhan yang cukup impresif dan merupakan pertumbuhan di luar ekspektasi pemerintah. Kemenko Perekonomian pada 16 Juni 2022 memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya akan berada pada kisaran 4,7 persen sampai 5,2 persen. Namun, pertumbuhan ekonomi ini bukan tanpa tantangan.

Pengamat ekonomi INDEF Eko Listiyanto memperingatkan bahwa ekonomi bisa kembali melemah pada triwulan ketiga dan keempat 2022 jika pemerintah tidak jeli.
"Tapi jangan terlalu bereuforia karena tantangan triwulan ketiga dan keempat cukup besar, di mana perayaan keagamaan (yang merangsang konsumsi) sudah sangat jarang (pada periode mendatang)," kata Eko.

Menurut dia, triwulan kedua 2022 cukup banyak dibantu oleh konsumsi masyarakat karena momentum lebaran dan hari libur yang diperpanjang. Tentunya, selain ekspor yang juga menjadi komponen utama pertumbuhan. Hal lain yang menjadi sorotan adalah kecenderungan meningkatnya inflasi. Inflasi yang tidak bisa dijaga peningkatannya akan membuat daya beli masyarakat akan melemah dan tentunya berimplikasi langsung terhadap konsumsi sebagai komponen utama pertumbuhan ekonomi.

Berkah windfall komoditas ekspor saat ini tentunya tidak bisa dinikmati setiap saat. Ketergantungan terhadapnya tentu akan menjadi bumerang tersendiri bagi ekonomi Indonesia. Oleh karena itu, perlu menjadi perhatian terhadap sektor-sektor yang mengalami perlambatan, bahkan terkontraksi seperti komponen pengeluaran konsumsi pemerintah yang mencapai 5,24 persen. Padahal, konsumsi pemerintah harusnya bisa mendapat intervensi secara khusus dan bisa terlaksana dengan cepat, kenyataannya tidak demikian.

Distribusi konsumsi pemerintah mencapai 6,94 persen dan merupakan tertinggi ketiga sehingga cukup berpengaruh terhadap perekonomian secara umum. Beruntungnya masih tertolong oleh konsumsi rumah tangga dan windfall ekspor.

Harus Hati-Hati

Tidak dipungkiri bahwa perekonomian global memasuki ketidakpastian yang tentunya akan sangat berimbas ke Indonesia. Perang Rusia-Ukraina, inflasi global, harga minyak dunia yang terus meningkat, serta resesi yang mengintai, tentu menjadi masalah besar. Indonesia harus serba hati-hati dalam mengeluarkan kebijakan.

Komoditas ekspor utamanya sawit (CPO) dan turunannya yang menjadi unggulan perkebunan kita harus benar-benar dikelola dengan baik. Kita tidak bisa berharap terhadap harga yang saat ini naik secara terus-menerus, harus ada mitigasi ketika harga turun dan pembatasan agar petani tidak terus dirugikan, seperti beberapa saat lalu saat ada penghentian ekspor.

Konsumsi rumah tangga yang memiliki kontribusi terbesar (51,47 persen) terhadap perekonomian harus terus dijaga. Kenaikan harga sedikit saja akan membuat daya beli masyarakat akan menurun drastis. Kenaikan harga BBM jika itu menjadi pilihan terbaik harus ada solusinya. Solusi jangka paling pendek adalah pemberian bantuan tunai kepada keluarga yang jumlah penerimanya harus ditambah. Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah harus terdata dengan baik untuk menerima bantuan. Pekerja yang berpendapatan rendah harus mendapat bantuan juga.

Pada sektor yang memiliki kontribusi besar seperti industri, pertambangan, pertanian, perdagangan, serta konstruksi, harus terus mendapat perhatian. Pertumbuhan yang biasa-biasa saja pada sektor-sektor tersebut atau bahkan berkontraksi akan menjadi masalah besar terhadap perekonomian Indonesia. Jika pemerintah bisa jeli dan mampu melihat peluang berdasarkan data-data ini maka kita bisa optimis bahwa Indonesia bisa terhindar dari krisis global dan menjadi salah satu kiblat ekonomi dunia di tengah ketidakpastian.

Dwi Ardian Statistisi di BPS Provinsi Sulawesi Barat

(mmu/mmu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT