ADVERTISEMENT

Jeda

Tubuh Perempuan Punya Siapa?

Sinar Ayu Massie - detikNews
Sabtu, 03 Sep 2022 10:06 WIB
Sadness of a woman in the dark
Foto ilustrasi: iStock
Jakarta -

Opa saya adalah salah satu orang yang paling berpengaruh dalam hidup saya. Dia yang mengenalkan kesukaan membaca buku; saya ingat buku pertama yang dia berikan, Little House on the Prairie tentang Laura Ingalls Wilder dan keluarganya. Apapun yang keluar dari mulut Opa rasanya begitu berarti, karena pemilihan kata-kata yang khusus dan cara penyampaian yang menarik untuk telinga dan pemikiran saya. Misalkan ketika kakak saya bergelut dengan putaw pada awal tahun 1990-an, Opa saya bilang bahwa kakak saya "terjungkal dalam sumur narkoba" atau "dalam mengambil keputusan...to be or not to be!".

Kira-kira waktu saya kelas 6 SD dan hormon di tubuh mulai bergejolak dan terjadi perubahan dalam tubuh saya, dia memanggil saya dan bilang, "Kalau kamu tambah lagi beratnya, orang akan bilang who's rolling over bukan who's walking over." Entah karena ucapannya yang mencengangkan atau bukan, memang saya tidak pernah gemuk-gemuk amat. Kurus-kurus amat juga tidak pernah. Tapi saya jadi peka sekali dalam soal berat badan. Ayah saya juga pernah mengomentari bentuk kaki saya yang tidak jenjang --kamu kakinya pendek ya. Hal ini membuat saya memperhatikan bentuk kaki padahal tak pernah mengamati bentuk kaki sebelumnya dalam hidup saya.

Pada suatu acara keluarga, ayah tiri saya, yang saya kasihi, mengomentari sepupu saya yang sudah lama tidak dia lihat, "Kamu kok perempuan gendut begitu, nggak boleh perempuan gendut." Padahal ayah tiri saya itu tingginya di bawah rata-rata, namun dia merasa berhak untuk mengomentari tubuh anak orang. Karena saya sudah dewasa saat itu dan lebih bisa mengatur kata-kata, saya tarik lengan ayah dan kontan bilang, "Nggak boleh ngomong gitu dong, Om...itu bisa membekas lho di hatinya, Om mau tanggung jawab kalau dia sampai nggak pede?" Tentunya dia cuek saja, bahkan dia merasa kewajibannya untuk mengingatkan perempuan di keluarga untuk menjaga berat badan.

Pertengahan pandemi yang lalu saya naik 9 kg, dan naik 9 kg dalam jangka waktu 6 bulan itu sangat terasa. Saya juga tidak sadar saya naik berat badannya, hanya ketika yoga dan tidak bisa melakukan twists dan forward fold barulah saya sadari, oh kalau perutnya gendut susah juga melipat dan memutar badan, ada yang ganjel. Lalu saya mulai berjalan kaki --saya malas diet dan tidak pernah mencoba juga. Jalur jalan kaki saya melewati dua tukang jajanan langganan saya, yang saat itu menganggur. Lagi jalan tiba-tiba terdengar suara lantang, "Gila, Mbak gendut amat sekarang!" Ternyata tukang bubur langganan saya kaget melihat saya naik 9 kg.

Saya agak kaget dan cuma bisa cengengesan, walaupun biasanya saya cepat membalas komentar miring. Satu kali putaran taman terdengar lagi suara ngegas, "Wah, naik banyak nih beratnya!" Tukang kopi keliling langganan saya tampaknya juga sangat prihatin akan kenaikan berat saya. Kali ini saya bisa jawab, "Iya, lagi seneng," dengan nada sebel.

Ucapan "gendutan", "kurusan" seringkali lebih dulu dilayangkan sebelum "hai" atau "halo, apa kabar". Betapa minim kreativitas dan kepekaan dalam menyapa. Sepupu perempuan saya juga mengeluhkan hal yang sama tentang komentar berat badan ini. Dia bekerja sebagai sales di kawasan industri dan klien-klien sering kali mengomentari tubuhnya. Sedangkan kalau laki-laki, mau segendut apapun, jarang ada yang komentar. Kakak sepupu saya yang obesitas pernah bilang, "Laki nggak apa gendut yang penting udah laku." Saya pikir, istrinya sendiri belum tentu berpendapat yang sama dengan suaminya.

Karena kasus Sambo menarik perhatian publik, maka topik Sambo menjadi obrolan hangat ketika saya bersosialisasi. Saat ibu PC mengatakan bahwa dia korban pelecehan seksual, seorang ibu yang saya kenal komentarnya begini, "Nggak mungkinlah diperkosa, kan dia gemuk begitu." Ini omongan perempuan. Pelecehan seksual kalau saya baca di media lebih ada urusannya dengan kesempatan dibanding berat badan. Seolah kalau perempuan gemuk itu bahkan tidak ada yang mau melecehkan. Seram sekali sudut pandang ini, lebih horor dari Pengabdi Setan. Lapisan konotasi yang terlintas dalam secuplik pendapat. Partriarki, misogini, dan konsensus normalitas.

Suatu sore saya jalan kaki bersama kawan, melewati tukang bubur yang masih belum jualan juga dan dia mengacungi jempol sambil bilang, "Nah gini dong, udah bagus badannya." Saya cuman bisa tertawa dan kawan saya juga ngakak. "Dia pikir lo beratnya turun buat dia kali ya," ujar teman saya. "Aslik!"

Apa urusannya orang-orang ini mengomentari berat badan perempuan? Memang tubuh perempuan itu milik siapa selain perempuan itu sendiri? Kok bisa merasa berhak punya pendapat? Mana ada orang yang sengaja mau gendut? Saya juga tidak mau naik 9 kg, dan menurunkan berat badan itu sangat susah. Sampai sekarang baru turun 3 kg, namun saya tidak ngoyo untuk kembali ke timbangan pra pandemi.

Saya mau mengurangi berat badan hanya untuk perutnya kurusan supaya bisa twists dan forward fold kalau yoga, tidak lebih dan tidak kurang. Ternyata fleksibilitas saya terhambat kalau bagian tengah tubuh agak tebal, itu tok. Oh, tambah satu lagi, supaya muat pakai celana yang dulu daripada beli celana baru.

Sebenarnya saya juga tidak mau cerita kalau opa, ayah, om saya ternyata suka body shaming, karena banyak hal yang baik dari mereka yang saya bawa di hati saya. Namun saya yakin, bukan keluarga saya saja yang seperti itu, dan seandainya Anda pernah melakukan itu ke perempuan-perempuan terdekat, coba renungkan lagi apa yang sedang Anda lakukan dan efek jangka panjangnya terutama kepada perempuan belia. Kata-kata yang Anda ucapkan adalah rumah yang kita huni.

Sinar Ayu Massie penulis skenario film

Simak juga 'Riset PR2 Media: 86% Jurnalis Wanita di Indonesia Pernah Alami Kekerasan':

[Gambas:Video 20detik]



(mmu/mmu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT