ADVERTISEMENT

Kolom

Kecelakaan Truk dan Sistem Logistik yang Salah

Djoko Setijowarno - detikNews
Kamis, 01 Sep 2022 13:38 WIB
Djoko Setijowarno, pengamat transportasi Univ Soegijapranata
Djoko Setijowarno (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Pengemudi truk menanggung beban sistem logistik yang salah. Tanggung jawab pemilik barang (pabrik) dibebankan pada pengemudi. Setiap terjadi kecelakaan lalu lintas, pengemudi dijadikan tersangka. Belum lagi masih suburnya pungli di sepanjang perjalanan aliran logistik. Tidak ada kaderisasi pengemudi truk dan minim bimbingan teknis. Jadikan pengemudi truk mitra, bukan tersangka. Kompetensi pengemudi truk ditingkatkan, pendapatan dinaikkan.

Saat ini pengemudi truk sudah jarang yang membawa kernet. Dampaknya, regenerasi pengemudi truk terhambat alias tidak ada. Biasanya sopir belajar mengemudi ketika dia menjadi kernet, menggantikan sopir yang lelah. Namun karena saat ini ongkos muat kembali ke angka di tahun 2000-an, sudah terlalu minim, maka perolehan bagi hasil antara pengemudi dengan pengusaha truk pun anjlok.

Dulu pengemudi truk identik dengan banyak istri atau pacar. Bahkan, dulu jika terjadi persaingan antar pengemudi truk untuk mendapatkan wanita cantik di warung kopi, mereka berani berlomba memikat si wanita dengan berlomba-lomba berikan hadiah. Seperti memberi hadiah sepeda motor atau perhiasan adalah hal yang jamak bagi para pengemudi truk. Saat ini, pengemudi truk jarang ada yang mau membawa kernet agar masih ada sisa uang yang bisa dibawa pulang untuk keluarganya.

Saat ini sudah banyak pengemudi truk yang membawa istrinya untuk berperan sebagai tukang masak, tukang cuci, tukang pijit, dan tukang menghitung barang yang dimuat dan dibongkar. Perilaku pengemudi truk yang dulu sering menghiasi warung remang-remang berubah menjadi sering membawa istrinya sekarang ini bukan karena alasan pertobatan atau agamis. Namun, lebih karena pengiritan akibat tidak punya uang lagi.

Menanggung Pengeluaran

Sebelum tahun 2000 pengusaha truk pun berani mengambil kredit armada truk baru jika memiliki sudah memiliki satu truk lunas. Istilahnya satu menggendong satu, tetapi saat ini tiga armada truk lunas baru bisa menghidupi satu armada truk kredit. Atau, kredit truk dibayar dengan dana hasil kerja lainnya.

Jika mendapat kontrak mengangkut barang senilai Rp 5 juta, dibagi dua, Rp 2,5 juta buat sopir dan Rp 2,5 juta buat pemilik kendaraan. Namun prosentase tidak harus fifty-fifty. Barang yang berpotensi dicuri, sopir (55 persen) dan pemilik truk (45 persen). Jika barang yang diangkut tergolong aman, pembagiannya sopir 45 persen dan pemilik truk 55 persen.

Pengemudi truk menanggung pengeluaran untuk pembelian bahan bakar minyak (BBM), tarif tol, makan dan minum, MCK, pungutan liar, petugas resmi, tilang, tarif parkir, pecah ban, dan berbagai retribusi lainnya. Sementara pengusaha angkutan akan menanggung angsuran kredit kendaraan, penyusutan kendaraan, penggantian ban, oli dan suku cadang, stooring dan derek, perizinan dan surat menyurat,

Kalau ketahuan overload, maka pengemudi membayar tilang sebesar Rp 500 ribu. Tapi dia ingin muat overload agar ongkosnya tinggi dan secara otomatis bagi hasilnya juga tinggi. Jadi sebenarnya tidak ada pengemudi truk yang terpaksa muat lebih. Itu pilihan pengusaha dan pengemudi. Akibat tekanan ongkos murah dari pemilik barang. Jika ongkos bagus dan muatan ringan, pengemudi dan pengusaha angkutan sama-sama happy. Karena sebenarnya yang dikejar itu nilai ongkosnya.

Itulah suka duka pengemudi truk di Indonesia. Kalau BBM irit, tidak harus lewat jalan tol (tarif tol mahal), tidak ada preman, tidak ada petugas menjahili, tarif parkir murah, tidak ada retribusi, maka berbahagialah sang pengemudi truk. Namun sebaliknya, jika penggunaan BBM boros, harus lewat jalan tol, banyak preman, banyak petugas jahil, tarif parkir mahal dan banyak retribusi, maka celakalah nasib pengemudi truk.

Tingginya Kecelakaan

Selain mengakibatkan kaderisasi pengemudi truk jadi terhambat, banyaknya pengemudi truk yang tidak membawa pendamping atau kernet sama sekali juga menyebabkan tingginya angka kecelakaan tunggal. Sebab waktu dan tenaga yang mestinya digunakan sopir untuk istirahat terpaksa digunakan untuk melakukan pekerjaan kernet.

Biasanya jika ada kernet, pengemudi bisa tidur saat bongkar dan muat barang. Namun tidak adanya kernet mengharuskan pengemudi melakukan penghitungan barang yang dibongkar dan dimuat. Mekanisme bongkar muat barang harus diperbaiki.

Pengemudi truk juga harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk menutup barang muatan. Selain itu, masih juga harus melakukan perawatan kendaraan, seperti melakukan pengecekan tekanan angin dan bahkan melakukan bongkar dan pasang ban sendiri. Mestinya, sistem bongkar muat barang di Indonesia sudah memikirkan tanpa kernet.

Istirahat pengemudi pun jadi tidak relaks benar. Pasalnya, jika tidurnya terlalu lelap, ketika bangun bisa hilang semua barang bawaannya. Sering juga ketika ada sopir yang tertidur terlalu lelap di rest area jalan tol, maka muatan truk akan digerayangi oleh pencuri yang berada di situ atau barang muatannya dilubangi dan diambil oleh begal truk. Sekarang malah yang lebih populer lagi adalah pencurian speedometer, accu, dinamo, dan ban cadangan.

Di Eropa, pengemudi truk hanya mengecek oli saja. Lagi pula jarang terjadi ban kempes atau pecah, karena muatan standar masih dalam batas load index ban. Pengemudi dapat tidur dengan nyaman di ruang dalam kabin truk. Jika kendaraan dicurigai mengangkut overload, pengemudi tidak diapa-apakan, tapi si pembawa manifes barang yang harus mempertanggungjawabkannya. Atau, polisi di perbatasan negara akan mengundang perwakilan dari pabrik untuk hadir ke penimbangan supaya bertanggung jawab.

Di dalam manifes barang ada jumlah muatan dan berat muatan. Soal tata cara muat dan tonase mereka self assessment, namun jika dicurigai oleh polisi, maka kendaraan akan digiring ke lokasi penimbangan dan akan digeledah. Jika muatan tidak sesuai dengan manifes itu baru persoalan.

Sekarang, di Eropa seringnya operasi narkoba memakai anjing pelacak, sedangkan operasi tonase malah jarang. Pokoknya yang sering terjadi adalah barang selundupan. Belum tentu narkoba, bisa saja barang yang harus pakai bea masuk khusus. Kebanyakan pelanggaran overload dilakukan oleh truk-truk yang berasal dari Eropa Timur seperti Rusia, Rumania, Albania, Republik Ceko, Hungaria, Bulgaria.

Sebab di Eropa Timur Polisinya masih korup dan gampang disuap. Negara yang paling ketat dan disegani oleh para sopir adalah Jerman, Swiss, Austria, Inggris, dan negara-negara Skandinavia. Overload masih sering terjadi juga di Eropa Barat, namun paling banyak adalah pelanggaran tata cara muat.

Misalkan ikatan barang tidak benar. Tetapi sepanjang masih bisa diatasi atau diperbaiki tidak akan ditilang, cuma diminta membetulkan saja. Jika terjadi kasus tonase tidak sesuai dengan manifes, pengemudi truk diminta istirahat, lalu polisi menelepon pemilik barang agar mempertanggungjawabkan. Selama pengemudi menunggu, argometer jalan terus. Karena Standard Trading Conditions berjalan dengan baik. Waktu tunggu pengemudi truk akan diganti rugi oleh pemilik barang.

Djoko Setijowarno akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata, Ketua Bidang Advokasi dan Kemasyarakatan MTI Pusat

(mmu/mmu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT