ADVERTISEMENT

Kolom

Akal Sehat Sang Profesor

Toto TIS Suparto - detikNews
Selasa, 30 Agu 2022 13:42 WIB
Akal Sehat Sang Profesor
Toto TIS Suparto (Ilustrasi: dok. pribadi)
Jakarta -

Saat saya remaja, hidup di Malang, bertetangga dengan Abdul Malik Fadjar. Ingatan saya tentang tokoh Muhammadiyah yang kini sudah almarhum itu adalah kesederhanaan. Ternyata, kesederhanaan masih terbawa saat beliau menjadi pejabat. Saat menjadi menteri, anggota Watimpres, dan jabatan penting lainnya.

Beberapa koleganya memberi gambaran sosok pemikir itu. Digambarkan koleganya, Malik Fadjar adalah tokoh Muhammadiyah yang gigih dan hidup sangat sederhana. Malik Fadjar menjadi teladan bagi warga persyarikatan dan bangsa Indonesia.

Malik Fadjar adalah seorang profesor. Ini lebih dari sekadar jabatan fungsional tertinggi. Baginya, menyandang profesor berarti memiliki kapasitas keahlian dan produktivitas ilmiah yang tinggi. Namun Malik Fadjar profesor yang tetap membumi. Beliau menyadari profesor itu memberi dampak terhadap peradaban keilmuan.

Pernah suatu saat beliau memberikan pernyataan kepada media; seorang profesor itu menjadi panutan pengajar lainnya, bahkan juga masyarakat umum. Pun seorang profesor merupakan pengawal akal sehat. Dari Malik Fadjar itulah saya bisa membayangkan bagaimana sosok seorang profesor. Namun bayangan ideal itu ambyar manakala membaca berita ikhwal seorang rektor kena operasi tangkap tangan (OTT) KPK.

Begini berita dimaksud: KPK melakukan OTT terhadap Rektor Universitas Lampung (Unila), Prof Dr Karomani. Karomani diamankan KPK bersama tujuh orang lainnya yang terdiri dari Wakil Rektor 1, Dekan Fakultas Teknik (FT), dosen dan pihak swasta (detikcom, 20/8).

Tim KPK sejauh ini mengamankan sekitar 8 orang di Bandung, Lampung, dan Bali. Terdiri dari Rektor, Wakil Rektor 1, Dekan FT, dosen, dan pihak swasta. Diduga, Karomani menerima suap sebesar Rp 5 miliar untuk meluluskan seleksi mahasiswa baru 2022. Dia diduga memasang tarif Rp 100 juta sampai dengan Rp 350 juta untuk meluluskan seleksi mahasiswa baru tahun 2022 melalui jalur mandiri.

Tentu respons masyarakat atas kasus Unila beragam. Warganet melempar berbagai komentar. Salah satunya menulis, "Profesor kok korupsi, ke mana akal sehatnya?"

Pikiran Waras

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), akal berarti daya pikir (untuk memahami sesuatu dan sebagainya); pikiran; jalan atau cara melakukan sesuatu; daya upaya; ikhtiar. Sedangkan sehat berarti waras; baik dan normal (tentang pikiran). Dengan demikian, secara sederhana, akal sehat bisa diartikan pikiran yang waras.

Bermodalkan kewarasan itu, seseorang mampu untuk mempertimbangkan, apakah hidupnya sudah di arah yang tepat, atau belum. Kewarasan juga perlu karena bisa digunakan untuk mengembangkan sikap kritis. Sikap kritis berarti kita berani mempertanyakan cara berpikir maupun cara hidup yang lama. Hanya dengan keberanian untuk bertanya, perubahan ke arah yang lebih baik bisa tercipta.

Akal sehat berarti hidup yang bisa diandalkan. Kata-kata menjadi acuan utama tindakan, dan tak akan diingkari, kecuali ada alasan cukup kuat. Hidup dengan akal sehat berarti pula menghindari kesempitan berpikir yang justru memperbesar masalah. Hidup dengan akal sehat berarti hidup sejalan dengan kenyataan yang ada. Bukan mengada-ada. Bukan rekayasa. Apalagi kebohongan.

Namun akal sehat tidak datang alami. Ternyata harus dilatih dalam keseharian. Persis kata filsuf Aristoteles, kebaikan itu harus dibiasakan. Akal sehat adalah salah satu kebaikan. Jadi, benar komentar warganet tadi, ke mana akal sehatnya? Ketika seorang profesor berbuat buruk, berarti dia kehilangan akal sehatnya.

Bukan Panutan

Kembali kepada nasihat Malik Fadjar, seorang profesor itu hendaknya jadi panutan. Tetapi panutan macam apa jika kena OTT? Inilah yang disesalkan. Semestinya menjadi panutan, kenyataan malah menjadi cermin retak bagi yang lain. Semestinya menjadi teladan dalam hal pendidikan moral, tetapi malah memberikan contoh buruk.

Saya jadi teringat pandangan filsuf Pierre Bourdieu tentang pendidikan moral. Bourdieu berpendapat bahwa yang terpenting bukanlah apa yang ternyatakan (eksplisit) dalam ajaran maupun aturan moral, melainkan apa yang tak ternyatakan (implisit), yang hanya dapat dilihat dalam perilaku sehari-hari. Di sini mau ditegaskan yang terpenting adalah teladan, bukan sekadar perintah moral. Bukan sekadar bicara, melainkan tindakan.

Mudah-mudahan para profesor lainnya mau menerima pandangan Bourdieu tersebut, sehingga tetap mengagungkan akal sehatnya untuk pencerahan bangsa.

Toto TIS Suparto penulis filsafat moral

(mmu/mmu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT