ADVERTISEMENT

Kolom

Menuju Kejelasan Peta Koalisi 2024

Ikhwan Arif - detikNews
Senin, 29 Agu 2022 11:08 WIB
Menyoal Koalisi
Ikhwan Arif (Foto: dok. pribadi)
Jakarta -

Proses dinamika koalisi partai Politik pada perhelatan Pilpres 2024 semakin serius. Beberapa hari terakhir masing-masing koalisi mulai memperlihatkan kemesraannya kepada publik. Euforia koalisi partai politik semakin terlihat ketika partai politik berbondong-bondong mulai mendaftarkan diri ke KPU.

Momentum tersebut dimanfaatkan oleh Koalisi Indonesia Bersatu (KIB), koalisi Gerindra-PKB dengan berjalan kaki munuju kantor KPU. Kemesraan kembali terlihat pada pertemuan-pertemuan politik seperti penyampaian visi-mis oleh KIB, kemudian Rapimnas Gerindra di Sentul, Bogor yang kemudian dipertontonkan sebagai bentuk keseriusan partai koalisi dalam menghadapi pesta demokrasi 2024.

Setiap pertemuan mengisyaratkan jawaban atas pertanyaan publik sejauh mana tujuan koalisi dibentuk. Yang paling diharapkan adalah kejelasan hubungan koalisi tidak hanya sebatas kemesraan tanpa adanya kepastian deklarasi masing-masing bakal calon yang akan diusung pada Pilpres 2024. Pada dasarnya pembentukan koalisi harus menyentuh keinginan publik dan sebagai cikal bakal terbentuknya pemerintahan, dan program-program kerja pemerintah di masa yang akan datang.

Partai Gerindra menggelar Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) di Sentul Internasional Convention Center pada 12-13 Agustus. Dalam Rapimnas tersebut tampak hadir beberapa pengurus Partai Gerindra mulai dari pengurus pusat hingga pengurus daerah. Pada pembukaan Rapimnas, Jumat (12/8) turut hadir para petinggi Partai Gerindra seperti Ketua Umum Prabowo Subianto, Sekjen Gerindra Ahmad Muzani, dan Ketua Harian Partai Gerindra Sufmi Dasco. Rapimnas tersebut sekaligus membahas pencalonan Prabowo Subianto sebagai Presiden yang diusung oleh koalisi duo Gerindra-PKB.

Koalisi duo ini telah mencapai kesepakatan untuk maju di Pilpres 2024 nanti. Rapimnas ini diakhiri dengan pertemuan Gerindra-PKB yang kemudian mencapai kata sepakat koalisi mendukung Prabowo dan Muhaimin Iskandar untuk maju pada 2024. Menurut saya semua orang sudah tahu yang akan maju sebagai capres adalah Prabowo Subianto, sudah menjadi rahasia umum dan sudah mejadi bahan konsumsi publik. Ibaratnya sekarang menunggu dinikahkan, kalau pasangan koalisi sudah ada, partai sudah solid dan pesta sudah pasti pada 14 Februari 20024.

Ke depannya tugas berat kedua koalisi menentukan cawapres yang tepat untuk disandingkan dengan Prabowo, tidak harus dari kader PKB Muhaimin Iskandar, bisa jadi dari luar koalisi. Karena kita lihat dari hasil beberapa lembaga survei, kalau diukur dari elektabilitas masing-masing antara Prabowo dan Muhaimin Iskandar hasilnya jomplang. Yang penting tujuan koalisi harus jangka panjang tidak melulu soal capres-cawapres, yang perlu diperhatikan bagaimana nanti koalisi tetap solid hingga hari pencalonan capres-cawapres. Tidak menutup kemungkinan ada angin surga Muhaimin Iskandar dicalonkan jadi Presiden.

Beda halnya dengan KIB, ketiga partai koalisi yaitu Golkar (Airlangga Hartato), PPP (Suharso Manoharfa) dan PAN (Zulkifli Hasan) lebih mengedepankan visi-misi atau gagasan politik, yang menarik untuk diterapkan dalam praktik politik yang tidak bertentangan dengan pancasila. KIB mengedepankan gagasan politik persatuan dan antipolitik identitas. Gagasan yang disampaikan KIB sepatutnya diapresiasi karena seirama dengan jargon anti politik perpecahan yang sering digaungkan di beberapa media.

Sejauh ini koalisi yang sudah terbentuk seperti KIB, Gerindra-PKB dinilai sebagai koalisi yang secara substansi berada satu langkah daripada partai koalisi lain yang belum menyatakan berkoalsi. Pertama, KIB unggul dari segi ketokohan dan gagasan politik yang dibangun. Kemudian Gerindra-PKB satu-satunya koalisi yang paling sangar, tidak malu-malu mendeklarasikan nama-nama calon presiden yang akan diusung.

Kalau dilihat koalisi lain masih sibuk menentukan capres bahkan ada partai yang tidak mempunyai kader potensial untuk maju di Pilpres 2024. Misalnya PDI-P yang masih sibuk menentukan Puan atau Ganjar sebagai capres. KIB sudah mulai mengerucut ke Airlangga Hartarto sebagai capres potensial, sedangkan Nasdem, PKS, dan Demokrat masih abu-abu untuk berkoalisi dan saya yakin hanya Nasdem dan PKS yang berniat mengusung Anies jadi Capres, kalau Demokrat tentu maunya AHY jadi Capres.

Dengan demikian peta koalisi semakin jelas, ada tiga roadmap koalisi partai politik di 2024 yaitu KIB, Gerindra-PKB dan PDIP dengan sekutu politik yang diprediksikan bergabung jika PDIP sudah menyebut salah satu nama di antara Puan dan Ganjar. PDIP masih menunggu instruksi Ketua Umum Megawati Soekarnoputri.

Terakhir menurut saya jika pembentukan koalisi hanya berpatokan untuk mengusung capres dan cawapres saja, tentu sangat mudah bagi PDIP untuk memilih Ganjar atau Puan sebagai capres-cawapres, namun kenyataannya tidak semudah itu. Tidak semua koalisi dibangun atas kesamaan faktor figur atau ketokohan, sebab salah satu penentu keberhasilan dalam membentuk sebuah koalisi adalah gagasan dan ide-ide yang sangat populis yang menyangkut kepentingan masyarakat, yang nanti berpengaruh terhadap perilaku memilih masyarakat.

Ikhwan Arif pengamat politik dan pendiri Indonesia Political Power

(mmu/mmu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT