ADVERTISEMENT

Jeda

Kampung Riwil Fashion Week dan Sinetron Rakyat Kita

Mumu Aloha - detikNews
Sabtu, 27 Agu 2022 11:00 WIB
mumu aloha
Mumu Aloha (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Hari-hari menjelang malam perayaan HUT Kemerdekaan RI kemarin, warga Kampung Riwil sebagaimana mana warga kampung-kampung lain se-Nusantara, sibuk mempersiapkan "malam tirakatan". Tapi, rencana warga rupanya tidak berjalan mulus. Pentas kethoprak bocah yang sedianya disiapkan sebagai tontonan untuk memeriahkan acara tersebut batal digelar.

Untuk mengobati kekecewaan anak-anak yang tak jadi tampil, Pak RT dan sejumlah tokoh masyarakat serta anak-anak muda memikirkan jalan terbaik. Akhirnya dari kalangan muda tercetus untuk membuat film pendek yang dibintangi anak-anak, yang nantinya diputar di acara tirakatan. Pak RT setuju saja dan mendukung.

Karena waktu sudah mendesak, persiapan syuting segera dilakukan. Naskah sudah ada, dan tinggal disesuaikan. Yang penting, pada malam tirakatan film tersebut sudah bisa diputar sebagai hiburan warga, sekaligus menyambut kedatangan Pak Lurah.

Fandra, yang akan jadi pemeran utama, bocah celelekan tapi cerdas, punya ide cemerlang agar seluruh warga bahu membahu mewujudkan pembuatan film pendek itu. Hari itu, ia keliling kampung dengan penampilan yang unik untuk memprovokasi warga. Ketika ada orang tanya perihal baju yang dikenakannya yang terlihat tidak biasa seperti sehari-hari itu, dia menjawab. "Kampung Riwil Fashion Week!"

Dalam sekejap, adanya pergelaran Kampung Riwil Fashion Week pun menyebar dari mulut ke mulut dan seluruh warga berbondong-bondong datang ke lokasi dengan kostum uniknya masing-masing. Lokasi fashion week tersebut di pinggir sungai. Tapi, ketika warga sudah berkumpul, ternyata tidak ada acara pergelaran fashion seperti yang diembuskan Fadra. Itu hanya cara bocah tersebut untuk mengumpulkan warga ke pinggir sungai yang akan menjadi lokasi syuting film pendek.

Dan, inilah pemandangan lucu yang terjadi kemudian: warga yang sudah mengenakan kostum warna-warni dan meriah itu diminta untuk kerja bakti membersihkan sampah di sekitar sungai! Dengan begitu, film pun bisa dibuat dengan baik, dan syuting berjalan lancar, hingga akhirnya karya pendek berjudul Ndudah Kedunge Simbah yang dimainkan oleh anak-anak Kampung Riwil itu pun bisa diputar pada acara malam tirakatan tujubelasan.

***

Kampung Riwil adalah sebuah kampung fiktif dalam serial Balada Kampung Riwil yang setiap episodenya hadir dua kali seminggu sejak sekitar dua tahun lalu. Awalnya adalah cerita yang sudah umum terdengar tentang "dampak pandemi". Gara-gara pandemi, komunitas seniman kethoprak di Solo yang biasa pentas di Taman Balekambang, tergabung dalam Seniman Muda Surakarta, kehilangan job.

Dan, seperti cerita yang sudah umum terdengar pula, platform digital menjadi alternatif penyelamat. Dengan bendera Bakar Production, mereka membuat "sinetron" untuk ditayangkan di Youtube. Pemainnya adalah para seniman berbagai usia yang sebelumnya biasa main kethoprak. Dari yang sudah senior, remaja, hingga anak-anak berusia SD.

Balada Kampung Riwil adalah sebuah sinetron seri berbahasa Jawa yang menampilkan keseharian kehidupan masyarakat sebuah kampung. Ceritanya pun sangat sehari-hari, kocak, konyol, tapi juga tak jarang penuh drama dan mengharukan. Hingga bumbu-bumbu kisah asmara anak muda pun bisa ditemukan di sana. Karena menceritakan kehidupan kampung, karakternya sangat banyak, dan selayaknya sinetron yang biasa kita saksikan di televisi tentu ada tokoh antagonis juga.

Tapi, jangan harap bertemu dengan mertua jahat, tante-tante menor yang zalim, menantu yang teraniaya, atau oom-oom kaya-raya yang flamboyan. Pada dasarnya, Balada Kampung Riwil adalah sebuah sinetron komedi. Kita belum pernah menyaksikan cerita seperti yang digambarkan di dalamnya di televisi. Ini benar-benar kehidupan warga kampung yang sangat sehari-hari, apa adanya, dengan segala problematikanya, dan dengan segala suka-dukanya.

Disutradarai oleh Dwi Mustanto, dengan naskah yang ditulis oleh Billy Aldi K, Balada Kampung Riwil episode satu tayang pertama kali pada 23 April 2020, berjudul Ngakali Listrik Gratis --episode ini hingga sekarang telah mendapatkan hampir 600 ribu view. Sampai sekarang sudah hampir mencapai 200 episode, dan tiap episode baru yang tayang pertama sudah memiliki calon menonton yang menanti-nantikannya. Potongan-potongan pendek dari sinetron ini berseliweran di Tiktok dan tak jarang viral, biasanya berisi adegan-adegan yang lucu. Dari sini, makin banyak orang yang tahu mengenai sinetron ini, dan menonton episode-episode lengkapnya di Youtube.

Umumnya masyarakat penutur bahasa Jawa sudah tidak asing lagi dengan karakter-karakter dalam sinetron Balada Kampung Riwil, antara lain Fandra, Paijo, Jolodot, Minthul atau Mbak Mi, Mas No, Bogang, Pak Kliwon, Kabul, dan Lik Doel. Mereka seolah-olah sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari warga Solo khususnya, dan Jawa Tengah pada umumnya, dengan segala gaya dan guyonannya.

***

Jika Solo punya Paijo, Jolodot, dan Mbak Mi dari Kampung Riwil, maka Kediri punya lakon mereka sendiri, yang barangkali bisa dibilang lebih membahana, lewat bendera Woko Channel. Sama-sama menyajikan lakon komedi berbahasa Jawa, Woko Channel dikenal dengan gayanya yang lebih "slapstick" dibandingkan dengan Bakar Production. Dan, perbedaan nuansa "kehalusan" bahasa antara Solo (Jawa Tengah) dan Kediri (Jawa Timur) juga memberikan perbedaan pada sketsa kisah-kisah mereka.

Awal mulanya juga gara-gara pandemi, lalu lahirlah kreativitas konten para seniman lokal yang kemudian viral dan digemari secara "nasional". Tidak seperti Bakar Production yang menampilkan cerita secara sambung menyambung dengan judul besar Balada Kampung Riwil, Woko Channel tampil dengan satu cerita yang selesai dalam satu episode. Meskipun tentu saja bagi yang mengikuti setiap episodenya secara rutin akan mudah menemukan benang merahnya.

Episode satu Woko Channel tayang perdana di Youtube pada 19 Maret 2019 dengan judul Pentol Seharga 20 Juta. Hingga kini telah memproduksi 144 video, dengan rata-rata mendapatkan 1 hingga 2 juta view, dan memiliki 2,1 subscriber. Potongan-potongan video pendek yang viral di Tiktok membantu mempopulerkan konten mereka, yang melahirkan karakter-karakter yang sudah sangat dikenal masyarakat luas, seperti Mukidi, Gendut, Penyok, Pak No, Kabul, Mbokde Wadas Gempal, Peni, dan Mbak Nonik.

Salah satu yang menarik dari Woko Channel adalah adanya satu aktor yang memerankan empat karakter sekaligus dalam satu keluarga. Popularitas Woko Channel telah mengantarkan sejumlah pemainnya diundang ke podcast Deddy Corbuzier. Bagi masyarakat Jawa Timur dan Jawa Tengah, jargon-jargon yang lahir dari karakter-karakter dalam video Woko Channel sudah menjadi bahasa sehari-hari, seperti Piye to kiiih ("Gimana sih ini..."), atau Koncone yo dipikir nooo... ("Temannnya juga dipikirin dong!"), dan terutama, Kok gethiiing aku! ("Benci aku!").

Selain melahirkan jargon-jargon yang menjadi poluler di masyarakat, Woko Channel juga berhasil melahirkan sosok Peni dengan karakter dan penampilan yang "ikonik". Tokoh remaja perempuan desa yang masih duduk di bangku SMA ini diperankan oleh aktor laki-laki, dengan dandanan, rias wajah, hingga model rambut yang "buruk", tapi justru menjadi daya tarik tersendiri. Dengan penampakannya yang "ajaib", karakter Peni ini menjadi primadona, viral luar biasa di Tiktok, di-stitch oleh para konten kreator lainnya, bahkan mudah dijumpai gambarnya di pantat truk yang melintas di Tol Trans Jawa.

Pandemi mungkin memang jahat; menghancurkan sebagian kehidupan. Dan menyerah adalah jalan yang paling mudah. Tapi, hidup pada zaman teknologi yang memberikan jalan alternatif dan berbagai kemungkinan lain yang nyaris tiada batas, menempuh jalan paling mudah rasanya bukan pilihan yang elok. Kita bisa berkaca pada Seniman Muda Surakarta dan komunitas Woko, yang memilih untuk "lahir kembali" setelah pandemi, dan membuka jalan baru bagi lahirnya inspirasi-inspirasi baru masyarakat, idola-idola baru bagi kalangan akar rumput, pahlawan-pahlawan baru untuk wong cilik.

Pandemi menghilangkan pekerjaan banyak orang, menghentikan aktivitas komunitas-komunitas seniman lokal-tradisional (para pemain lakon komedi Woko Channel sebelumnya adalah para musisi dangdut) karena tiadanya "tanggapan", tapi kemudian melahirkan kreativitas dalam bentuk yang sama sekali berbeda, melalui media yang berbeda. Balada Kampung Riwil dan Woko Channel hanya "salah dua" dari sekian banyak konten sinetron produk rakyat yang bertebaran di platform digital hari ini. Tidak hanya lebih praktis untuk ditonton, tapi secara isi juga lebih spontan, merakyat, dan lebih mewakili kehidupan sehari-hari orang kebanyakan.

Dengan perangkat handphone murah di tangan, sambil makan di warung, ngarit di sawah, naik bus antarkota antarprovinsi, ataupun sambil menunggui kios di pasar, orang-orang "menyetel" episode terbaru banyolan Paijo dan Mbak Mi, menyaksikan kekonyolan apa lagi yang dilakukan oleh duo Mukidi dan Gendut, serta mengikuti kelanjutan kisah cinta Mukidi yang dikejar-kejar Dik Peni. Dan, dari layar HP yang dipantengi seseorang di warteg atau di suatu kios di sisi lorong pasar yang hiruk-pikuk, akan menggema suara khas: kok gethiiing aku!

Mumu Aloha wartawan, editor

(mmu/mmu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT