ADVERTISEMENT

Kolom

Joko Tingkir dan Musik Rakyat

Sarjoko - detikNews
Jumat, 26 Agu 2022 14:20 WIB
Cak Percil menyanyikan lagu Joko Tingkir Ngombe Dawet di YouTube One Nada.
Cak Percil menyanyikan lagu "Joko Tingkir" (Foto: tangkapan layar/Channel YouTube One Nada)
Jakarta -

Saya cukup suka mendengarkan musik dangdut dalam beberapa tahun terakhir. Dangdut yang dulu terasa sebagai musik 'murahan' menjelma menjadi sesuatu yang 'wah'. Apalagi jika lirik lagu atau nadanya akrab di telinga, lalu diaransemen secara "koplo". Dangdut bisa membuat saya tiba-tiba melakukan gerakan akrobatik tanpa mampu dikendalikan oleh urat malu.

Uniknya, meski saya berasal dari suku Jawa, musik dangdut kerap saya nikmati tanpa hafal liriknya. Saya waton yakin bahwa lagunya seperti ini atau itu. Sementara lirik bisa diganti dengan rengeng-rengeng atau siulan. Hal inilah yang membuat saya meyakini bahwa dangdut adalah bahasa universal yang bisa membuat orang membuat segala suasana menjadi gembira.

Penampilan bintang dangdut cilik bernama Farel Prayoga di Istana saat upacara kemerdekaan menjadi penegasan bahwa dangdut bukanlah sembarang musik. Ia bisa dihadirkan di upacara sekhidmat itu, membuat para elite berjoget dengan riang gembira. Para menteri tertangkap kamera asyik bergoyang. Sementara Jokowi terlihat seperti orang yang sebenarnya ingin los dol, tetapi ditahan-tahan. Namun raut wajahnya terlihat bahwa sang presiden sangat menikmati pertunjukan itu. Juru bahasa isyarat pun menunjukkan gestur goyang yang tak kalah ceria.

Di media sosial penampilan ini mendapat beragam respons positif, meski ada sebagian yang mempersoalkan. Salah satu yang justru muncul adalah perbincangan lirik lagu dangdut yang kerap dibawakan oleh Farel. Di YouTube, penyanyi cilik ini meng-cover beberapa lagu, salah satunya berjudul Joko Tingkir Ngombe Dawet.

Bagi sebagian orang, penggunaan nama Joko Tingkir disandingkan dengan dawet, lebih-lebih dimasukkan dalam lirik lagu dangdut, adalah tindakan kurang etis. Sebab Joko Tingkir alias Sultan Hadiwijaya merupakan seorang raja yang memiliki keturunan orang-orang hebat seperti Hasyim Asy'ari dan Gus Dur. Memparodikan sosok sekaliber Hadiwijaya, apalagi disebut minum dawet, merupakan tindakan yang perlu dihindari. Terlebih, lagu itu diaransemen menggunakan nada yang biasa digunakan untuk menyanyikan salawat.

Swadaya Masyarakat

Joko Tingkir ngombe dawet
(Joko Tingkir minum dawet)

Jo dipikir marai mumet
(Jangan dipikir karena bikin pusing)

Ngopek jamur nggone Mbah Wage
(Memetik jamur di rumah Mbah Wage)

Pantang mundur, terus nyambut gawe
(Pantang mundur tetap bekerja)

Kalimat di atas merupakan penggalan lirik lagu Joko Tingkir yang dipersoalkan. Kata Joko Tingkir pun benar-benar hanya muncul di kalimat tersebut. Namun beberapa orang menyebutnya sebagai pelecehan terhadap sosok ulama. Sampai-sampai Ronald Dwi Febrianzah, si empunya lagu, meminta maaf dan mengaku bahwa ia tidak tahu siapa sebenarnya Joko Tingkir.

Bagi generasi 1990-an, perkenalan terhadap sosok Joko Tingkir tidak bisa dilepaskan dari serial di sebuah stasiun TV swasta. Kisahnya bermula ketika seorang pemuda bernama Karebet menyeberangi sungai dengan menunggangi buaya. Dari situ, Joko Tingkir kemudian melalukan banyak petualangan dan pertarungan. Rasa-rasanya, porsi gelut di serial tersebut jauh lebih banyak daripada penceritaan mengenai perjalanan hidup Hadiwijaya sesungguhnya. Karenanya, Joko Tingkir yang dikenal ya sosok petarung, bukan ulama. Di serial tersebut, Joko Tingkir beberapa kali diceritakan makan dan minum di warung rakyat.

Nama Joko Tingkir tidak bisa dilepaskan setidaknya dari tiga hal. Pertama, ia adalah seorang pemuda asal Tingkir, Salatiga. Dulunya, Tingkir merupakan sebuah kampung yang jauh dari pusat kekuasaan. Meski tinggal di kampung, Joko Tingkir bukanlah orang sembarangan. Ki Kebo Kenanga, ayahnya, merupakan anak Dyah Ratna Pembayun, putri Brawijaya V.

Kedua, ia adalah Sultan Jawa. Sebenarnya, ia bukanlah putra mahkota. Mas Karebet merupakan menantu Sultan Trenggono, Raja Demak. Setelah Trenggono mangkat, terjadi intrik perebutan tahta di keraton. Joko Tingkir mendapat dukungan dari ulama yang memiliki otoritas untuk melanjutkan tahta, kemudian memindahkan keraton Jawa dari Demak ke wilayah Pajang, Solo. Namun kerajaan Pajang tidak berumur panjang. Ia dikudeta oleh menantunya sendiri, Sutawijaya. Kelak Sutawijaya dikenal sebagai Panembahan Senopati, sang pendiri Dinasti Mataram Islam yang kini berpusat di Yogyakarta.

Ketiga, Joko Tingkir merupakan seseorang yang mula-mula membentuk 'kekuasaan' di luar pusat kekuasaan. Gus Dur mencatatnya dalam sebuah kolom berjudul Membaca Sejarah Nusantara (2001). Kisah bermula saat Hadiwijaya dikalahkan oleh Sutawijaya. Ia kemudian pulang ke rumah ibunya di Sumenep untuk mencari "modal baru". Setelah merasa bekalnya cukup, ia bergegas menuju Pajang menyusuri Bengawan Solo.

Gus Dur menulis: Kisah Jaka Tingkir di atas, "diakhiri" oleh kisah ketika ia mampir di Pulau Pringgobayan. Kini, pulau itu bertaut dengan daratan yang menjadi jembatan yang menghubungkan antara Pucukrejo dan Paciran di Kabupaten Lamongan. Di tempat itulah, Jaka Tingkir singgah untuk mengisi air dan keperluan-keperluan lain, dalam perjalanan kembali dari Pulau Madura ke Pajang dekat Demak.

Di situlah Joko Tingkir mendapat wangsit untuk tidak melanjutkan agenda ke Pajang jika hanya untuk balas dendam. Dalam mimpinya, ia mendapat pesan dari guru untuk tetap tinggal di Pringgobayan dan melakukan hal baik di sana bersama masyarakat sekitar.

Lanjut tulisan Gus Dur: Dengan demikian, lahirlah sebuah tradisi baru yaitu adanya LSM di luar pusat kekuasaan Pajang. Ini adalah apa yang dirumuskan oleh Dr. Taufik Abdullah dengan istilah hubungan multikratonik. Dalam hubungan seperti ini, selama "kraton kecil" menyatakan ketundukan nominal kepada "kraton besar" sudah dianggap cukup. Bahwa pihak periperal mengembangkan diri dalam pola yang tidak dikehendaki oleh pusat kekuasaan, adalah sesuatu yang baru dalam sejarah bangsa kita.

Kisah di Lamongan inilah yang menandai kedekatan Joko Tingkir bersama masyarakat kecil. Ia membaur tanpa tembok istana sebagai pembatas. Mereka bahu membahu membangun kehidupan masyarakat tanpa mengandalkan kebijakan di pusat kekuasaan. Malahan, ada atau tidak adanya peran pemerintah tidak memengaruhi hidup mereka.

Karenanya, simbol dawet dan dangdut adalah penggambaran yang jenius tentang Joko Tingkir yang merakyat. Kedua elemen tersebut adalah wajah masyarakat Jawa hari ini. Saya setuju bahwa Joko Tingkir adalah seorang raja dan moyangnya banyak ulama yang harus dihormati. Namun bukankah setiap orang bebas mengekspresikan penghormatannya dengan caranya masing-masing? Jika ada orang memaknainya sebagai sosok yang sangat merakyat, di mana letak kesalahannya?

Jangan-jangan semua karena dangdut, musik yang dianggap sebagai kelas bawah. Sebagai seorang raja, Joko Tingkir dianggap tidak layak masuk ke dalam hal-hal yang bersinggungan dengan budaya bawah ini. Jika demikian, kita hanya akan membuat Joko Tingkir terlihat sangat eksklusif. Padahal, Joko Tingkir adalah perwajahan dari seorang raja, ulama, dan bangsawan yang inklusif.

Sarjoko S pegiat Jaringan GUSDURian, tinggal di Yogyakarta

(mmu/mmu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT