ADVERTISEMENT

Kolom

Memaknai (Sepiring) Makanan

Christiardo Thoro Sihombing - detikNews
Jumat, 26 Agu 2022 13:09 WIB
Resep Nasi Berkat Khas Wonogiri
Foto ilustrasi: detikfood/Odilia
Jakarta -

Pernahkah kita memperhatikan sepiring makanan yang ada di hadapan kita dengan saksama? Pernahkah kita berpikir tentang makna dari sepiring makanan yang hendak disantap? Apakah sepiring makanan yang hendak dicicipi hanyalah sebatas produk manufaktur yang sesuka hati dikendalikan atau lebih dari itu?

Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin terasa remeh-temeh. Namun barangkali bisa dikatakan bahwa sebagian besar (jika tidak semua dari masyarakat kita) tidak sungguh-sungguh memaknai sepiring makanan yang hendak disantap. Kita mungkin melantunkan doa sebelum makan. Namun seringkali berdoa sebelum makan, sebagai ungkapan rasa syukur pun adakalanya tak benar-benar menunjukkan sikap bersyukur dan perhatian atas setiap aroma, tekstur, warna, rasa yang hadir dari sepiring makanan.

Hal ini bisa dibuktikan dengan, misalnya, kebiasaan "mengutak-atik" ponsel ketika sedang makan. Kebanyakan dari kita, mulai dari orang dewasa hingga anak-anak melakukannya. Ini belum termasuk membicarakan kebiasaan tidak sehat lainnya seperti menyisakan dan membuang-buang makanan. Suatu habitus buruk yang dapat dijumpai dalam kehidupan sehari-hari.

Berbagai kebiasaan tidak baik ini (atau yang lain namun serupa) hanya mungkin teratasi ketika individu sungguh-sungguh mau sadar bahwa sepiring makanan menampilkan kompleksitas makna yang bernilai. Menampilkan hubungan antara berbagai elemen.

Momen Menyatu

Makan adalah momen menyatu ke dalam proses kehidupan. Claude Fischler, antropolog makanan asal Prancis, dalam artikel jurnalnya Food, Self, and Identity (1988) menegaskan bahwa hubungan manusia dengan makanan sangat kompleks. Sekurang-kurangnya terdapat dua dimensi. Pertama, berangkat dari biologis ke budaya, dari fungsi nutrisi ke fungsi simbolik. Kedua, menghubungkan individu dengan kolektif, psikologis ke sosial.

Boleh dikatakan, sepiring makanan cukup menghadirkan ruang refleksi dan menyadarkan individu ke berbagai perspektif interdisipliner yang luas. Fischler bahkan mengatakan bahwa tidak ada yang lebih penting dan intim daripada makan, tanpa makanan manusia akan binasa. Secara biologis, manusia dan organisme hidup lainnya membutuhkan makanan demi pertumbuhan dan kelangsungan hidup.

Secara kultural, makanan dan masakan seringkali menjadi komponen sentral atau yang tertinggal dari perasaan kolektif suatu tradisi tertentu bahkan ketika tradisi asli lainnya dari kultur bersangkutan telah dilupakan. Makanan tertentu mendefinisikan kelompok atau bangsa tertentu. Di Indonesia misalnya, rendang merepresentasikan identitas orang Minang dengan seluruh kekhasan budaya di dalamnya. Se'i akan selalu mengingatkan suatu tradisi hidup dari orang-orang di Pulau Timor, NTT.

Secara psikologis, makan makanan tertentu dapat mempengaruhi ingatan dan suasana hati seseorang. Bahkan lebih jauh mengingatkan kenangan tentang masa kecil, rumah, dan kebiasaan keluarga. Dalam khazanah yang lebih luas, sosial juga ekologis, makanan menghadirkan ikatan dasar antara diri dan dunia, individu dan masyarakat, mikrokosmis dan makrokosmis. Dengan begitu, makanan (bahkan sepiring makanan) memberi makna mendalam kepada manusia dan semesta, dengan membingkai keduanya dalam suatu sistem relasi secara kontinuitas dan kontiguitas.

Pada tingkat paling sublim, makanan menjadi sarana transformasi dan "penyucian diri" secara spiritual (misalnya momen puasa dalam agama-agama) dan tanda kasih pemeliharaan Sang Pencipta. Dengan kata lain, makanan adalah sarana komunikasi untuk menghubungkan manusia ke berbagai dimensi. Tidak hanya mengkomunikasikan warna, tekstur, bau, dan rasa tetapi juga mengandung bahasa biologis, kultural, psikologis, sosial, ekologis, dan spiritual.

Maka penting untuk menyadari dan memahami makanan sebagai bukan "hanya makanan" (just food), tetapi juga sebagai sarana transformasi makna dan nilai-nilai. Sebab ia terkait dengan banyak hal, berbagai dimensi, dan elemen-elemen penting lainnya. Sementara kini, kerangka sosio-kultural yang secara tradisional mengatur dan membatasi makanan telah banyak terkikis oleh ekonomi dan perubahan teknis dalam gaya hidup.

Makanan cenderung diperhatikan dalam kerangka industrialisme. Cenderung dipandang dari perspektif komoditas, yang prosesnya lebih rumit, dikemas, "ditampilkan" sehingga tak jarang kehilangan konsistensi rasa, bau, dan tekstur yang pada akhirnya menghilangkan cita rasa alami dan tradisionalnya. Juga seringkali kita semakin kesulitan mengkarakteristik suatu olahan. Semakin sulit mengetahui apa yang dimakan.

Hari ini, teknologi makanan semakin kuat dalam arti bahwa kini pemrosesan lebih canggih. Namun dalam konsep kecanggihannya, teknologi cenderung menutupi, meniru, dan mengubah produk alami atau tradisional. Protein dilarutkan, tercipta berbagai rasa buatan, dan aneka teknik pengawetan yang sering dijumpai. Tentu cara demikian mungkin mempermudah. Namun harus diingat, hal itu sekaligus menghilangkan kekhasan rasa sekaligus makna.

Argumentasi ini terasa berlebihan. Tapi itu kenyataan hari ini. Makanan seringkali kurang dimaknai sebagai bahasa yang mengkomunikasikan manusia ke berbagai dimensi kehidupan. Makan tidak cukup memberikan kesempatan bagi setiap orang untuk mengalami keterikatan, tanggung jawab, dan cinta. Sikap, perilaku, dan pemahaman manusia terhadap makanan terasa kian memprihatinkan oleh narasi modernitas yang menjadikannya sebatas komoditi.

Berbagai aspek dan dimensi yang kompleks yang berbalut dan menyatu di dalam sepiring makanan menguap dan hilang oleh perilaku modern. Manusia secara (tidak) sadar mengabaikan kenyataan bahwa makan adalah momen intim dan partisipasi ke dalam proses kehidupan. Makan berarti seseorang diajak untuk melembur ke dalam suatu perenungan tentang proses pertumbuhan kehidupan yang kompleks-integral. Mengingatkan tentang unsur, partisipasi, solidaritas, dan pengorbanan seluruh elemen di dalam alam semesta.

Membangun Habitus

Terlepas dari berbagai akselerasi teknologi makanan dan penemuan mutakhir resep masakan, penting untuk sejenak kembali ke hal-hal mendasar dan sederhana namun bermakna. Tentang sikap dan perilaku kita di hadapan (sepiring) makanan. Refleksi sederhana ini dapat dipraktikkan terutama dimulai dari rumah, dari keluarga, sebagai wadah menyemai nilai-nilai hidup, membentuk sikap, dan menumbuhkan pribadi yang berkarakter.

Pertama, di hadapan sepiring makanan, setiap orang dapat menyadari anugerah alam semesta, ciptaan-Nya, yang luar biasa. Sepiring makanan adalah hasil kerja sama antara matahari, tanah, air, udara, mineral, mikroba, cacing tanah, serangga, petani, nelayan, pedagang, dan saudara/saudari yang memasaknya di dapur. Terjadi partisipasi solidaritas kosmik. Semua elemen dalam keteraturan alamiahnya serentak bekerja sama. Dari perspektif ini, setiap momen di meja (waktu) makan adalah momen sakral, melebur, dan bersolider.

Kedua, makan dengan sikap dan rasa berkeadilan. Makan "secukupnya", menghabiskan yang telah diambil, dan dengannya tidak ada yang terbuang percuma. "Mengambil secukupnya" dan "tidak membuang-buang makanan" mengingatkan setiap orang akan bahaya dari sikap rakus dan serakah, yang senantiasa membawa manusia pada kehancuran. Pun dalam hal makan, setiap orang harus belajar menerapkan sikap secukupnya.

Selain demi kesehatan pribadi, hal ini pun terkait erat dengan "kesehatan" global. Paus Fransiskus melalui ensiklik Laudato Si dengan sangat tegas mengatakan bahwa membuang-buang makanan berarti kita mencuri hak orang miskin. Kurang lebih satu miliar penduduk di bumi menderita kelaparan, tapi sepertiga makanan di bumi dibuang percuma.

Ketiga, makan dengan penuh kesadaran. Sadar dan penuh syukur memerhatikan warna, bentuk, aroma, rasa dari makanan yang disantap. Kesadaran ini dimaksudkan agar individu mengerti bahwa kehidupan lahir dari suatu keanekaragaman kebaikan yang terjadi di alam. Makan adalah saat setiap individu menjadi sadar terhadap keanekaragaman kebaikan yang menyokong hidupnya. Sadar bahwa pertumbuhan adalah proses meleburnya aneka vitamin, kalori, protein dari sumber-sumber makanan.

Melalui Transformative Philosophy of Food (1992), Deane W. Curtin, profesor emeritus filsafat di Gustavus Adolphus College turut mengafirmasi, "Our bodies literally are food transformed into flesh, tendon, blood, and bone." Maka kesadaran pada fakta ini dapat dihayati tidak dengan cara lain selain menghargai makanan. Menurut hemat saya, menghargai makanan berarti menghargai tubuh.

Keempat, makanan kita harus penuh dengan welas asih dan tidak di atas penderitaan makhluk lain. Kata lain, kelangsungan hidup setiap orang dimungkinkan oleh pengorbanan kehidupan organisme lain. Manusia dapat hidup karena kematian organisme hidup lainnya. Manusia harus sadar bahwa ia hidup dari sebuah pengorbanan. Pengorbanan itu mesti dihargai dengan cara, salah satunya, tidak membuang-buang makanan. Membuang-buang makanan adalah ketidakpedulian pada pengorbanan yang terberi.

Kelima, makan dalam suasana persaudaraan. Setiap orang diharapkan untuk tidak mengubah momen sakral makan menjadi kesenangan kerakusan belaka sehingga dengannya hilang suatu dimensi persekutuan kosmik, terutama dengan sesama. Momen makan harus sanggup mengingatkan untuk berterima kasih terhadap semua pihak, terutama kerja keras sendiri. Konkretisasi dalam konteks ini adalah mengusahakan hidup kita untuk "menjadi makanan" bagi orang lain. Yang berarti mau peduli, berbagi, hidup hemat, dan menjadi makna bagi kehidupan di sekitar kita. Singkatnya membuat hidup lebih berarti bagi masyarakat.

Keenam, sejenak memandangi piring yang telah kosong setelah makan menjadi kesempatan bersyukur kepada semua orang, elemen, dan Sang Pencipta. Sekaligus menggagas komitmen untuk hidup tidak sekadar menjadi manusia melainkan lebih menjadi mahkluk sosial, dalam ingatan akan persekutuan universal-kosmik. Pada akhirnya, refleksi ini diharapkan menjadi sarana metanoia cara bersikap setiap individu di hadapan (sepiring) makanan.

Praksis atas refleksi ini dapat dimulai hari ini, dalam keluarga-keluarga sebagai ladang disemainya benih-benih karakter dan mental. Kita mungkin tak terlalu peduli seberapa besar jumlah makanan yang terbuang percuma setiap harinya karena absen kesadaran pada nilai dan makna makanan kita. Sementara tak sedikit bangsa manusia menderita dan meninggal dunia akibat tidak dapat makan. Maka dari itu, solidaritas universal melalui "sikap terhadap makanan" adalah tanggung jawab dan tantangan bersama. "Sikap terhadap makanan" turut menentukan cara kita melihat dunia dan kehidupan.

(mmu/mmu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT