ADVERTISEMENT

Kolom

Tikus Calhoun dan Masa Depan Manusia

Mahmud Khabiebi - detikNews
Jumat, 26 Agu 2022 11:15 WIB
Humanoid robot finger and children finger meets in front of blackboard. Shot in studio with a full frame mirrorless camera.
Foto ilustrasi: iStock
Jakarta -

Mobil terbang, otomatisasi segala bidang, ledakan populasi robot, gawai super canggih adalah hal-hal yang akan muncul dalam benak kita saat membahas tentang dunia masa depan. Namun, benarkah masa depan seindah --seperti yang digambarkan film science fiction-- itu? Bagaimana nasib kaum marjinal yang perannya digantikan robot? Bagaimana nasib pilot jika semua orang dapat menerbangkan mobilnya masing-masing?

Seorang ilmuwan asal Amerika Serikat bernama John Calhoun pernah membuat simulasi mengerikan mengenai kehidupan. Saat itu, sekitar akhir dekade 60-an dia memulai percobaan dengan tikus-tikus dalam laboratoriumnya. Dia membuat simulasi kehidupan di mana sekelompok makhluk hidup yang diwakili tikus berada dalam sebuah tempat dengan ketersediaan pangan tanpa batas, tanpa ancaman predator, suhu udara paling nyaman, serta fasilitas tempat tinggal yang terbaik. Satu-satunya masalah yang nanti akan muncul adalah tidak bertambahnya lahan tempat tinggal tikus-tikus tersebut.

Ketika memulai percobaan ini, Calhoun menyiapkan empat pasang tikus di dalam sebuah tempat yang diklaim muat untuk menampung 3000 ekor tikus. Dengan tempat tinggal layaknya "surga", tidak ada hal lain yang mereka lakukan selain berkembang biak. Populasi tikus meningkat secara eksponensial setiap 55 hari. Sampai pada populasi 620 ekor, pertumbuhan populasi mengalami perlambatan dengan meningkat dua kali lipat setiap 145 hari.

Meskipun begitu, masalah sosial dalam populasi tikus sudah terjadi. Mereka membagi populasi menjadi beberapa kelompok. Komunitas tikus diketahui hanya mampu menampung maksimal 12 individu. Dengan ratusan tikus dalam satu wilayah, banyak di antaranya yang tidak tertampung dalam komunitas. Calhoun mengamati bahwa tikus yang tidak tertampung dalam komunitas ini akhirnya jadi seperti kehilangan tujuan hidup.

Mereka kemudian terisolasi dari tikus-tikus lainnya. Mereka hanya berinteraksi dengan sesama tikus yang tidak memiliki komunitas. Tikus-tikus marjinal ini kemudian saling serang satu sama lain. Satu individu akan menyerang individu lain. Lalu individu yang menjadi korban melampiaskan dendam dengan menyerang tikus lain. Tikus betina dalam kelompok ini memiliki perilaku yang lebih buruk; mereka akan menyerang sarang tikus betina lainnya.

Anak-anak tikus juga ikut menjadi korban keganasan tikus betina agresif dari kelompok marjinal. Anak tikus yang berhasil hidup hingga dewasa akhirnya tidak pernah belajar cara hidup tikus normal. Sebagian tikus yang tumbuh dari induk agresif cenderung tidak tertarik untuk kawin. Sebagian lainnya menjadi tikus kejam yang suka melakukan kekerasan, perkosaan, dan hubungan sesama jenis, serta kanibalisme.

Puncaknya saat populasi tikus sebanyak 2200 ekor, sistem sosial dalam kehidupan tikus benar-benar hancur. Pada titik ini, sudah tidak ada tikus yang dapat memperbaiki sistem. Dalam bahasa yang lebih kejam, tikus-tikus Calhoun sudah lupa cara menjadi tikus. Hasil percobaan ini dipublikasikan Calhoun pada 1972 dalam jurnal yang diterbitkan oleh National Institute of Mental Health, Maryland, Amerika Serikat. Kekacauan masyarakat tikus yang terjadi ia sebut dengan istilah Behavioral Sink.

Jalur yang Sama

Masa depan manusia bisa saja menempuh jalur yang sama seperti tikus-tikus Calhoun. Selama masa modern ini, manusia hidup di Bumi tanpa kekurangan bahan makanan. Bahkan saat ini jumlah orang yang meninggal karena terlalu banyak mengonsumsi gula --hingga mengidap diabetes dan komplikasinya-- terus mengalami peningkatan.

Pemerintah beberapa negara juga mendukung pertumbuhan penduduk karena mereka membutuhkan tenaga kerja baru dan konsumen baru untuk terus meningkatkan ekonomi negaranya. Pembangunan kota dengan gedung pencakar langit sebagai tempat tinggal manusia masih terus berlanjut hingga membuat kota megapolitan terasa sumpek. Masalah yang sedang dihadapi manusia modern serupa dengan masalah yang dihadapi tikus-tikus Calhoun.

Kita sama-sama tidak kekurangan makanan. Beberapa peneliti mengatakan sumber makanan kita cukup untuk menghidupi 10 miliar populasi, tidak memiliki predator, dan tinggal di ruangan ber-AC yang nyaman. Namun ruang gerak kita semakin sempit, dalam arti sebenarnya maupun kiasan.

Populasi manusia yang saat mencapai 7 miliar dengan mayoritas tinggal di kota besar. Gedung pencakar langit dibangun sehingga tingkat kepadatan penduduk semakin tinggi. Ruang gerak sosial juga sempit dengan hanya sedikit orang yang dapat meningkatkan kelas sosialnya. Dua masalah ini persis seperti yang dihadapi tikus Calhoun.

Meskipun begitu, belum tentu masa depan manusia akan sehancur kehidupan tikus Calhoun. Seorang pakar bernama Edmund Ramsden pada 2008 menyimpulkan faktor penyebab kehancuran tikus Calhoun, yaitu kegagalan distribusi makanan.

Pada percobaan Calhoun, tikus-tikus yang menjadi pemimpin komunitas hanya akan membagi makanan ke anggota komunitasnya. Tikus yang berkuasa tidak membagi makanannya untuk tikus marjinal yang terisolasi dari komunitas. Berdasarkan kondisi tersebut, Ramsden berpendapat bahwa masalah terbesar yang dihadapi tikus Calhoun adalah tidak meratanya distribusi makanan, bukan kepadatan penduduk.

Lalu, apakah manusia akan mengalami nasib yang sama seperti tikus-tikus Calhoun? Jika kita mengikuti Ramsden, nasib umat manusia di masa depan sangat ditentukan oleh moral satu persen penduduk Bumi yang menguasai dan mengendalikan ekonomi dunia.

(mmu/mmu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT