Gas Bumi sebagai Pendorong Industri Nasional

ADVERTISEMENT

Kolom

Gas Bumi sebagai Pendorong Industri Nasional

Irnanda Laksanawan - detikNews
Senin, 22 Agu 2022 10:05 WIB
Pipa gas bumi
Foto ilustrasi: shutterstock
Jakarta -

Presiden Jokowi menyatakan subsidi bahan bakar minyak (BBM) sudah menembus Rp 502 triliun. Angka subsidi ini melonjak mencapai 22% dari outlook APBN 2022. Kebijakan subsidi ini diambil agar harga BBM subsidi dan tarif listrik tetap terjangkau masyarakat. Meskipun faktanya biaya pokok produksi sudah lama melonjak akibat gejolak harga energi di pasar global sebagai dampak dari perang Rusia dan Ukraina yang berkepanjangan.

Untuk menjaga daya beli masyarakat, kebijakan subsidi ini dinilai tepat sebagai solusi jangka pendek. Namun apabila tidak ada upaya strategis yang sifatnya komprehensif dan berkelanjutan, ketergantungan terhadap subsidi energi akan membuat APBN tidak sehat. Padahal melalui re-alokasi APBN yang tepat akan dapat mendorong banyak sektor produktif lain untuk tumbuh.

Menghentikan Impor Minyak Bumi: Mungkinkah?

Empat dekade silam, Indonesia memang pernah dikenal sebagai negara pengekspor minyak sampai 1 juta barel per hari. Namun kejayaan itu tak bertahan lama. Pada 2003, Indonesia menjadi net importir setelah kebutuhan minyak melampaui produksi domestik yang terus turun.

Alih-alih menjadi sumber penerimaan negara, impor minyak dan BBM malah berkontribusi terhadap naiknya defisit negara perdagangan migas. Sebagian besar kegiatan ekonomi nasional masih bertumpu pada energi berbasis minyak bumi, khususnya sektor industri dan transportasi. Apalagi realisasi Energi Baru dan Terbarukan (EBT) pada baruan energi pada 2021 hanya 11,5% dan porsi minyak bumi yang diharapkan turun ternyata masih mendominasi 31%.

Rasanya mustahil untuk mengurangi porsi minyak bumi secara drastis dalam waktu singkat. Apalagi kebutuhan minyak mentah dan BBM terus meningkat sementara produksi minyak cenderung turun. Kapasitas kilang domestik hanya mampu memproduksi BBM sekitar 800 ribu barel per hari, dan masih menunggu beberapa tahun lagi adanya peningkatan produksi dari proyek revitalisasi kilang eksisting Pertamina maupun Grass Root Refinery.

Selain peningkatan kapasitas kilang domestik, upaya mengurangi ketergantungan impor minyak yang sudah dilakukan antara lain; pertama, menggenjot produksi hulu melalui eksplorasi yang massive, Enhanced Oil Recovery (EOR), optimasi sumur eksisting, surface facility, dan percepatan pengembangan lapangan marjinal. Kedua, program mandatori biodiesel 30 (B30) menjadi B40. Ketiga, percepatan penetrasi pasar kendaraan listrik, baik roda dua maupun roda empat yang akan mengurangi sisi demand BBM.

Menggenjot Gas Bumi sebagai Prime Mover Pertumbuhan Ekonomi

Dengan prinsip mengoptimalkan sumber daya domestik, masih ada potensi sumber daya energi lain yang dapat dijalankan yaitu pemanfaatan gas bumi seoptimal mungkin untuk pembangunan ekonomi. Potensi gas bumi Indonesia sangat besar. Data ESDM menyebutkan cadangan gas bumi mencapai 62,4 triliun kaki kubik dengan cadangan terbukti 43,6 triliun kaki kubik.

Sebagian besar prospek migas yang belum dieksplorasi berada di lepas pantai dan tersebar wilayah timur Indonesia. ESDM baru-baru ini merilis potensi sumber daya gas di blok Andaman dengan rata-rata temuan mencapai 6 triliun kaki kubik (TCF). Temuan ini termasuk giant discovery, setelah blok Masela dan East Natuna.

Gas bumi adalah energi fosil yang paling bersih karena intensitas karbon yang rendah, dapat dikonversi dalam bentuk cair, aman, dan mudah ditransportasikan Dengan lifting gas mencapai 5.500 mmscfd, saat ini sekitar 60 persen produksi gas digunakan untuk kebutuhan domestik, sisanya diekspor dalam bentuk LNG. Pengguna terbesar gas domestik adalah manufaktur, petrokimia, pupuk, listrik dan LNG. Meski kaya cadangan gas, faktanya 80% kebutuhan LPG masih dipenuhi oleh impor sebesar US$ 4,09 miliar atau sekitar Rp 58,5 triliun pada 2021.

Sebagai upaya substitusi impor minyak dan BBM, pengembangan gas bumi harus menjadi prioritas utama. Paradigma baru pengelolaan energi hendaknya memposisikan gas bumi sebagai energy transition vehicle yang menjembatani peralihan energi fosil secara bertahap ke penggunaan EBT sepenuhnya. Sekaligus mengisi celah yang belum dapat dipenuhi oleh EBT pada bauran energi nasional.

Bagaimana implementasi strategi gas bumi sebagai energy transition vehicle untuk mendorong industri nasional?

Pertama, inovasi kebijakan dan aturan yang mampu memberikan solusi permanen terhadap berbagai tantangan antara lain masih tidak meratanya penerapan harga tertentu di antara sektor industri eksisting, yang berpangkal pada pemasok yang belum menandatangani perjanjian kerja sama. Untuk itu, diperlukan dukungan berupa insentif fiskal dan akses pendanaan kepada seluruh rantai usaha industri gas bumi dari hulu sampai hilir. Sehingga diharapkan terwujudnya kebijakan gas bumi satu harga dengan tujuan menaikkan daya saing produk domestik dan memicu investasi.

Kedua, terobosan fiscal term yang mampu menarik investasi sektor hulu sekaligus meningkatkan nilai keekonomian proyek. Beberapa proyek pengembangan gas masih menemui kendala terkait kepastian pengembalian tingkat investasi, Ada baiknya, proyek pengembangan gas ini menjadi prioritas untuk dimasukkan ke dalam Proyek Strategis Nasional sehingga mendapatkan fasilitas, kemudahan dan jaminan hukum.

Ketiga, mendorong infrastruktur industri gas, seperti ekspansi pipa distribusi dan transmisi, program jargas (city gas) 10 juta rumah tangga, produksi rich gas dan pengolahan LPG, terminal LNG dan regasifikasi, pengembangan methanol, dan mini LNG/CNG untuk kawasan terpencil.

Keempat, membentuk badan penyangga gas yang berfungsi membangun infrastruktur, distribusi-transmisi sampai penjualan ke konsumen. Badan penyangga ini akan mengatur tata niaga dan mengelola harga gas. Badan penyangga ini tidak harus lembaga baru, karena bisa dikelola Pertamina atau PGN yang sudah berpengalaman mengelola bisnis gas

Optimalisasi gas bumi diharapkan dapat meningkatkan daya saing industri dalam negeri sekaligus mendorong ekonomi daerah. Industri penunjang pembangunan infrastruktur gas, khususnya di daerah harus diberikan ruang sekaligus akses kemudahan untuk berkembang. Mempertimbangkan harga listrik dari EBT yang masih belum kompetitif, penggunaan gas bumi merupakan prioritas sebagai bagian dari upaya transisi energi sekaligus mengurangi impor minyak dan BBM.

Irnanda Laksanawan, PhD Strategic Advisor - Centre for Energy and Innovations Technology Studies (CENITS)

(mmu/mmu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT