ADVERTISEMENT

Kolom

Pelajaran Lugas dari Penarikan Produk Haagen-Dazs

Sunardi Siswodiharjo - detikNews
Jumat, 19 Agu 2022 14:10 WIB
Pelajaran Lugas dari Penarikan Produk Häagen-Dazs
Sunardi Siswodiharjo (Foto: dok. pribadi)
Jakarta -

Salah satu berita yang menarik serta banyak menyita perhatian masyarakat pada beberapa minggu yang lalu adalah terjadinya penarikan produk es krim kelas premium merek Haagen-Dazs rasa vanila. Musababnya, ditemukan kandungan Etilen Oksida (EtO) dalam produk tersebut yang melampaui batas sehingga dapat membahayakan konsumen.

Penarikan produk tersebut dilakukan oleh sebuah raksasa global produsen makanan, General Mills, pemilik merek Haagen-Dazs yang berbasis di Amerika Serikat. Namun begitu es krim merek Haagen-Dazs yang beredar di Indonesia serta terdaftar di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) diimpor dari fasilitas produksi mereka di Prancis.

Penarikan produk tersebut merupakan perintah dari BPOM (mandatory recall), yang dalam situs resminya menjelaskan bahwa lembaga itu menerima informasi dari Indonesia Rapid Alert System for Food and Feed (INRASFF) pada 8 Juli 2022 soal kandungan Etilen Oksida dalam es krim Haagen-Dazs. Peringatan yang berasal dari European Union Rapid Alert System for Food and Feed (EURASFF) ini menyatakan dalam es krim Haagen-Dazs vanila ditemukan EtO dengan kadar melebihi batas.

Akibatnya produsen wajib menarik stok es krim tersebut di seluruh gerai di Indonesia. Diduga residu EtO berasal dari bahan tambahan pangan (BTP) golongan stabilizer dari jenis gum.

Risiko Keamanan Pangan Olahan

Sebenarnya dalam konteks keamanan pangan, menurut para ahli tidak dijumpai tingkat paparan yang aman bagi konsumen terhadap produk yang diketahui terkontaminasi EtO, sebuah bahan kimia beracun, anti bakteria dan pestisida yang sudah dilarang di wilayah Uni Eropa. Dengan demikian, di kawasan ini akan dilakukan penarikan produk jika ditemukan residu EtO di dalam sebuah produk makanan. Risiko kesehatan akibat paparan jangka panjang residu EtO dalam makanan adalah kanker.

Temuan residu EtO dalam pangan adalah isu yang relatif baru yang dimulai pada 2020. Sayangnya, Codex Alimentarius Commision, sebagai organisasi internasional di bawah WHO/FAO, belum mengatur batas maksimal residu EtO sehingga terjadi perbedaan pengaturan di setiap negara.

Bagi sebagian besar orang Indonesia, mengonsumsi es krim memang bukan merupakan aktivitas yang terlalu sering serta terus menerus dilakukan. Apalagi es krim premium yang harganya pasti sangat mahal, sehingga kemungkinan terpapar secara jangka panjang menjadi lebih kecil. Penarikan produk es krim hanyalah sebagian kecil dari isu keamanan pangan olahan yang pernah terjadi, dilaporkan, dan akhirnya diketahui masyarakat.

Sesungguhnya masih ada lebih banyak persoalan keamanan pangan lain yang belum banyak disadari oleh masyarakat luas. Saat ini sejatinya kita telah "dikepung" oleh ribuan produk pangan olahan dan tanpa disadari kita mengonsumsinya secara terus-menerus. Produk-produk ini lazimnya dijual dengan harga yang relatif terjangkau dengan rasa yang sangat enak (hyperpalatable food) sehingga menimbulkan keinginan untuk mengonsumsinya secara terus-menerus.

Salah satu komposisi hyperpalatable food adalah bahan tambahan pangan (BTP). BTP dapat menjadi salah satu titik awal terjadinya risiko kesehatan konsumen. Untuk itu BPOM menerbitkan sebuah Peraturan BPOM Nomor 11 Tahun 2019 Tentang Bahan Tambahan Pangan. Dokumen setebal 1.156 halaman ini berisi 27 golongan BTP mulai dari antibuih (antifoaming agent) untuk untuk mencegah pembentukan buih hingga sekuestran (sequestrant) yang mengikat ion logam polivalen untuk membentuk kompleks sehingga meningkatkan stabilitas dan kualitas pangan.

Semua BTP diatur batas maksimal penggunaannya sehingga ADI (Acceptable Daily Intake). ADI adalah jumlah maksimal bahan tambahan pangan (BTP) yang dapat dikonsumsi setiap hari selama hidup tanpa menimbulkan efek merugikan terhadap kesehatan, termasuk pemanis buatan (artificial sweetener).

Namun demikian, sebuah riset kohor terkini dan sangat menarik telah dilakukan oleh Debras et al. (2022) dari rentang 2009 hingga 2021. Penelitian yang bertajuk "Pemanis Buatan dan Risiko Kanker: Hasil dari Nutrinet-Sante Berbasis Populasi Studi Kohor". Studi ini dilakukan terhadap 102.865 orang dewasa berbasis populasi Prancis.

Hasil riset ini menunjukkan bahwa pemanis buatan, terutama acesulfame-K (E950) dan aspartame (E951), yang ditemukan di lebih dari 12.000 makanan dan minuman referensi di seluruh dunia, dapat meningkatkan risiko kanker. Aspartam juga disebutkan memberikan pengaruh pada kanker payudara. Temuan ini juga memberikan wawasan penting dan baru untuk evaluasi ulang pemanis buatan yang sedang dilakukan oleh Otoritas Keamanan Pangan Eropa.

Asupan harian pemanis buatan itu masih di bawah ADI untuk aspartam (40 mg/kg berat badan/hari) dan asesulfam (9 mg/kg berat badan/hari). Namun, dari studi kohor di atas ditunjukkan bahwa asupan pemanis buatan dari makanan dan minuman berhubungan dengan risiko penyakit kanker meskipun asupannya di bawah ADI.

Bahaya Resistensi Leptin

Es krim hanyalah salah satu wujud pangan olahan yang lazimnya diproduksi melalui tahap proses yang cukup banyak (ultra-processed food) yang salah satu cirinya adalah tinggi kalori. Kalori umumnya dikontribusi oleh gula dan lemak yang juga menjadi sumber utama rasa sangat enak pada makanan dan membuat konsumen sulit berhenti makan.

Semua konsumsi makanan yang kalorinya berlebihan, baik yang berasal dari karbohidrat ataupun lemak, akan disimpan dalam bentuk sel lemak di dalam tubuh melalui mekanisme lipogenesis. Hormon leptin berperan penting dalam penentuan kadar lemak tubuh manusia. Leptin bertugas mengirimkan sinyal ke otak bagian hipothalamus untuk memberitahu bahwa subuh sudah mendapat cukup makanan dengan menurunkan nafsu makan.

Leptin diproduksi di dalam sel lemak, sehingga makin tinggi sel lemak makin banyak leptin dalam tubuh manusia. Masalah muncul jika jumlah sel lemak berlebih (obesitas), akibat dari asupan kalori berlebih dan menyebabkan hormon leptin juga berlebih dan akibatnya tubuh tidak lagi memberikan sinyal ke otak bahwa tubuh sudah mendapat cukup makanan. Akhirnya resistensi leptin terjadi; penderita makan terus menerus karena otak masih menganggap tubuh manusia butuh makanan. Ini sebabnya penderita obesitas mudah menjadi gemuk kembali.

Kasus penarikan produk Haagen-Dazs harus dijadikan momentum mengenai pentingnya isu terkait keamanan serta bahaya tersembunyi lain seperti risiko kanker serta resistensi leptin dari pangan olahan. Kembali mengonsumsi pangan lebih alami (less – unprocessed food) yang rendah kalori dan tinggi serat adalah pilihan rasional dan lebih sehat di masa kini dan di masa depan.

Sunardi Siswodiharjo Food Engineer, R&D Manager pada multinational food corporation (2009 – 2019), pemerhati masalah nutrisi dan kesehatan

(mmu/mmu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT