ADVERTISEMENT

Goyang Dangdut dan Pesan Istana

Iwan Yahya - detikNews
Kamis, 18 Agu 2022 16:56 WIB
Iwan Yahya (Dok. Pribadi)
Foto: Iwan Yahya (Dok. Pribadi)
Jakarta -

Semburat haru, khidmat dan kegembiraan terajut indah memancar dari istana negara kemarin. Perayaan hari proklamasi kemerdekaan 17 Agustus tahun 2022 ini menyajikan nuansa berbeda. Lantunan Farel Prayoga bagaikan suara malaikat yang menghipnotis hadirin. Istana bergoyang dangdut dalam suka.

Memang begitulah seharusnya sebuah perayaan. Puji syukur atas rahmat Tuhan Yang Maha Esa berupa kemerdekaan dan pencapaian kemajuan pembangunan saat ini layak diselaraskan dengan ekspresi kegembiraan setiap anak bangsa.

Dangdut itu wujud ekspresi dan penyampaian pesan yang jujur, lugas dan sederhana. Seperti penggalan syair dalam lagu Pokoke Joget. Tak mengerti lagunya, tak paham syairnya, tak kenal penyanyinya, bahkan tak tahu siapa pencipta lagunya pun bukan masalah. Yang penting joget, titik. Dangdut juga tak mengenal kasta dan tak pula membeda-bedakan identitas. Seperti bunyi syair di bagian lain lagu itu.

Bahwa apa pun ragam dan gaya jogetnya, sesungguhnya semua penikmat dangdut itu sama. Bertaut sebagai teman dalam selaras kuat ikatan emosional yang sama. Penuh suka-cita. Sementara mereka yang gemar memicu kericuhan dipandang sebagai perusuh kampungan. Sesederhana itu. Joget laksana impak dari alunan yang merasuki jiwa. Membebaskan, melepaskan beban.

Suasana riang di istana kemarin itu tentu menggelitik kesadaran. Adakah isyarat dan pesan tertentu yang sedang disampaikan melalui sajian epik seorang Farel Prayoga? Mengapa Farel ditampilkan justru di saat protokoler upacara belum ditutup dan usai?

Untaian Tiga Isyarat

Lagu 'Ojo Dibandingke' karya Abah Lala yang dilantunkan Farel Prayoga di istana negara kemarin mengungkap sisi manusiawi yang berlaku bagi siapa saja. Bahwa setiap pribadi memiliki kesejatian mereka sendiri. Karena itu perbuatan membanding-bandingkan seseorang dengan orang lain, siapa pun dia, niscaya selalu memicu rasa rasa tidak nyaman. Itu berlaku dalam setiap relasi dan interaksi.

Terlebih jika itu berkait urusan cinta dan perasaan mencintai. Pembandingan adalah ironi laksana prasangka buruk yang merusak keindahan, semerbak, dan nilai pengorbanan dalam diri siapa pun yang diliputi ketulusan mencintai.

Keadaan itu menjadi sangat sesuai jika dikaitkan dengan hiruk pikuk interaksi berbangsa kita saat ini. Perbedaan orientasi dan preferensi politik kerap menjebak kesadaran kita untuk tanpa sadar tergiring pada perbuatan pemaksaan kehendak dan membanding-bandingan satu pihak dengan pihak lain.

Diksi angkuh nan kerap mendiskreditkan bahkan merendahkan pihak lain yang berada pada posisi berdiri berseberangan. Pilunya, hal seperti itu justru lebih memperjelas keterbelakangan dan kegagalan pemaknaan pelakunya atas kedaan dunia yang kian tanpa sekat dan berubah sedemikian cepat. Tak dapat dipungkiri, dalam konteks ini presiden dan istana berada pada posisi yang paling sering menjadi sasaran.

Saya memuji kecakapan ide sajian dangdut dalam perayaan di istana kemarin. Itu merupakan bentuk kemasan isyarat yang unik namun cukup kuat. Karakter dangdut yang egaliter bukan saja menghadirkan suasana asyik, lebih dari itu, menjadi penaut yang sangat jitu kepada dua pesan presiden sebelumnya.

Pada saat menyampaikan pidato kenegaraan di depan sidang bersama MPR, DPR dan DPD tanggal 16 Agustus 2022 yang lau, secara eksplisit Presiden Joko Widodo mengingatkan semua pihak untuk berhenti melakukan perilaku politik identitas.

Tentu segenap anak bangsa ini telah dapat mengambil hikmah dari pengalaman masa lalu. Bahwa manipulasi simbol-simbol agama dan penonjolan identitas kelompok yang bersifat primordial dan eksklusif dalam politik dapat merusak sendi kebhinekaan Indonesia. Mendistorsi keindahan harmoni yang pada akhirnya akan menempatkan seluruh rakyat dan bangsa ini sebagai pihak yang paling dirugikan.

Istana seolah sedang berkata, mari belajar kepada kesederhanaan berpikir dan bertindak para dangdut mania. Dangdut itu bagai pintu besar yang tak mengenal penolakan. Tak pula mengajarkan pembedaan. Siapa pun dia, dari mana pun asalnya, apa pun suku dan agama yang dianutnya. Tidak peduli. Setiap orang cukup hanya membuka telinga dan rasa lalu membiarkan hentakan gendang dan alunan nada seruling merasuki jiwa sembari menikmatkan mata dengan lenggok biduan. Maka kemudian siapa pun boleh larut dengan luapan ekspresi yang sama.

Merdeka untuk bergoyang dengan apa pun ragam joget yang dipilihnya. Sisi lain dari karakter dangdut yang tampaknya sangat difahami istana adalah bahwa musik khas Indonesia itu memiliki daya membebaskan. Mampu melepaskan penat karena terekspresi beban batin dan derita. Mengajak siapapun untuk nyaman menikmati alunan nada melintasi bilangan waktu. Bergoyang meski kadang syairnya menyuarakan kepedihan dari cinta yang bertepuk sebelah tangan.

Dangdut itu merontokkan daki dari kusam padang kesadaran. Bisa jadi, hal itu pula yang hendak disampaikan istana. Ajakan untuk memaknai setiap perjalanan waktu sebagai rahmat Tuhan nan teramat bernilai untuk dinikmati.

Sajian lagu dangdut Ojo Dibandingke di tengah urutan protokoler upacara memicu beragam tafsir. Sementara pihak ada yang mengaitkan hal itu dengan isyarat tingginya tensi politik yang sedang terjadi saat ini. Ekosistem politik kita sedang sangat memerlukan mekanisme relaksasi dan pelepasan energi secara positif. Dalam perspektif itu, sajian dangdut di tengah upacara merupakan ekspresi yang tepat untuk keadaan itu.

Analog dengan mekanisme meredam getaran sistem fisis dengan cara melakukan kontrol dan distribusi masa pada sistem resonansi. Teknologi ini dikenal dengan istilah distributive vibration absorber (DVA). Untuk melakukan kendali terhadap frekuensi resonansi tertentu yang dinilai mengganggu, ilmuwan dapat menempuh dua cara berbeda yakni dengan menambah atau justru dengan mengurangi massa dalam sistem resonansi.

Cara sederhana dan paling lazim ditempuh adalah dengan pengurangan massa. Reduksi massa secara signifikan otomatis akan memupus kemampuan reaktif sistem pegas yang ada. Kehilangan kemampuan reaktif itulah yang kemudian secara alami akan menghilangkan riak penggangu. Saya menduga, bahwa penampilan Farel Prayoga membawa isyarat seperti itu. Bahwa negara perlu menempuh kontrol maksimal demi keselarasan yang sangat dibutuhkan untuk mengawal sukses dan laju pembangunan yang dicanangkan pemerintah.

Di sisi lain, masih lekat di ingatan kita semua. Beberapa waktu yang silam Presiden Jokowi juga secara tegas mengingatkan semua pihak. Jangan terburu-buru dalam bersikap dan melangkah. Ojo kesusu dalam politik. Pesan yang sangat bijak karena setiap perbuatan terburu-buru selalu menyajikan lubang kecerobohan.

Hasrat tak terkendali pada perubahan yang menjanjikan hasil cepat dapat menyebabkan hilangnya kendali dan pertimbangan bijak atas detil subyek yang justru sangat esensial. Pesan ojo kesusu yang disampaikan Presiden Joko Widodo waktu itu sejalan dengan ayat semesta. Bahwa setiap entitas kehidupan telah ditakdirkan berjalan dalam garis waktunya masing-masing. Adapun kehebatan akal budi setiap orang adalah berkah yang dapat disemai pada saat yang tepat. Mengejawantah ditautkan pada posisi yang menguatkan pemaknaan atas peristiwa yang disematkan Tuhan Yang Maha Esa pada garis perjalanan waktu itu.

Menjadi sebab yang menyegerakan tersalurnya faedah. Menyaksikan perayaan kemarin menghadirkan rasa bahagia, syukur dan haru. Seolah istana sedang berkata, mari belajar kepada para dangdut mania. Bahwa kita itu semua sama. Tercipta dengan perbedaan kodrati yang sejatinya merupakan rahmat Tuhan tiada tara. Maka membincangkan perbedaan adalah kesia-siaan belaka. Mari selaras berfokus perkuat kebersamaan saja. Membuang dan menepis jauh perbedaan karena kita adalah satu dalam kemajemukan. Menikmati rambatan waktu dengan kekuatan akal budi. Bila perlu bergoyang dalam keserempakan hati dan jiwa yang bersuka.

Joget dalam hasrat atas nama satu cinta yang sama untuk tumpah darah nan jaya. Dirgahayu Indonesia kita yang merdeka. Pulih lebih cepat bangkit lebih kuat.

Iwan Yahya. Dosen dan peneliti. The Iwany Acoustics Research Group (iARG) Program Studi Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sebelas Maret Surakarta.

(rdp/rdp)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT