ADVERTISEMENT

Kolom

Setelah Euforia Farel Prayoga "Menggoyang" Istana

Mumu Aloha - detikNews
Kamis, 18 Agu 2022 15:06 WIB
Farel PRayoga di Istana Negara
Foto: dok. Channel YouTube Sekretariat Negara
Jakarta -

Euforia perayaan HUT Kemerdekaan Indonesia membahana di kampung-kampung dengan kembali digelarnya "malam tirakatan" setelah dua tahun absen karena pandemi. Di level kampung, perhelatan ini sudah menjadi semacam tradisi wajib sejak lama. Warga di tiap RT berkumpul, berdoa bersama, memotong tumpeng, makan-makan, dan biasanya dilanjutkan dengan acara hiburan sampai larut malam. Warga menyanyi, berjoget, diiringi orgen tunggal atau musik karaoke -pokoknya bersuka ria.

Jalan-jalan kampung ditutup, acara digelar tengah pertigaan, atau di depan pos-pos ronda, ada yang dilengkapi panggung dan tenda, ada yang menghampar lesehan di atas tikar. Biasanya, pada sore harinya digelar berbagai lomba untuk anak-anak sampai orang tua, lomba permainan yang bersifat hiburan dan seru-seruan. Pembagian hadiah untuk para pemenang lomba dilakukan saat acara tirakatan. Selain itu, acara tirakatan sendiri juga dimeriahkan dengan pembagian door prize, dari sabun cuci, tumbler minuman, sampai panci. Dana acara dihimpun dari sumbangan masyarakat.

Pemuda desa atas nama Ketua RT mengedarkan surat permintaan sumbangan dilengkapi dengan amplop ke rumah-rumah warga, satu atau dua minggu menjelang tanggal 17 Agustus. Ada juga kampung-kampung dengan ke-RT-an yang kreatif; mereka memiliki dana khas dari iuran rutin, yang bisa digunakan untuk berbagai kegiatan warga, termasuk untuk acara "tujubelasan". Begitulah, dengan cara masing-masing, warga berinisiatif memeriahkan dan meramaikan peringatan hari kemerdekaan.

Beda dengan level kampung, di tingkat negara, acara peringatan digelar dengan upacara bendera di Istana Negara. Sejak negeri ini dipimpin Presiden Joko Widodo, kita menyaksikan upacara bendera dengan nuansa yang berbeda. Pak Jokowi menerapkan "tradisi baru" dengan mengenakan pakaian adat, dan mewajibkan para undangan melakukan hal yang sama. Di layar televisi kita menyaksikan, tahun-tahun belakangan ini upacara bendera di Istana Negara menjadi tontonan yang mengasyikkan.

Pakaian adat yang dikenakan Pak Jokowi, juga Ibu Iriana menjadi perbincangan hangat di masyarakat dan dibahas di media. Tidak hanya itu, acara hiburan di sela-sela upacara juga akan menjadi perhatian tersendiri. Tahun ini, seolah menjadi puncak euforia perayaan ulang tahun kemerdekaan pascapandemi, panampilan penyanyi cilik asal Banyuwangi yang viral karena membawakan lagu Jawa yang sedang hits, berjudul Ojo Dibandingke, menjadi trending topic yang gegap gempita di media sosial.

Sebelum hari H pelaksanaan upacara, kabar bahwa pihak Istana akan mengundang "bocah viral" bernama Farel Prayoga itu sudah menjadi berita. Video-video yang memperlihatkan Presiden memberikan briefing, saat Farel latihan dan gladi resik, bahkan saat bocah itu berangkat ke Jakarta naik pesawat pada Selasa (16/8) bertebaran di media sosial. Potongan video saat Farel "menggoyang" istana dan berhasil membuat para menteri dan tamu undangan upacara berjoget juga langsung beredar di Youtube, Twitter, dan Tiktok.

Bagi yang menonton upcara tersebut di televisi bisa menyaksikan, Ibu Iriana pun berdiri dari tempat duduknya dan tak tahan untuk ikut berjoget "tipis-tipis". Sementara Pak Jokowi terlihat "gatal" untuk ikut bergoyang, tapi berkali-kali seperti ragu-ragu, sehingga hanya duduk saja di tempatnya sambil tertawa-tawa senang melihat sejumlah menterinya berjoget mengerubuti Farel Prayoga yang menyanyi dengan gerakan tangannya yang khas di panggung kecil dan rendah.

Lagu Ojo Dibandingke yang membuat Farel viral dan sampai menarik perhatian Presiden untuk mengundangnya ke istana adalah semua lagu Jawa masa kini yang berirama riang. Layaknya lagu-lagu Jawa yang populer belakangan, lagu tersebut mengungkapkan curahan hati perihal asmara, yang dituangkan dalam lirik-lirik berbahasa Jawa sehari-hari yang mudah diingat. Berbeda dengan lagu-lagu Jawa era Gesang, Manthous hingga Didi Kempot yang menggunakan "bahasa sastra", lagu-lagu Jawa era belakangan, yang antara lain meroketkan nama-nama dari Cak Dikin hingga Denny Caknan, lebih "santai".

Didi Kempot boleh dibilang menjadi transisi pergeseran itu. Pada musisi yang dijuluki Godfather of Broken Heart itu kita masih mendengar kata-kata "sulit" seperti "ngreridhu (ati)" dan berbagai metafora yang "tinggi", seperti menyebut "hujan" dengan "banyu langit" (air dari langit), tapi pada saat yang sama lagu-lagunya mudah diterima karena mewakili perasaan patah hati dan gagal dalam percintaan, sebagaimana telah kita jumpai pada lagu-lagu Gesang (dan Manthous).

Sementara para musisi yang muncul setelah Didi Kempot seolah semakin "tanpa beban" untuk menggunakan bahasa Jawa keseharian dan dengan enteng mencampuradukkan dengan bahasa Indonesia, sehingga lagu-lagu mereka lebih mudah diterima kalangan yang lebih luas. Lagu Ojo Dibandingke misalnya, ciptaan seniman Boyolali Abah Lala dan awalnya dipopulerkan oleh Denny Caknan, menyandingkan kalimat-kalimat: tak oyaka, aku ya ora mampu/ mung sak kuatku mencintaimu// ku berharap engkau mengerti/ di hati ini hanya ada kamu.

Lagu ini berkisah tentang "si aku lelaki" yang kalah bersaing dalam memperebutkan cinta bercinta (seorang perempuan), dan secara realistis mengaku kalah dibandingkan dengan pesaingnya. Ia meminta agar jangan dibanding-bandingkan dan dipersaingkan, karena dirinya merasa "tidak akan mampu mengejar" dan "mencintai sekuatnya saja".

Lagu ini meledak luar biasa, viral di berbagai platform media sosial, dinyanyikan dalam berbagai versi oleh banyak penyanyi. Lagu ini seolah menjadi antitesisi dari maskulinitas yang jemawa seperti pernah dibawakan oleh grup brand Dewa dalam lagu Risalah Hati: aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku meski kau tak cinta kepadaku. Sikap over-confindence yang heroik ini rupanya mulai disadari terasa muluk-muluk dan mengawang. Sikap membumi yang apa adanya lebih mengena dan mewakili perasaan mayoritas para pecinta yang sedang mengarungi kisah asmara: Aku ra iso yen kon gawe-gawe/ jujur, sak anane....

Viralnya lagu Ojo Dibandingke versi Farel Prayoga adalah sastra rakyat hari ini. Dan, diundangnya sang penyanyi cilik bersuara melengking itu ke Istana dalam perhelatan khidmat upacara peringatan kemerdekaan mestinya tidak hanya sekedar menjadi hiburan asyik sesaat yang melenakan, melainkan dilihat sebagai laboratorium sosial-politik Indonesia hari-hari ini. Tempat kita melihat masyarakat lebih dekat, terutama akar rumput, seperti yang terefleksi di timeline media sosial, dan menjadi jendela bagi para penguasa dan pengambil kebijakan untuk memahami kehidupan rakyatnya dan mengambil keputusan yang tepat.

Mumu Aloha wartawan, editor

Simak Video 'Profil Farel Prayoga, Penyanyi Cilik yang Viral Bawakan Lagu 'Ojo Dibandingke'':

[Gambas:Video 20detik]




(mmu/mmu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT