ADVERTISEMENT

Analisis Zuhairi Misrawi

Meneladani Muhammad Thahir bin 'Asyur

Zuhairi Misrawi - detikNews
Jumat, 12 Agu 2022 16:15 WIB
zuhairi misrawi
Zuhairi Misrawi (Foto: istimewa)
Jakarta -

Pada tahun ini, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Tunis menggelar diskusi mengenang pemikiran ulama besar Tunisia, Muhammad Thahir bin 'Asyur di Wisma Duta Besar RI. Hadir dalam kegiatan tersebut, keluarga besar Ibnu 'Asyur, di antaranya Rafa' bin 'Asyur, mantan Duta Besar Tunisia untuk Maroko; Muhammad 'Abdul 'Aziz bin 'Asyur, mantan Menteri Sosial Tunisia; Eyad bin 'Asyur, peneliti Baitul Hikmah; Rabi'a bin 'Asyur, guru besar di Universitas Carthage.

Selain itu, hadir juga 'Arusi al-Mizuri dan Ahmad 'Adhum, mantan Menteri Agama, Tunisia. Sedangkan dua ulama besar menjadi narasumber, yaitu Syaikh Hisyam bin Mahmud, Imam Besar Masjid Zaitunah dan Syaikh Afif Shubabati, Imam Besar Masjid Anas bin Malik. Mereka memberikan apresiasi yang luar biasa kepada KBRI Tunis yang telah mempunyai inisiatif untuk menggelar peringatan 50 wafatnya ulama terkemuka Tunisia dan mengenang kembali pemikirannya, serta pengaruhnya di dunia Islam, khususnya Indonesia.

'Allamah Muhammad Thahir bin 'Asyur merupakan sosok ulama istimewa, karena menulis banyak karya yang dibaca luas di dunia Islam. Di Tunisia, ia menjadi sosok yang mendapatkan perhatian dan pengaruh dari berbagai lapisan masyarakat di Tunisia, bahkan pengaruhnya meluas ke berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia. Sebab itu pula, saya mengangkat tema diskusi "Muhammad Thahir bin 'Asyur: Pelopor Reformasi dan Pembaruan di Dunia Islam".

Ada beberapa karya Muhammad Thahir bin 'Asyur yang dikenal luas dan dibaca di Tanah Air, bahkan turut mewarnai khazanah pemikiran keislaman, di antaranya kitab tafsir al-Tahrir wa al-Tanwir, Maqashid al-Syari'ah al-Islamiyyah, dan Ushul al-Nidzam al-Ijtima'i fi al-Islam. Saya secara pribadi menjadi pembaca dan penikmat setia karya-karya Muhammad Thahir bin 'Asyur sejak masih kuliah di Universitas al-Azhar, Kairo, Mesir pada tahun 90-an hingga sekarang ini.

Membaca karya-karya Muhammad Thahir bin 'Asyur, kita terbawa menyelami keindahan ajaran Islam yang sangat luas dan kaya. Ia menulis gagasan yang di dalamnya ada nuansa universalitas, tetapi juga di membincangkan soal kontekstualitas dan hal-hal terkait futuristik. Di satu sisi, nuansa langit yang di dalamnya ada nilai-nilai luhur keislaman yang harus menjadi fondasi dalam memahami substansi Islam, seperti gagasan tentang fitrah, toleransi, keadilan, dan kebebasan, tetapi juga tidak luput bagaimana agar gagasan-gagasan tersebut diimplementasikan dalam realitas kehidupan kontemporer.

Dalam buku Ushul Nidzam al-Ijtima'i fi al-Islam, setelah menjelaskan tentang gagasan besar yang terdapat dalam Islam, ia kemudian menjelaskan bahwa reformasi di dalam ruang lingkup keislaman sejatinya dapat menyentuh dua ranah, yaitu individu dan sosial. Reformasi tidak cukup hanya meliputi dimensi sosial, tetapi dimensi individu juga sangat penting, bahkan perlu mendapatkan perhatian khusus dan serius, karena tidak mungkin terjadi perubahan-perubahan besar pada level sosial, jika tidak didukung oleh individu-individu yang mumpuni. Sebab itu, perubahan pada tataran individu tidak kalah penting daripada perubahan pada tataran sosial. Perubahan pada tataran individu merupakan jalan dan jembatan perubahan pada tataran sosial.

Maka dari itu, Muhammad Thahir bin 'Asyur memberikan perhatian terhadap pendidikan sebagai pilar penting kemajuan sebuah bangsa dan peradaban. Bahkan ia menulis buku khusus perihal pentingnya pendidikan dan reformasi di dalamnya, Alaysa al-Shubhu bi Qarib. Buku ini dikenal sebagai salah satu buku penting dalam pembaruan pendidikan di Tunisia, bahkan dunia Islam, sehingga pendidikan Islam sejatinya harus merespons kemodernan. Ia tetap berpijak pada tradisi, tetapi juga tidak menutup mata terhadap modernitas. Tradisi dan modernitas harus berjalan beriringan, berkait kelindan. Dari tradisi menuju modernitas.

Tidak luput ia menggarisbawahi peran perempuan dalam masyarakat, karena Islam pada hakikatnya memuliakan kaum perempuan. Bersama laki-laki, kaum perempuan dapat memainkan peran penting di dalam masyarakat, karena pada hakikatnya pesan-pesan al-Quran ditujukan pada kaum laki-laki dan perempuan.

Dalam diskusi dan peringatan 50 tahun wafatnya Muhammad Thahir bin 'Asyur, saya bertanya perihal keseharian 'Allamah di masa hidupnya kepada para cucunya. Mereka menjawab, bahwa 'Allamah mempunyai kecintaan yang luar biasa terhadap ilmu. Salah satu kebiasaan yang berlangsung selama bertahun-tahun, yaitu membaca dan menulis dari pagi hingga siang hari. Ia pun menulis kitab tafsir al-Tahrir wa al-Tanwir yang sangat populer di dunia Islam kurang lebih selama 40 tahun.

Hal tersebut diperkuat oleh salah satu muridnya, Syaikh Muhammad Habib bin Khujah, yang kelak menjadi Mufti Tunisia dan salah satu ulama terkemuka Tunisia, dalam buku Muhammad Thahir bin 'Asyur wa Kitabuhu Maqashid al-Syari'ah al-Islamiyyah, bahwa Muhammad Thahir bin 'Asyur merupakan ulama ensiklopedis yang mengusai khazanah keilmuan tradisional secara paripurna. Saat bertanya kepada 'Allamah tentang sebuah persoalan, maka meluncur dari lisannya kitab-kitab klasik dalam rangka memberikan gambaran bagaimana ulama terdahulu merespons persoalan, lalu bagaimana kita meresponsnya dalam konteks kekinian. Bahkan, ia juga menguasai bahasa-bahasa asing lainnya, seperti Perancis dan Inggris.

Muhammad Thahir bin 'Asyur dikenal sebagai sosok yang sabar, tulus, tekun, dan pantang menyerah. Ia menghadapi beberapa hal yang tidak mudah dalam ranah politik, tetapi ia sosok yang tulus dalam menapaki jalan ilmu dan kebenaran. Ia konsisten pada jalan tersebut, sehingga karya-karyanya dibaca luas di dunia Islam, termasuk Indonesia.

Salah satunya, diskursus "Maqashid al-Syari'ah al-Islamiyah" sejak tahun 80-an sudah menjadi diskursus yang mengemuka di lingkungan Nahdlatul Ulama. Bahkan dalam Musyawarah Nasional Ulama pada tahun 2006 ditegaskan kembali perihal menjadikan Maqashid al-Syariah sebagai nalar dalam pengambilan kesimpulan hukum.

Maka dari itu, dalam peringatan 50 tahun wafatnya Muhammad Thahir bin 'Asyur, KBRI Tunis hendak menegaskan hubungan bilateral yang kokoh antara Indonesia-Tunisia melalui diplomasi moderasi Islam. Indonesia dan Tunisia sama-sama mempunyai karakter yang khas dalam keislaman, karena sama-sama mengibarkan bendera moderasi beragama, yang di dalamnya menegaskan pentingnya toleransi, keadilan, dan kebebasan.

Zuhairi Misrawi Dubes RI untuk Tunisia

(mmu/mmu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT