ADVERTISEMENT

Kolom

Metaverse, di Depan Mata atau Masih Lama?

Tuhu Nugraha - detikNews
Kamis, 11 Agu 2022 09:34 WIB
tuhu nugraha
Tuhu Nugraha (Foto: dok. pribadi)
Jakarta -

Gegap gempita Metaverse sebenarnya menyisakan banyak pertanyaan bagi awam. Apa sebenarnya Metaverse? Lalu apa yang akan kita lihat dan rasakan di Metaverse? Dan kapan revolusi Metaverse itu akan terjadi? Keriuhan yang terjadi saat ini semuanya masih sumir, dan tentang optimisme menggebu-gebu. Semua mengklaim telah menciptakan Metaverse-nya, dan sold out jualan lahan di Metaverse.

Metaverse adalah sebuah teknologi di mana kita bisa masuk dalam dunia virtual, dan berkomunikasi real time dengan orang lain menggunakan Avatar. Kita merasa benar-benar berada di dalamnya, melakukan berbagai kegiatan yang biasa kita lakukan di dunia nyata seperti berbelanja, menonton konser, rapat, dan lain-lain.

Riset yang saya lakukan sejak Januari 2022 menemukan bahwa impian Metaverse seperti definisi di atas itu masih sumir dan jauh. Hal ini baru akan terjadi sekitar 5-10 tahun lagi, ini hasil riset dari berbagai sumber, termasuk bertanya pada pelaku industri ekosistem Metaverse.

Mengapa masih lama? Ada beberapa hal yang menyebabkan Metaverse belum bisa terwujud saat ini. Pertama, dibutuhkan jangkauan teknologi 5G yang masif, dan menjangkau paling tidak 60% populasi. Metaverse membutuhkan koneksi internet cepat dan latensi rendah agar bisa memberikan pengalaman interaksi yang nyaman dan tidak terputus-putus.

Tantangan kedua, saat ini alat pendukung untuk memasuki Metaverse misalnya headset masih sangat berat dan tidak nyaman dipakai dalam durasi lama. Isu lainnya, harga headset yang masih sangat mahal untuk bisa dimiliki dan dibeli oleh masyarakat luas.

Pertanyaannya apakah kemudian inovasi Metaverse akan stagnan? Tentu tidak, akan terus muncul inovasi-inovasi baru, dan evolusi produk dan jasa menuju ke sana. Perubahan in sifatnya akan bertahap, dan perlahan, lalu tanpa sadar kita akan mencapai era Metaverse.

Hal-hal kecil yang perlahan akan segera kita rasakan adalah evolusi dari konten media sosial yang dulunya berisi foto OOTD, jalan-jalan, dan lain-lain perlahan akan didominasi oleh foto avatar yang mewakili personalisasi dan fantasi pemiliknya, plus pernak-perniknya.

Meta Group melalui Instagram sudah bisa menampilkan Non Fungible Token (NFT), fitur ini sudah hadir di 100 negara, termasuk Indonesia. Ini artinya NFT nanti bukan hanya milik kaum kaum elite yang pamer digital art mahal, tapi NFT bisa dimiliki dan dipamerkan semua orang dalam bentuk avatar, fesyen digital, musik digital, dan lain-lain.

Kita akan segera memasuki era ekonomi produk virtual. Kita membeli produk digital, di ranah digital, untuk dipamerkan di digital. Produk digital mengapa laku? Karena bisa memenuhi fantasi yang mungkin tak bisa direalisasikan di dunia nyata.

Misalnya Anda mungkin juga ingin berfoto memakai gaun super futuristik dan eksentrik ala Met Gala. Ini hampir mustahil diwujudkan di dunia nyata, kalau Anda bukan selebritis tingkat dunia. Anda juga mungkin bingung ke mana mau pakai ini? Tapi Anda bisa mewujudkan fantasi ini di media sosial semacam Instagram, dengan biaya yang lebih murah, dan tidak perlu menunggu ada acara yang mendukung.

Tuhu Nugraha konsultan bisnis digital dan metaverse, sedang menulis buku "Rahasia Metaverse: Dunia Baru dan Peluang Masa Kini"

(mmu/mmu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT