ADVERTISEMENT

Pustaka

Para Perempuan Hebat di Panggung Sejarah

Rakhmad Hidayatulloh Permana - detikNews
Selasa, 09 Agu 2022 09:57 WIB
Cover buku Strategi Politik Perempuan (Dok. Neo Historia Indonesia)
Foto: Cover buku Strategi Politik Perempuan (Dok. Neo Historia Indonesia)
Jakarta -

Judul Buku: Strategi Politik Perempuan dalam Sejarah; Penulis: Andi Wulan Ramadania, dkk; Penerbit: Neosphere, 2022; Tebal: 272 halaman

Peran perempuan dalam sejarah adalah cerita yang sunyi senyap. Sosok para perempuan, utamanya peran mereka, jarang mendapat lampu sorot yang proporsional di panggung sejarah. Perempuan kerapkali sekadar menjadi catatan kaki sejarah. Padahal, tentu mestinya dunia yang kita lihat hari ini musykil terbentuk tanpa peran para perempuan.

Maka tentu ikhtiar komunitas Neo Historia menyusun dan menulis peran para pemimpin perempuan dalam panggung politik dunia dalam buku 'Strategi Politik Perempuan dalam Sejarah' ini patut diapresiasi.

Buku ini mewartakan cerita para perempuan hebat dari seluruh dunia. Dari China hingga Britania Raya. Dari Bangsa Mongol hingga Pasundan. Setidaknya ada 15 cerita perempuan hebat dalam buku ini.

Salah satu yang mungkin jarang terdengar namanya adalah Lhu Zi. Perempuan yang tercatat sebagai permaisuri pertama dari perdaban lembah Sungai Kuning. Ia adalah wanita yang mendobrak budaya patriarki yang sudah mengakar lama dalam falsafah kehidupan bangsa Tiongkok. Ketika Lhu Zi muncul, wajah Tiongkok pun perlahan berubah.

Lhu Zi adalah gambaran bagaimana seorang perempuan bisa berperan aktif dalam politik di Istana yang dikuasai para lelaki. Gerbang patriarki benar-benar didobrak oleh Lhu Zi. Bahkan, untuk urusan militer, Lhu Zi pun punya andil. Meskipun tentu saja sosoknya juga tak terlepas dari kontroversi.

Lalu ada juga nama Maria Estela Cartaz yang juga dikenal dengan Isabel Peron. Namanya barangkali juga terdengar begitu asing, namun dialah perempuan Argentina pertama yang menjadi presiden sekaligus presiden perempuan pertama di dunia.

Lewat buku ini, kita akan tahu bagaimana karier politik Isabel tak berangkat dari modal pengetahuan yang memadai. Semua bermula dari tekad dan cara berpikir yang taktis. Isabel pada awalnya berprofesi sebagai penari klub yang kemudian menjadi pelacur. Ia kemudian bertemu dengan Juan Domingo Peron, yang menjadi Presiden Argentina dua periode.

Isabel adalah pelaku politik praktis yang belajar dari pengalaman suaminya. Ketika suaminya diasingkan oleh penguasa Argentina saat itu, Isabel yang mengatur urusan politiknya. Isabel, tanpa modal pengetahuan ilmu politik, lihai dalam melakukan diplomasi-diplomasi politik.

Berkat kelihaiannya ini, Isabel bisa mengembalikan suaminya ke tampuk kekuasaan. Ketika suaminya wafat, Isabel kemudian melanjutkan estafet kepimpinan suaminya walaupun penuh dengan intrik-intrik politik licik.

Sedangkan di Indonesia, pembaca akan diperkenalkan, salah satunya, dengan sosok Nyi Mas Tepasari. Namanya mungkin jarang kita temukan dalam buku pelajaran sekolah. Padahal, Nyi Mas Tepasari merupakan salah satu istri dari Sunan Gunung Jati yang pada zaman itu dikenal sebagai penguasa Cirebon.

Sosok Nyi Tepasari sendiri dikenal sebagai perempuan yang mengubah gerak sejarah tatar Pasundan. Hari ini, orang mungkin akan bertanya-tanya dengan budaya Cirebon yang seperti campuran antara budaya Jawa dan Sunda. Semua itu berkat sosok Nyi Tepasari.

Dari buku ini pun kita belajar bahwa para tokoh perempuan ini tak digambarkan sebagai sosok yang gagah perkasa, tapi lebih dari itu, pemimpin yang taktis dan berkharisma. Kita diberitahu bahwa peradaban tak hanya dibangun oleh para laki-laki.

Selain itu, buku ini seakan menawarkan oase sejarah yang jarang kita temukan di bangku sekolah: sejarah sebagai herstory, bukan history.

(rdp/rdp)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT