ADVERTISEMENT

Literasi Geospasial, Cara Kita Mencintai Indonesia

Lisa Andika - detikNews
Kamis, 07 Jul 2022 13:01 WIB
Lisa Andika. Pranata Humas Badan Informasi Geospasial (Dok. Pribadi)
Foto: Lisa Andika. Pranata Humas Badan Informasi Geospasial (Dok. Pribadi)
Jakarta -

Saat Anda duduk di bangku sekolah dasar, menengah pertama maupun menengah atas, tentu kerap mendengar, Indonesia merupakan negara kepulauan yang demikian luas. Anda juga diajak mencintai Indonesia, sebab demikian luasnya negara ini, hingga tercipta budaya yang sangat beragam, corak kehidupan sosial yang sangat bervariasi, maupun sumberdaya alam yang kaya melimpah. Tapi seberapa luas itu dalam kenyataannya?

Keluasan itu jika dilakukan penarikan garis horizontal secara imajinatif, terbentang dari Barat di Pulau Rondo hingga Timur di Pulau Papua. Sedangkan mengikuti garis vertikal, ditarik dari Utara di Pulau Miangas hingga Selatan di Pulau Ndana. Keluasan itu jika diproyeksikan di atas peta wilayah lain di dunia ini, setara dengan titik yang ditarik dari Kota London hingga ke Barat, dan baru berhenti di Kota Baghdad. Sedangkan garis vertikalnya, dimulai dari Jerman menuju Selatan, hingga Al-Jazair. Terdapat lebih dari satu negara, satu kebudayaan, beragam kehidupan sosial dan tentu saja berbagai hasil bumi yang berbeda-beda.

Namun untuk Indonesia, wilayah itu berada di dalam satu kedaulatan. Terkait itu, tahukah Anda, siapa yang punya kewenangan mengukur, menetapkan batas antar wilayah, memetakan dan merangkum semua data rupa bumi itu sebagai informasi geospasial? BIG (Badan Informasi Geospasial) ditetapkan oleh negara, punya kewenangan itu. Namun sayangnya, ketika pertanyaan itu diajukan dalam bentuk survei diperoleh kenyataan, dari 400 orang responden non pengguna layanan BIG, terdapat 43,25% yang belum tahu apa itu BIG.

Angka ketidaktahuan ini terbilang tinggi. Ini diperparah, top of mind terhadap jasa layanan peta, 55,50% menjawab Google Map.

Balai Layanan Jasa dan Produk Geospasial BIG merupakan unit yang melayani kebutuhan masyarakat, terhadap informasi gespasial. Rendahnya literasi geospasial, menyebabkan keberadaan BIG kurang dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Lembaga yang penting ini dikenali keberadaan dan fungsinya, hanya sebatas masyarakat yang memang mempelajari ilmu kebumian.

Mengubah Strategi Layanan bagi Masyarakat

Berangkat dari kenyataan yang belum menggembirakan itu, Balai Layanan Jasa dan Produk Geospasial terus melakukan aneka strategi dalam meningkatkan literasi geospasial masyarakat.

Salah satu upayanya, dengan menyelenggarakan kegiatan Pelayanan Jasa dan Produk Geospasial Pro-Aktif. Sebuah kegiatan yang dipilih untuk mengubah layanan yang bersifat pasif, menunggu permohonan, berubah menjadi layanan langsung, datang ke masyarakat, untuk mengetahui kebutuhannya.

Dalam pelaksanaannya, di Bulan Desember 2021 petugas layanan publik BIG bertandang ke Provinsi Kalimantan Barat. Aktivitas pro aktif di tempat ini menyasar para akademisi di Kota Pontianak. Harapannya, dari setiap sekolah maupun perguruan tinggi, terdapat SDM berkualitas yang tertarik untuk mengisi jabatan fungsional surveyor pemetaan, yang mampu membangun maupun mengelola informasi geospasial di daerahnya masing-masing.

Dasar pilihan pada Kota Pontianak, mengingat keistimewaan wilayah ini yang merupakan ibu kota Provinsi Kalimantan Barat, juga merupakan wilayah yang dilalui oleh garis Khatulistiwa. Secara geografis, Pontianak ada di 0 02' 24" Lintang Utara sampai 0 05' 37" Lintang Selatan dan 109 16' 25" Bujur Timur sampai 109 23' 01" Bujur Timur.

Karena dilalui garis Khatulistiwa, terdapat Tugu Khatulistiwa sebagai penanda titik nol derajat bumi. Kota dengan luas wilayah 107,82 km2 ini juga dilalui oleh sungai terpanjang di Indonesia, yaitu Sungai Kapuas yang membentang sepanjang 1.143 kilometer dengan hulu di Pegunungan Muller hingga hilirnya pada Selat Karimata.

Pontianak Wilayah Geospasial Penting Indonesia

Kondisi geografis Pontianak unik. Adanya pengelolaan informasi geospasial yang baik, membawa manfaat bagi masyarakat. Di kota ini, ketika penulis bergabung dengan Tim Pro-Aktif BIG, berkesempatan mengunjungi SMA Kapuas, SMA Santo Paulus, dan IKIP PGRI.

Saat berkunjung ke SMA Kapuas tim mendapati pemandangan halaman rumah penduduk yang digenangi air setinggi 2-3 sentimeter. Ini akibat naiknya muka air Sungai Kapuas. Walau demikian masyarakat tetap menjalankan aktifitas sehari-harinya. Di SMA ini tim menyerahkan Buku Atlas Pendidikan SMA dan Buku Informasi Potensi Wilayah Perbatasan Kalimantan Barat - Malaysia.

Tim juga menyosialisasikan tugas dan fungsi BIG, maupun prosedur mendapatkan layanan jasa dan produk geospasial.

Lokasi terakhir tim BIG adalah Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) PGRI Pontianak. Ini merupakan salah satu perguruan tinggi swasta terbesar di Kalimantan Barat.

Upaya Melayani Masyarakat yang Tak Kenal Lelah

Dari kegiatan Pelayanan Jasa dan Produk Geospasial Pro-Aktif ini, penulis dapat melihat bahwa kebutuhan masyarakat terhadap ketersediaan data geospasial sangatlah tinggi. Sudah selayaknya Balai Layanan Jasa dan Produk Geospasial sebagai unit pelayanan publik BIG tak pernah berhenti memberi layanan pada masyarakat.

Semata-mata agar pemanfaatan dan penyebarluasan informasi geopasial dapat terus meningkat dan berhasil menyentuh seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Tak ada kata lain, layanan tak kenal lelah yang dilakukan BIG, bertujuan agar masyarakat meningkat literasi geospasialnya. Literasi geospasial yang makin baik, sangat diperlukan untuk memberdayakan kekayaan dan keberagaman Indonesia secara tepat dan bermanfaat. Upaya layanan geospasial pada hakikatnya adalah jalan mencintai Indonesia, agar negeri ini dapat bertahan utuh.

Lisa Andika. Pranata Humas Badan Informasi Geospasial.

(rdp/rdp)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT