ADVERTISEMENT

Kolom

Menyambut Tawaran Kerja Sama Energi Nuklir Rusia

Geni Rina Sunaryo - detikNews
Selasa, 05 Jul 2022 13:08 WIB
ilustrasi cerpen
Dr. Geni Rina Sunaryo (Foto: dok. pribadi)
Jakarta -

Tawaran kerja sama kepada Presiden Joko Widodo terkait nuklir bukanlah hal baru. Indonesia telah mempunyai hubungan erat dengan Rusia sejak era presiden pertama Ir. Sukarno. Dua citanya, menguasai teknologi nuklir dan antariksa. Makanya, pendirian kedua lembaga tersebut diberi fondasi hukum, undang-undang. Mengapa nuklir?

Memahami nuklir berarti berpartisipasi memantau efek dari percobaan nuklir yang dilakukan dua negara raksasa pada saat itu di area Kepulauan Indonesia, apakah masih aman. Tidak itu saja, mempunyai Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) juga menjadi mimpinya. Dan, pada 1965, pembangunan sipilnya sudah dilakukan. Namanya IRI-2000, desain Uni Soviet (kala itu). Lokasinya di area Pusat Penelitian dan Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek), Serpong.

Ini menunjukkan hubungan kedua negara, Indonesia dan Rusia, sudah terjalin sangat baik sejak dulu. Tetapi, proyek ini terhenti akibat pergantian angin politik, yang dimulai dengan pergantian presiden. Lima puluh tahun kemudian, tepatnya pada 2015, Indonesia melalui Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) di bawah pimpinan Prof. Dr. Djarot Sulistio Wisnubroto kembali kerja sama dengan Rusia dalam proyek pembangunan PLTN mini.

Diberi nama Reaktor Daya Eksperimental (RDE). Tipe High Temperature Gas Cooled Reactor (HTGR), dengan power 10 megawatt termal (MWt). Yang masuk dalam deretan PLTN Generasi ke-4, dengan fitur keselamatan paling tinggi. Dijamin jauh lebih aman. Tidak akan terjadi kehebohan Fukushima maupun Chernoby.

Bagaimana nasib proyek RDE sekarang? Diistirahatkan program pembangunan fisiknya. Banyak hal terkait politis dan konflik kepentingan --meski izin lokasi sebagai step pertama perizinan pembangunan PLTN sudah didapat dari Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) untuk jangka waktu 5 tahun.

Apakah menyerah begitu saja? Tidak. Sebagai lembaga pengembangan riset, kegiatan terkait peningkatan kemampuan anak bangsa terus dilakukan, dari sisi memahami tingkat kesulitan desain dan dari sisi jaminan keselamatan. Kemampuan merancang sendiri berarti juga kemampuan menguasai teknologi di level lebih tinggi.

Gebrakan saya selaku Kepala Pusat Teknologi dan Keselamatan Nuklir (PTKRN), BATAN saat itu, jadilah desain PLTN Merah Putih - RDE 10 MWt. Prestasi ini telah diabadikan secara tercatat di Booklet International Atomic Energy Agency (IAEA), Advanced Reactor Information System (ARIS) 2020. Prestasi pertama anak negeri didesain PLTN.

Mengapa memilih power mini? Karena dibangun di lokasi riset sebagai reaktor riset, sebagai pemenuhan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2014-2019 bahwa Indonesia akan mengoperasikan PLTN di 2019.

Terus Berjalan

Proses perizinan pembangunan RDE terus berjalan. Berbasis desain mandiri ini, BATAN dan BAPETEN telah bersama saling mencerdaskan diri dalam penguasaan teknologi untuk masuk ke step ke-2 proses perizinan, yakni -lisensi desain. Total perizinan ada 5 step, dengan setumpuk dokumen jaminan keselamatan yang harus dibuat oleh pengusul, dan tentunya harus disetujui oleh pemberi izin, yang bisa memakan waktu lebih dari 3 sampai 5 tahun.

BATAN tidak bekerja sendiri? Konsep desain RDE didapat sebagai hasil kerja sama dengan Rusia. Dan ini juga sebagai jaminan keselamatan PLTN. Kemudian, desain rincinya dilakukan oleh personel BATAN sendiri. Hasil kerja keras ini, BATAN telah mendapatkan dua paten granted pada 2021, dengan waktu tunggu tiga tahun. Jadi, Indonesia sudah mempunyai pengalaman bekerja sama dengan Rusia secara baik.

Rusia mempunyai 38 PLTN hingga 2021, sebagai urutan ke-4 terbanyak. Dibandingkan dengan Amerika dengan 93 PLTN. Urutan ke-2 Prancis (56) dan ke-3 China (51). Setelah Rusia adalah Jepang (33), Korea Selatan (24), India (23), Kanada (19), Ukraina (15), Inggris (13). United Emirate Arab (UEA) sudah mengoperasikan 2, dan dua lainnya sedang dalam pembangunan. Bangladesh juga sedang membangun, bekerja sama dengan Rusia.

Akankah tawaran Mr. Putin dipertimbangkan? Iya. Jika berkomitmen pada janji menjadi pengkontribusi zero emisi karbon pada 2060, pastinya PLTN masuk dalam peta jalan energi negeri ini. UEA dengan 4 PLTN berkapasitas total 5.600 megawatt dikabarkan dapat menekan emisi karbon sebesar 21 juta ton per tahun, setara dengan menggantikan 3 jutaan kendaraan ke mobil listrik setiap tahun.

Makanya, konsep hijau yang dicanangkan di pembangunan proyek Ibu Kota Negara (IKN), seyogianya PLTN masuk ke dalam peta jalan pembangunan energinya. Lembaga Nawacita, Ir. Samsul Hadi, sangat mendukung penerapan nuklir ke dalam energi hijau di IKN. Adanya komisi bidang nuklir dalam struktur organisasinya jelas menjadi bukti.

SDM nuklir yang bernaung di Badan Riset dan Inovasi (BRIN), tempat eks BATAN berteduh, juga sangat siap menjadi tempat bertanya --sebagai Technical Support Organization (TSO). Juga, tentunya menjadi gudang pencetak dokumen keselamatan yang berpengalaman dan terpercaya di negeri ini terkait pembangunan PLTN pertama Indonesia. Tawaran investasi dari negara pengembang teknologi yang sangat terpercaya seperti Rusia seyogianya ditangkap dengan cerdas sebagai pijakan energi hijau untuk Indonesia maju.

Dr. Geni Rina Sunaryo alumni Tokyo University

Simak Video 'Putin Tertarik Kembangkan Nuklir di RI, Greenpeace Ingatkan Soal Radiasi':

[Gambas:Video 20detik]



(mmu/mmu)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT