ADVERTISEMENT

Kolom

Trisula Politik Muhaimin Iskandar

Ferhadz Ammar Muhammad - detikNews
Kamis, 30 Jun 2022 10:10 WIB
Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar melakukan safari politik ke Bumi Reog Ponorogo, Jawa Timur. Disana, ia menyapa masyarakat Bumi Reyog sambil ludrukan bareng Kirun dan Kartolo.
Cak Imin ludrukan bareng Kirun dan Kartolo (Foto: dok. PKB)
Jakarta -

Seorang instruktur PKB bernama Eman Hermawan pernah berkelakar saat acara di Jogja begini, "Ada dua strategi politik yang biasa dilakukan politisi untuk menggalang dukungan, yakni strategi memegang kepala ular dan strategi makan bubur. Terserah mana strategi yang akan Anda jalankan."

Di arena elektoral, dua strategi itu memang sudah lama dikenal, meski tanpa memberikan embel-embel seperti yang Eman Hermawan sebutkan. Tengok saja praktik yang biasanya beroperasi berikut ini:

Seorang politisi bernama Y ingin memenangkan suara di daerah X. Kebetulan daerah X ini masih didominasi budaya politik subjektif, di mana kebijakan sering menunggu keputusan tokoh, terutama pesantren. Supaya tak memakan banyak biaya dan demi efisiensi waktu, Y ingin memanfaatkan dominasi 'elite berpengaruh' untuk menggalang dukungan. Berkunjunglah Y ke rumah para elite daerah X. Negosiasi pun dijalankan. Setelah bertukar gagasan dan mencocokkan keuntungan lewat visi dan misi yang ideologis meski agak klise, disepakatilah kerja sama dalam bentuk 'pertukaran jejaring manfaat dan pengaruh' antar keduanya, seperti dalam tesis Edward Aspinall (2019).

Dengan demikian, politik 'memegang kepala ular' pun sudah dijalankan.

Tapi apakah satu strategi saja dapat menjamin kemenangan? Jelas tidak. Namanya juga politik, tak bisa hanya termenung pada satu prosedur. Maklum, seperti rumah tangga bila ingin langgeng, maka politik harus mencari cara yang membuat relasi bertahan lama. Sebab, "membangun hubungan suami istri yang baik bukan hanya sekadar percaya dan bersenggama, namun juga perlunya sebuah ketahanan yang lama," begitu kata pasangan Dildo yang turut meramaikan Pilpres 2019 lalu.

Sehingga Y mengatur strategi lanjutan yang dijulukinya sebagai "politik makan bubur". Modus operandinya sangat sederhana, hanya memerlukan ketangkasan dan kesabaran. Pasalnya, Y harus berani menghadapi riuh massa yang majemuk, baik pendukung struktural yang berbaris rapi di bawah bendera partai, pendukung kultural yang memiliki persamaan dalam hal ideologi, maupun pendukung asal-asalan yang setelah "nyoblos" merasa sudah selesai kewajibannya tanpa perlu pertalian.

Apalagi Y sudah sadar, bahwa politisi lain pun banyak berdatangan ke daerah X. Mau tidak mau, Y harus segera berpenetrasi ke bawah (grassroot) untuk memilih pun memilah kawanannya dan ke samping untuk mencari suaka dan teman baru. Seperti orang makan bubur, Y sedikit demi sedikit secara persisten berhasil mendapatkan nama-nama pendukung dari kalangan 'pinggir kekuasaan'. Mereka powerfulnes of the powerless, kalangan yang tak berkuasa, namun sebenarnya memiliki pengaruh besar.

Demikianlah yang saat ini, menurut saya, sedang dijalankan oleh Muhaimin Iskandar, yang dahulu entah bagaimana ceritanya menahbiskan diri sebagai Cak Imin lalu diganti menjadi Gus Muhaimin, Ketum PKB yang hendak maju di Pilpres 2024.

Pakem Politik

Franklin D Roosevelt pernah berkata, "In politics, nothing happens by accident. If it happens, you can bet it was planned that way" --Dalam politik, tidak ada yang terjadi secara kebetulan, jika itu terjadi, Anda bisa bertaruh bahwa itu telah direncanakan).

Bak pisau, kalimat Roosevelt membantu analisis terhadap langkah politik Muhaimin Iskandar. Bisa dipahami pula pergantian panggilan dari Cak Imin menjadi Gus Muhaimin menyimpan makna dan tujuan. Setidaknya, Gus Muhaimin lebih populis. Tujuannya tentu saja selain untuk mendatangkan untung, panggilan itu mengingatkan warga NU bahwa "Ini lho ada saudaramu sesama NU yang bakal maju," seperti yang sering dikumandangkan para pendukungnya.

Pergantian panggilan ini penting sebagai penetrasi sebelum berkompetisi. Pasalnya, Muhaimin dihadapkan oleh empat kategori massa. Pertama, massa struktural, dalam hal ini adalah anggota PKB, entah NU atau tidak. Kedua, massa kultural, yakni kelompok NU yang tak terikat dengan PKB di bawah kepemimpinan Muhaimin. Kelompok ini terbagi menjadi tiga, di antaranya: massa yang simpati terhadap PKB Muhaimin; massa yang acuh dengan Muhaimin; dan massa NU yang mengambang.

Ketiga, massa kondisional, yaitu kelompok di luar NU dan PKB yang masih mungkin dijajaki atau tidak. Keempat, massa asal-asalan, adalah publik yang memiliki kebiasaan asal memilih calon tanpa peduli adanya pertalian. Karena itulah wajar apabila 'gus' yang merupakan modal sosial sekaligus kultural disematkan.

Bagaimana cara menghadapi semua massa tersebut? Di sinilah langkah taktis Muhaimin beroperasi. Seperti pendahulunya, Gus Dur, yang suka memanfaatkan piranti 'pertunjukan panggung' untuk menentukan langkah politik, Muhaimin pun menempuh hal yang sama. Bedanya, Gus Dur menggunakan 'wayang', sementara media yang digunakan Muhaimin adalah 'ludruk'.

Dalam ludruk, terdapat sejumlah ciri khas, di antaranya berjalan penuh improvisasi dan memiliki pakem atau konvensi. Selain bermakna "seadanya", improvisasi bisa juga dimaknai sebagai "dadakan", bukan berarti tak direncanakan, sebab ludruk juga memiliki pakem yang disepakati oleh para pemain.

Demikian pula Muhaimin, sering menempuh langkah tak terduga, bahkan terasa seperti punchline untuk pengamat dan saingan politiknya, meski sebenarnya langkah itu tak pernah keluar dari pakem yang ia mainkan sejak lama. Pakem tersebut oleh Muhaimin dirumuskan menjadi tombak bermata tiga atau trisula, yakni pengetahuan, kiai, dan anak muda (Muhaimin Iskandar, 2006).

Dengan memainkan pakemnya, keempat jenis massa tersebut bisa diendus. Tentu, massa struktural tak perlu dicari, karena mereka sudah ada di dalam partai. Massa kondisional bisa ditemukan saat adanya negosiasi pengetahuan, atau dalam bahasa politiknya dikenal dengan nama 'program'. Makanya tidak mengherankan apabila tiba-tiba Muhaimin dan barisannya bisa berdiskusi dengan banyak kelompok, mulai Prabowo Subianto, Rocky Gerung, sampai Kirun si pelawak.

Sedangkan terkait massa asal-asalan tak perlu dipusingkan, karena sudah ada yang berusaha menarik perhatian mereka, yaitu sayap kepemudaan partai dan relawan Muhaimin, lewat kegiatan ringan, seperti konser dan perlombaan.

Nah, tinggal massa kultural saja yang menjadi pekerjaan serius. Hal tersebut wajar, karena PKB serta Muhaimin sudah telanjur mem-built in NU dan pesantren. Sehingga kelompok ini yang paling rasional untuk menjadi sasaran infusi nilai. Sampai sekarang, kelompok NU yang pro Muhaimin dari jenis massa kultural sudah bergerak masif, dimotori oleh sejumlah gus dan kiai di Jawa Timur serta Jawa Tengah.

Hanya saja, seperti bercermin di kaca buram, kelompok ini berhadapan dengan kelompok sesama NU yang 'acuh' dengan Muhaimin. Para pengamat menangkap salah satu peristiwa yang membuktikan hal tersebut, yaitu saat pengurus PBNU dan PKB saling mencubit. Namun tampaknya Muhaimin tak ambil pusing, sebab masih ada struktur NU di cabang-cabang yang bersimpati.

Kendati begitu, daripada ribet, Muhaimin tampaknya membiarkan 'kelompok acuh' ini untuk fokus pada 'kelompok simpati' dan 'mengambang'. Toh massa mengambang ini jumlahnya paling besar, mengingat tesis Saiful Mujani (2009) yang mengutip Putnam (2000) menemukan bahwa fenomena bowling alone sedang menjadi masalah, di mana orang yang menyandang identitas tertentu tak termobilisasi sehingga luput dalam suatu kebijakan. Dalam konteks diskusi, mereka adalah kelompok milenial akhir dan Gen Z yang lebih rasional tanpa peduli adanya perdebatan di antara orang-orang tua.

Ferhadz Ammar Muhammad peneliti La Societe Institute Surabaya

Simak Video 'Cak Imin di Apel Kebangkitan Indonesia: Kita Siap Nyapres':

[Gambas:Video 20detik]



(mmu/mmu)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT