ADVERTISEMENT

Kolom

Menyikapi Generasi Strawberry

Anabelle Lizbeth Hartono - detikNews
Rabu, 29 Jun 2022 10:56 WIB
Lika-Liku Generasi Strawberry
Jakarta -
Setelah munculnya istilah generasi Z maupun generasi milenial, kini muncul istilah generasi strawberry. Sebutan ini muncul dari negara Taiwan dan ditujukan kepada generasi muda yang lunak seperti buah strawberry. Mengapa buah strawberry? Hal ini dikarenakan buah strawberry dilambangkan sebagai buah yang indah, lucu, menarik, tetapi mudah hancur.

Dalam salah satu jurnal yang mendeskripsikan tentang buah strawberry, dijelaskan bahwa buah satu ini adalah buah semu yang artinya bukan buah yang sebenarnya. Begitu juga pada generasi ini, mental strawberry adalah mental semu yang bukan sebenarnya dimiliki oleh generasi Z/generasi muda. Generasi yang hebat merupakan generasi yang selalu memiliki mindset positif terhadap masa depan.

Melansir dari buku Strawberry Generation yang ditulis oleh Prof. Rhenald Kasali (2017), generasi ini adalah generasi yang penuh dengan gagasan kreatif tetapi mudah menyerah dan mudah sakit hati. Bisa kita lihat bahwa saat ini beberapa anak-anak zaman sekarang tidak mampu menghadapi berbagai tekanan sosial dibandingkan dengan didikan yang diberikan kepada orangtua kita dahulu. Generasi yang berisikan anak-anak dengan sikap yang egois, sombong, lamban, mudah menyerah dan selalu pesimis terhadap sesuatu.

Pastinya sering mendengar cerita dari orangtua pada zaman mereka, "kekerasan" (dalam mendidik) merupakan hal yang "wajar" bagi mereka, hal tersebut malah membuat mereka jera dan tidak melakukan kesalahannya lagi. Namun, berbeda pada anak zaman sekarang, mereka akan merasa tidak adil dan malah membantah orangtuanya, serta selalu beranggapan bahwa mereka bukan dididik, melainkan disakiti.

Selain dari kasus di atas, anak generasi strawberry ini selalu ingin mendapatkan sesuatu secara instan, padahal segala sesuatu tidak dapat dihasilkan secara instan, melainkan harus membutuhkan perjuangan yang tidak mudah dan tidak jarang sulit juga. Sehingga ketika mereka mendapatkan hal yang sulit, mereka cenderung akan lari dari hal tersebut, bukannya berusaha.

Rasa malas yang tinggi juga terdapat pada anak generasi ini; mereka menginginkan kesuksesan, tetapi hal yang mereka lakukan hanya bersantai-santai atau bahasa gaulnya rebahan. Sedangkan di sisi lain, beberapa anak memiliki semangat juang yang tinggi untuk mendapatkan kesuksesan.

"Butuh healing" atau "butuh refreshing". Kalimat-kalimat tersebut sering dilontarkan oleh banyak orang kepada generasi ini. Pasalnya, ketika generasi ini menghadapi masalah mereka memilih untuk kabur dari masalah tersebut. Self-reward pun jadi kata-kata terfavorit mereka, yang sebenarnya hanya boros berkedok self-reward karena merasa butuh mengapresiasi dirinya sendiri. Namun, tanpa disadari hal itu merupakan bentuk gaya hidup yang konsumtif, sehingga terjadinya pemborosan.

Sesungguhnya, self-reward merupakan bentuk mengapresiasi diri ,bukan sebaliknya yang berujung membuat dompet kering. Dengan melakukan hal yang simpel sudah termasuk self-reward yang tidak menguras terlalu banyak uang, contohnya me-time, menonton film, quality time dengan orang terdekat, berjalan santai, dan masih banyak lagi.

Kreatif

Tidak hanya menunjukkan sisi negatif, ternyata generasi ini menghasilkan seseorang yang kreatif, kritis, dan cerdas dengan berbagai ilmu yang diperolehnya dengan mudah karena akses informasi dan teknologi yang kian meningkat. Selain itu, mereka juga menyukai tantangan serta hal baru, hal itu dibuktikan dengan mereka yang cenderung bosan melakukan sesuatu hal yang biasa saja dan monoton.

Lahirnya generasi ini yang melek dengan penggunaan teknologi; kehebatan mereka salah satunya adalah bersosial media menyebarkan begitu banyak benefit kepada orang lain. Sebagai contoh, mereka berani untuk speak up terhadap masalah yang mereka alami, maupun masalah yang sedang terjadi. Mereka juga sangat peduli mengenai gender dan mental issue yang sangat penting untuk semua kalangan.

Arahan dan bimbingan dari orangtua merupakan hal terpenting dalam mendidik generasi strawberry ini. Dengan mengajarkan anak untuk tidak manja bahwa untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan harus diberikan tantangan tersendiri, agar mereka mau berusaha mencapainya. Sehingga, anak akan tumbuh dengan mental yang kuat dan mau terus berusaha tanpa ada kata menyerah. Hal inilah yang menjadi urgensi bahwa anak generasi ini sangat membutuhkan mental training, selain prestasi akademik yang tidak sepenuhnya menjamin masa depan.

Saat ini prestasi akademik tidak dapat sepenuhnya menjamin masa depan. Disiplin ilmu yang kita pelajari melalui ruang kelas belum tentu dibutuhkan di masa depan, termasuk apa yang kita pahami hari ini belum tentu dapat bisa relevan dengan permasalahan di masa mendatang. Anies Baswedan dalam salah satu sambutannya pernah mengatakan bahwa anak muda hari ini tidak perlu lagi diberi pertanyaan akan menjadi apa di masa depan, tetapi anak muda hari ini harusnya diberi pertanyaan akan membuat apa di masa depan.
Anak muda sebenarnya sudah memiliki segalanya yaitu kreativitas, inovasi, dan sikap adaptif. Mereka dapat beradaptasi dalam segala perubahan situasi --di mana perkembangan zaman tidak dapat kita hentikan. Dengan memiliki sikap tersebut, kita dapat dengan mudahnya keluar dari zona nyaman untuk mencoba hal-hal baru yang berbeda daripada sebelumnya.

Banyak Referensi

Tidak perlu diragukan lagi mengenai kemampuan anak muda yang inovatif dan kreatif, mampu mengubah keterbatasan menjadi peluang yang bermanfaat. Dengan majunya teknologi dan mudahnya mendapatkan informasi membuat anak muda generasi strawberry ini lebih punya banyak referensi untuk membuat karya.
Berbagai inovasi yang dibuat dengan memanfaatkan media sosial telah dibanjiri oleh tangan-tangan anak muda. Namun memang hal ini perlu dioptimalkan kembali dengan kemampuan literasi digital yang baik, agar berbagai informasi yang dibuat dapat lebih bisa menjaring permasalahan dan mampu memberikan kebermanfaatan.

Setelah kita menyadari realitas yang ada, tentu kita harus menentukan langkah-langkah antisipatif dan tindakan nyata untuk dapat membangun generasi yang tangguh sesuai kapasitas dan peran masing-masing. Dunia pendidikan, orangtua, masyarakat, dan pemerintah harus bersatu dalam menyikapi fenomena ini.
Dengan pendidikan dan pendampingan, berikan kepercayaan untuk mereka mampu belajar dan memperbaiki diri sehingga mereka merasa mendapat tempat dan pantas dihargai bukan hanya sebagai 'penumpang' tetapi mampu sebagai seorang pemimpin di masa depan.
Simak juga 'Bantahan Pihak Keluarga soal Kabar Marshanda Hilang di Los Angeles':

(mmu/mmu)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT