ADVERTISEMENT

Kolom

Menelisik Peluang Keberhasilan Jokowi Mendamaikan Rusia dan Ukraina

Fadel Muhammad - detikNews
Selasa, 28 Jun 2022 15:52 WIB
Wakil Ketua MPR RI Fadel Muhammad
Foto: Dok. MPR RI

Peran Jokowi Damaikan Rusia-Ukraina

Ketika diberitakan bahwa Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang menghadiri undangan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7 pada 26-28 Juni 2022 di Jerman akan melanjutkan kunjungan ke Ukraina dan Rusia dalam upaya mendamaikan kedua belah pihak, banyak yang melihatnya dengan nada minor. Ada pengamat di Indonesia yang menyebutkan, Indonesia tidak memiliki kekuatan untuk menekan Rusia dan Ukraina agar mereka berdamai. Negara pemrakarsa perdamaian, misalnya AS, umumnya memiliki kekuatan ekonomi atau senjata untuk mengancam kedua belah pihak yang bertikai seperti sanksi ekonomi.

Guru Besar Hubungan Internasional Universitas Indonesia Evi Fitriani, seperti dikutip dari tempo.co, mengatakan Indonesia tidak punya uang dan tak punya senjata untuk memaksa kedua negara berhenti berperang. Namun, menurutnya, ada satu peluang yang bisa diambil, yakni memberikan alasan pada Rusia agar negara itu mau berhenti berperang. Rusia, pada dasarnya ingin juga berhenti perang namun malu jika harus berhenti tanpa alasan yang memadai. Rusia butuh exit strategy yang elegan, dan Indonesia yang bisa berperan sebagai sahabat Rusia akan mampu memberikan exit strategy tanpa Rusia kehilangan muka.

Bagi Indonesia sendiri, jika perdamaian kedua negara tidak tercapai sebelum November 2022 ketika Indonesia menjadi tuan rumah (presidensi) KTT G20 pada 15-16 November 2022 di Bali, maka akan terjadi kerumitan. G20 terdiri dari 19 negara utama dan Uni Eropa. Anggotanya adalah Afrika Selatan, Amerika Serikat, Arab Saudi, Argentina, Australia, Brasil, India, Indonesia, Inggris, Italia, Jepang, Jerman, Kanada, Meksiko, Republik Korea, Rusia, Perancis, Tiongkok, Turki, dan Uni Eropa.

Sebagai salah satu anggota G20, Rusia tetap diundang Indonesia. Keputusan itu sempat mendapat reaksi dari negara-negara Barat yang memberikan sanksi pada Rusia. Bahkan ada sejumlah negara yang mengancam akan memboikot KTT G20 di Bali jika Rusia diundang, termasuk AS. Lobi Indonesia terhadap negara-negara yang akan memboikot diragukan akan membawa hasil oleh sejumlah pihak di Indonesia.

Saya sendiri melihat, upaya Jokowi yang terus berjuang melakukan lobi ke negara-negara Barat dan niatnya mengunjungi Ukraina kemudian ke Rusia pada pekan ini, merupakan langkah yang berani. Ukraina masih berperang dan keamanan kunjungan Presiden Jokowi membutuhkan perhitungan keamanan yang rinci.

Saya mendukung upaya Jokowi mendamaikan Rusia-Ukraina. Apalagi hubungan Indonesia terhadap Ukraina maupun Rusia terus membaik dari waktu ke waktu. Hubungan Indonesia dengan kedua negara itu tidak hanya dalam bidang ekonomi dan politik, tetapi juga budaya.

Banyak pemuda Ukraina yang belajar bahasa Indonesia dan mempelajari perjuangan dan budaya Indonesia. Mereka mengagumi perjuangan Indonesia dari mulai Sumpah Pemuda hingga perjuangan kemerdekaan. Begitupun di Rusia, banyak pemuda-pemuda Rusia yang belajar bahasa dan budaya Indonesia. Ini menjadi salah satu kekuatan Indonesia dalam upaya mendamaikan kedua belah pihak.

Saya juga melihat, momentum terbaik Indonesia berperan di kancah dunia dalam menciptakan perdamaian dunia ada pada saat ini. Posisi Indonesia sebagai Presidensi G20 cukup strategis mewakili kepentingan kekuatan dunia karena negara-negara anggota G20 meliputi 60% populasi bumi, 75% perdagangan global, dan 80% PDB dunia. Kemudian Indonesia dalam posisi netral dan kedekatan dengan kedua negara yang sedang bertikai memiliki nilai lebih. Karena itu momentum ini harus diambil. Kita berdoa semoga perjuangan Presiden Jokowi mendamaikan Rusia-Ukraina bisa berhasil

Fadel Muhammad, Wakil Ketua MPR RI


(akd/ega)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT