ADVERTISEMENT

Kolom

Candu Viral dan Muamalah Manusia Modern

Afrizal Qosim Sholeh - detikNews
Selasa, 28 Jun 2022 10:25 WIB
Tyumen, Russia - January 21, 2020: TikTok and Facebook application  on screen Apple iPhone XR
Foto ilustrasi: iStock
Jakarta -

Seminggu sebelum viral challenge video "malaikat maut", saya meloncat dari gerbong kereta yang saya tumpangi. Tubuh saya menghantam kerikil-kerikil tajam, terlempar lima belas meter di tubir sawah. Malam memudahkan orang untuk tidak menyadari ketidakberadaan hidup saya.

Tiba-tiba saya tersadar dari lamunan tabu itu. Saya mendapati tubuh yang masih membatu di kursi, merasakan jelas deru mesin kereta api Brantas, menikmati orang dekur di depan, sembari memendam rasa sebal kepada seorang lelaki di sebelah yang khusyuk menatap layar smartphone sedang sang istri kewalahan menimang anak kecilnya yang menangis.

Saya tertampar dengan pesan seorang sahabat karib, beberapa hari sebelumnya, yang sangat menyangkal perbuatan tak beriman itu. Saya sadar itu salah. Setidaknya itu imajinasi terakhir saya akan bunuh diri. Setelah setahun lebih bertungkus lumus mencari skema tentang kematian pada hari nanti.

Imajinasi akan kematian sangatlah mudah. Tapi orang yang meregang nyawa dengan bunuh diri ialah orang yang tersiksa oleh kesimpulannya sendiri bahwa sungguh keliru menghentikan peperangan sebelum perang itu tuntas.

Hari-hari ini, tren "malaikat maut" mengantar saya ke lamunan tabu di kereta tadi. Challenge "malaikat maut" yang dilakukan sekelompok remaja menghadang laju truk di tengah jalan itu menambah pilu realitas manusia modern. Tren ini berawal dari video yang menjamur di TikTok; seseorang seolah-olah akan ditabrak, namun saat kendaraan mendekat, orang tersebut harus menyingkir dan menghindari kendaraan.

Sekali lagi, imajinasi akan kematian itu sangatlah mudah. Namanya tren, aksi itu mulanya dipantik hanya oleh rasa ingin viral. Tetapi nahas, justru mengundang petaka alih-alih terkenal. Sesuai namanya, "malaikat maut", tantangan yang dilakukan hanya demi konten itu sudah merenggut nyawa beberapa anak usia remaja.

Selain membahayakan pengendara lain, challenge ini memperlihatkan betapa terpaan media (media exposure) kian memperbudak muamalah manusia modern. Orang mudah tergiring dan dikendalikan oleh media sosial. Sikap terhadap teknologi yang kacau itu lalu ditanggapi dengan nada miring --teknologi hanya menjauhkan manusia dari akal sehatnya.

Modernitas adalah kenyataan zaman mutakhir yang harus didekati dengan cara yang spesifik dan merdeka. Artinya, tergeret arus dan hanyut dalam modernitas adalah kehendak dan kedaulatan manusia itu sendiri, bukan teknologi. Sementara untuk membantah pernyataan bernada miring tadi cukup mudah --maka dari itu berdayakan dulu akal sehat sebelum mencumbu teknologi, bukan sebaliknya.

Manusia Super(iror)

Bumbu superioritas yang melingkupi tren "malaikat maut" baru bisa disebut sebagai krisis manusia modern kalau kita menyepakatinya sebagai problem utama dalam masalah ini. Sebab jika tidak, kita hanya akan menghardik kenakalan yang ditulangpunggungi oleh realitas. Apakah di sini kita bisa bersepakat? Baik.

The Oxford English Dictionary pertama kali menyebut viral sebagai "persebaran informasi yang cepat" pada 1989. Sebelum itu, pada awal abad ke-19 "viral" identik dengan nama sebuah penyakit (disease) atau virus. Pada 2004, viral atau "go viral" mulai dipakai untuk menyebut cara menjadi populer dengan cara cepat. Sedang empat tahun sebelum itu, pada kurun 1999-2000 frasa viral baru mulai dikutip di media cetak.

Jean Baudrillard dalam karya masterpiece-nya Simulacra and Simulation (1981) menggambarkan An American Family sebagai serial televisi realitas pertama yang menjadi penanda zaman baru, di mana media televisi memiliki sifat viral dan endemik namun diliputi dengan kronik kehadiran yang mengkhawatirkan.

Viral atau perasaan ingin terkenal (dengan cara cepat) merupakan kepanjangan tangan sifat superioritas. Ia menjadi inang dari lingkaran setan manusia modern yang, sayangnya masih terus diulang-ulang. Viral adalah wujud imajinasi populer manusia modern, di mana segala sesuatu dipertaruhkan untuk mencapai titik dipuji, disukai, dan dihormati, bahkan dengan bertaruh nyawa sekalipun.

Saya berpendapat bahwa viral itu candu. Seseorang setelah mencapai titik viral tidak menjadikan dia mutlak sudah selesai dengan menjadi viral, melainkan dia sudah mengafirmasi dirinya untuk masuk dalam siklus viral baru yang sangat memeras, melelahkan, dan mengecewakan.

Puasa Popularitas

Menjadi manusia tidak harus menjadi populer, ini pesan klasik. Sekadar mendahulukan aktivitas apa yang kita ingini saja itu sudah cukup meyakinkan masyarakat untuk mengakui keberadaan kita.

Sembilan abad yang lalu, Ibnu Athaillah As-Sakandari seorang sufi besar Islam dari Mesir dalam karya monumentalnya mengatakan, "Idfin wujudaka fi ardhil khumul, fa ma nabata mimma la yudfan la yatimmu nitajuhu". Kuburlah dirimu di tanah tak dikenal. Sebab sesuatu yang tumbuh dari benih yang tak ditanam di balik ketidakterkenalan tak akan sempurna buahnya.

Ibnu Athaillah menggunakan istilah tasawuf yang menarik, yaitu khumul. Istilah itu artinya kondisi di mana Anda terhalang dari khalayak ramai. Ibnu 'Ajibah memberi pengertian yang lebih dalam lagi: khumul adalah kondisi di mana Anda sama sekali tak dianggap oleh orang lain (suquth al-manzilah 'inda al-nas).

Saya menjamin nasib paling baik akan hasil kalau imajinasi populer akan viral tidak menjadi tujuan utama. Muamalah manusia modern sepatutnya memberikan teladan yang melampaui zamannya, dengan melewati tahap ketersembunyian "puasa popularitas", tapi melakukan kerja keras yang penuh dedikasi terhadap keberlanjutan generasi-generasi setelahnya.

Dengan tafsir bahwa ketidakterkenalan adalah challenge manusia modern untuk berlaku ikhlas, maka ikhlas adalah roh yang bisa menghidupkan amal dan pekerjaan manusia dalam membangun peradaban.

Dengan begitu, muamalah manusia modern harusnya fokus pada informasi yang berdampak paling nyata (high impact information) bagi peningkatan keterampilan, pengetahuan dan kualitas hidup. Abaikan informasi-informasi terkini (current new/breaking news) serta informasi yang tidak berguna meski sedang viral dan dibicarakan jutaan orang di media sosial. Jangan sampai jatuh dalam jebakan informasi yang tidak berfaedah agar tidak terpeleset untuk mengklaim diri sebagai "utusan malaikat".

Afrizal Qosim Sholeh peneliti muda di Institute of Southeast Asian Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Simak juga 'Sosok Pria Senegal yang Jadi Jawara Baru Kreator TikTok':

[Gambas:Video 20detik]



(mmu/mmu)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT