ADVERTISEMENT

Kolom

Jalan Terjal Merdeka Belajar

Johara Masruroh - detikNews
Senin, 27 Jun 2022 11:00 WIB
Swadisiplin, Merdeka Belajar, dan Pandemi
Ilustrasi: dok. detikcom
Jakarta -

"Apa pun nama kurikulumnya, bukankah sebenarnya tetap KTSP yang akan selalu digunakan di kelas?" celetuk salah seorang teman guru saat kami membicarakan tentang informasi perubahan Kurikulum 2013 ke Kurikulum Merdeka yang rencananya akan diterapkan secara nasional pada 2024.

Saya heran mendengar celetukan tersebut keluar begitu saja dari seorang guru meskipun sebenarnya saya tahu hal itu bukan omong kosong. Harus diakui bahwa saat ini masih banyak guru yang telanjur nyaman mengajar di kelas dengan cara lama dan selalu sama. Apa lagi kalau bukan teacher centered yang biasa digunakan di Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang dibentuk pada 2006.

Itu artinya meskipun pemerintah merancang kurikulum baru, tidak semua pendidik menyambut dengan baik dan bersedia mengikuti. Sejak KTSP diubah menjadi KBK kemudian berganti nama menjadi Kurikulum 2013, tidak semua guru mencoba belajar menerapkannya. Model pembelajaran teacher centered masih menjadi idola dan andalan. Lebih singkatnya hanya ada kepatuhan administratif terhadap kurikulum baru tanpa peningkatan kualitas proses pembelajaran yang diharapkan.

Pernyataan seorang guru yang saya ceritakan di atas menandakan bahwa Kurikulum Merdeka tidak akan mudah dijalankan. Pernyataan itu membuktikan adanya kemalasan dari para pendidik untuk melakukan perubahan. Tentu saja hal ini merupakan masalah besar bagi dunia pendidikan.

Mengapa Kurikulum Merdeka?

Mengutip dari laman puslitjakdikbud.kemdikbud.go.id, Kurikulum Merdeka memiliki keunggulan yang bisa diringkas menjadi tiga hal. Pertama, lebih sederhana dan mendalam karena fokus pada materi esensial. Lebih sedikit materi yang diajarkan akan memungkinkan peserta didik menyerap materi dengan baik.

Seperti yang kita ketahui bersama Kurikulum 2013 yang masih banyak dipakai di sekolah-sekolah saat ini dirancang dengan banyak sekali materi. Hal ini seringkali menyulitkan mereka karena diharuskan menangkap materi dengan cepat. Di sisi lain banyak guru yang merasa tidak punya pilihan selain terus-menerus mencekoki siswa dengan materi-materi demi tercapainya ketuntasan. Tentu saja yang dimaksud ketuntasan di sini adalah terselesaikannnya materi yang disampaikan guru dalam satu buku, bukan tuntasnya pemahaman peserta didik.

Kedua, lebih merdeka baik bagi peserta didik, guru, maupun sekolah. Merdeka bagi peserta didik artinya mereka bisa memilih mata pelajaran sesuai dengan minat bakatnya. Merdeka bagi guru karena mereka bisa mengajar sesuai dengan perkembangan peserta didik. Merdeka bagi sekolah karena sekolah diberi wewenang untuk mengelola pembelajaran berdasarkan karakteristik satuan pendidikan.

Kalau melihat fakta di lapangan, proses pendidikan saat ini memang masih belum bisa dikatakan merdeka sepenuhnya. Bayangkan saja, guru memiliki beban administrasi yang terlalu berat sehingga waktunya bukan lebih banyak dipakai untuk membuat dan merancang pembelajaran yang menyenangkan.

Sama halnya dengan siswa. Kita tidak perlu malu mengakui bahwa tidak sedikit di antara peserta didik yang pergi dan pulang dari sekolah setiap hari tanpa mendapat apa-apa. Mereka yang tidak mampu mengikuti proses pembelajaran teacher centered dianggap sebagai anak kurang pintar. Padahal sangat mungkin selama ini mereka memang tidak diberi kesempatan untuk belajar dengan cara yang mereka suka atau sesuai dengan bakat yang dimiliki.

Ketiga, lebih relevan dan interaktif dengan Project Based Learning (PBL). Mengapa ini penting? Sebab peserta didik seringkali tidak mengetahui apa tujuan dari materi yang mereka pelajari. Mereka tidak mengetahui relevansi ilmu pengetahuan dengan kehidupan sehari-hari sehingga tidak tumbuh minat belajarnya. Proses pembelajaran yang seperti ini hanya akan menghasilkan peserta didik yang lulus membawa ijazah, bukan lulus dengan pengetahuan baru.

Berpihak pada Peserta Didik

Dari ketiga uraian di atas, tampaknya yang terakhirlah yang membuat banyak guru merasa kesulitan sehingga muncul pernyataan skeptis terhadap kurikulum baru. Bagi guru yang sudah merasa nyaman mengajar dengan gaya lama, ceramah dan teacher centered misalnya, akan merasa ribet dengan PBL. Tidak bisa dipungkiri PBL memang membutuhkan waktu yang lebih lama serta pendampingan dan perhatian penuh kepada siswa.

Jika guru merasa kesulitan melakukan PBL, masih ada pilihan yang bisa diupayakan. Berkolaborasi antarguru mapel tentu merupakan cara yang wajar untuk dijadikan jalan tengah. Guru-guru dengan mapel berbeda tetapi memiliki keserupaan tema bisa saling bekerja sama merancang pembelajaran berbasis proyek. Dengan begitu, tugas guru menjadi lebih ringan dan murid tetap merasa senang.

Memakai cara lama dalam proses pembelajaran tentu saja bukan hal yang sepenuhnya salah. Bagaimana pun cara itu tetap diperlukan. Namun, harus diketahui oleh guru bahwa tugas mereka tidak hanya mencetak peserta didik agar mampu meraih angka 100 di atas kertas ujian melainkan juga mengasah kreativitas sehingga lebih bermanfaat bagi kehidupan.

Setiap peserta didik berhak mendapatkan pendidikan yang baik. Mereka seharusnya memiliki semangat yang sama saat belajar di sekolah sebab pendidikan bukan hanya diperuntukkan bagi yang pandai menghafal dan menjawab soal. Karena itulah Kurikulum Merdeka yang dirancang untuk menciptakan kemerdekaan belajar perlu disambut dengan dengan suka cita oleh setiap pelaku dunia pendidikan. Guru perlu memiliki sikap optimis dan rasa tanggung jawab untuk mewujudkan cita-cita pendidikan.

Kurikulum Merdeka tidak akan sukses bila guru merasa sudah sangat benar sehingga tidak mengoreksi diri dan berbenah demi kemajuan. Menjadi guru sudah semestinya menjadi orang yang terus bersedia untuk belajar dan menerima perubahan.

J. Masruroh guru Madrasah Aliyah

(mmu/mmu)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT