Menelisik Model Bisnis Rintisan yang Mulai Layu

ADVERTISEMENT

Kolom

Menelisik Model Bisnis Rintisan yang Mulai Layu

Frangky Selamat - detikNews
Kamis, 23 Jun 2022 10:38 WIB
Menelisik Model Bisnis Rintisan yang Mulai Layu
Franky Selamat (Foto: dok. pribadi)
Jakarta -

Badai krisis tampaknya belum juga berakhir ketika pandemi mulai terkendali. Berita gelombang PHK di sejumlah usaha rintisan nasional menarik perhatian masyarakat. Tak kurang pengusaha sarat pengalaman Hary Tanoesoedibyo menyebut sebagai hari-hari emas start-up business telah berakhir.

Efisiensi usaha dengan pengurangan karyawan adalah hal lumrah terjadi ketika kondisi dunia bisnis tidak lagi kondusif. Jangankan usaha rintisan yang masih mencari bentuk model bisnis yang pas dan tahan banting, usaha konvensional telah lebih dahulu "terpapar" krisis pada awal pandemi.

Usaha rintisan yang biasanya sarat teknologi sesungguhnya adalah usaha dengan model bisnis yang menawarkan inovasi dan terobosan baru. Karena "baru", bisa jadi model bisnisnya belum teruji betul.

Menyebut krisis tak dapat lepas dari situasi dengan kemungkinan kecil terjadi tetapi memiliki konsekuensi yang signifikan bagi organisasi, yang dihadapkan pada ketidakpastian yang tinggi dan desakan untuk pengambilan keputusan (Cater dan Beal, 2014).

Krisis telah memaksa pelaku bisnis untuk mengambil keputusan sulit demi mempertahankan keberadaan usaha daripada berhenti di tengah jalan, seperti dialami sejumlah usaha rintisan pada awal pandemi 2020.

Model bisnis yang rasionalisasi adalah tentang bagaimana sebuah usaha menciptakan dan menyampaikan value (benefit) kepada pelanggan serta monetisasi atas value tersebut, menjadi jantung keberlanjutan usaha rintisan dan konvensional. Sekalipun demikian kerapkali keberadaannya kurang menjadi fokus utama. Perhatian hanya pada sebagian aktivitas seperti penciptaan inovasi produk tetapi abai pada bagaimana bisnis bisa menghasilkan keuntungan.

Allen (2014) menyebutkan hasil riset telah menyimpulkan empat faktor utama mengapa model bisnis tidak bekerja dan akhirnya usaha menemui kegagalan.

Pertama, logika yang cacat. Model bisnis ditakdirkan gagal jika logika dasar mengenai masa depan bisnis itu tidak benar. Tatkala wirausaha mengasumsikan situasi dan kondisi yang tidak terwujud atau sulit eksis, maka mereka akan menghadapi tantangan untuk mengeksekusi model bisnisnya. Akibatnya sulit diwujudkan atau tidak mungkin terjadi.

Kedua, pilihan strategi yang terbatas. Ketika kondisi telah berubah maka semestinya strategi juga harus dapat diadaptasi merespons situasi terkini. Tiada pilihan bagi wirausaha untuk terus berinovasi mempertahankan keunikan value yang diciptakan agar senantiasa kompetitif.

Ketiga, asumsi penciptaan nilai dan monetisasi yang tidak sempurna. Tantangan terbesar bagi wirausaha untuk menjalankan model bisnis yang baru adalah menemukan cara agar bisnis dapat menghasilkan uang dan meraih keuntungan. Asumsi lemah menjerumuskan bisnis pada kenyataan tidak banyak konsumen yang bersedia membeli produk yang ditawarkan.

Keempat, asumsi rantai nilai yang tidak tepat. Banyak wirausaha berasumsi bahwa rantai nilai untuk produk dan jasa mereka bersifat statis, berjalan dengan pemain yang ada sekarang, dan bergerak lancar ke masa depan. Kenyataannya keadaan terus berkembang. Kompetensi inti bisnis memungkinkan wirausaha memasuki industri baru dan rantai nilai yang mungkin tidak terkait langsung untuk produk dan jasa mereka. Wirausaha semestinya cepat menanggapi situasi yang begitu dinamis.

Belum Berakhir

Tak pelak lagi model bisnis menjadi fondasi dasar usaha yang berkelanjutan. Ada dua aspek utama.

Pertama, bagaimana bisnis menciptakan value dengan mendeferensiasikan penawaran secara berbeda dari pesaing atau menciptakan produk untuk memenuhi kebutuhan yang belum terpenuhi sebelumnya. Bisnis memiliki pasar untuk value yang diciptakan, bukan malah sebaliknya mencari-cari pasar yang sesuai ketika penawaran telah siap dikomersialkan.

Kedua, memonetisasi value yang disampaikan ke pelanggan. Bisnis harus sanggup memiliki cara untuk menghasilkan uang dengan segera. Arus kas yang sehat menjadi modal awal bisnis yang berkelanjutan. Barangkali di masa-masa awal bisnis belum menghasilkan keuntungan namun dengan aliran kas yang lancar, soal keuntungan hanya masalah waktu.

Memang kesulitan yang biasa ditemui dengan model bisnis adalah kondisi yang memaksanya berubah sepanjang masa ketika terjadi perubahan perilaku konsumen. Ini menjadi tantangan bagi wirausaha untuk membangun keberlanjutan model bisnis sembari melindunginya dari imitasi pesaing. Sekali model bisnis diimitasi, produk dan jasa yang ditawarkan berpotensi menjadi komoditas yang kehilangan keunikan, dan memaksa bisnis terjebak dalam persaingan harga, bahkan perang harga

Semestinya hari-hari emas bagi usaha rintisan belum berakhir tetapi memasuki fase baru yang penuh harapan. Ketika kalangan muda bersemangat menginisiasi bisnis rintisan yang menawarkan disrupsi dan kerap kali menggoyang bisnis konvensional, spirit itu patut didorong dan dijaga, agar tidak keburu layu sebelum berkembang.

Frangky Selamat dosen Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi & Bisnis Universitas Tarumanagara

(mmu/mmu)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT