Menyiasati Punya Rumah Idaman

ADVERTISEMENT

Kolom

Menyiasati Punya Rumah Idaman

Suryagama Harinthabima - detikNews
Selasa, 21 Jun 2022 13:46 WIB
Tampak luar rumah kontainer 6 x 2,4 meter persegi (Foto: dok. pribadi)
Jakarta -

Pada bulan Ramadhan lalu, seorang fotografer datang jauh-jauh dari Magelang untuk mengambil foto di rumah saya di Jogja. Bersama seorang asistennya, pagi itu ia akan memotret seorang teman perempuan dengan bayinya yang berusia beberapa bulan. Setelah sesi foto selesai, kami bercengkerama sebentar. Saya bertanya ke dia, "Bagaimana, Mas tempatnya kurang apa?"

"Wah, tidak, Mas sudah cukup. Dulu buatnya bagaimana, Mas?"

Kebetulan, saya memiliki rumah yang bentuknya tidak biasa. Saya tinggal di sebuah peti kemas atau kontainer berukuran 20 kaki yang dimodifikasi. Kontainer bekas berukuran 6 x 2,4 meter persegi ini sudah dikonversi menjadi sebuah rumah mikro yang berisikan dapur, ruang multifungsi (untuk makan dan menjamu tamu), bilik shower, tempat tidur lipat, serta sejumlah rak atau ruang penyimpanan barang. Tidak ada sekat pembatas antar-ruang kecuali untuk bilik shower.

Karena tampilan hasil akhirnya menarik, rumah ini kadang digunakan untuk tempat pemotretan. Saya lalu jelaskan ke dia bahwa proses membangun rumah ini dulu tidak sekali buat langsung jadi, tapi penuh trial and error. Bagi saya yang tidak memiliki latar belakang arsitektur maupun pertukangan, membangun rumah ini (dengan dibantu banyak orang lain, tentunya) memang bukan sebuah proses yang mudah.

Saya memulai proses modifikasi kontainer ini pada 2016. Ide awalnya saya dapat sewaktu tinggal dan menempuh S2 (dengan beasiswa) di Inggris tahun sebelumnya. Di sana, saya melihat orang-orang yang mengonversi kapal kecil (narrowboat) di kanal-kanal, gerbong kereta, truk, bus, dan kontainer untuk dijadikan tempat tinggal atau kantor. Alasannya beragam. Ada yang merupakan ekspresi keeksentrikan dan kreativitas, ada yang ingin tinggal berpindah-pindah, ada yang karena alasan ekonomi, dan ada yang karena ingin menyewakannya di AirBnB.

Saya sendiri pernah berkunjung dan melihat-lihat sebuah kantor kecil yang dulunya merupakan gerbong kereta bawah tanah dan kontainer di sebuah tempat yang namanya Village Underground. Terletak di London, tempat ini memang memiliki ruang bawah tanah untuk berbagai acara kreatif dan hiburan. Tapi, bekas gerbong dan kontainer itu justru ditaruh di atas, di rooftop gedung dua lantai sehingga tampak menonjol dari luar.

Dari itu semua, saya mendapatkan cara pandang bahwa sebuah rumah itu pada esensinya adalah tempat bermarkas, base camp, ruang yang aman untuk kita pulang. Tempat seseorang memiliki sense of belonging, sebuah perasaan yang mantap tentang di mana ia seharusnya berada. Itu saja.

Dengan mengembalikan definisi rumah tinggal ke komponen paling fundamentalnya, seseorang akan bisa memiliki kebebasan untuk menentukan seperti apa desain rumahnya kelak. Bentuk, ukuran, material yang digunakan, dan lokasinya menyesuaikan dengan nilai-nilai yang ia anut. Ini tentunya dilakukan dengan tetap mempertimbangkan batasan-batasan yang ada.

Di lain pihak, saya tidak memungkiri bahwa cara pandang seperti ini memang lebih mudah untuk diterima di negara bebas dan yang lebih menghargai individualisme seperti Inggris. Untuk negara seperti Indonesia, butuh keberanian yang lebih besar untuk bisa tampil beda di tengah masyarakat yang lebih terbiasa tampil seragam.

Setelah saya pertimbangkan baik-baik, saya tidak bisa memungkiri bahwa hati dan pikiran saya cenderung untuk sejalan dengan mereka yang mengembalikan segala sesuatu kepada esensinya. Walaupun nanti akan ada usaha ekstra di belakang untuk memberikan 'penjelasan' kenapa saya tampil beda dibandingkan dengan yang lain, cara pandang seperti ini bagi saya lebih rasional.

Mengundang Keheranan

Pelan-pelan, saya mulai mengumpulkan niat untuk membangun rumah dari kontainer. Singkat cerita, kontainer bekas ini didatangkan dari Semarang ke lahan tanah pemberian orangtua saya di Jogja pada pertengahan 2016. Tentu saja, ini mengundang keheranan dari warga di sekitar dan orang-orang yang lewat. Terlebih karena lokasinya berada di tengah kota, di kawasan kampung yang padat dengan jalanan yang tidak terlalu lebar.

Untuk proses awal modifikasinya, saya menyewa sebuah bengkel las besi. Tapi entah apa alasannya, mereka berhenti di tengah jalan. Dari sini, saya mulai paham bahwa ekspektasi dan gaya komunikasi saya dan mereka sepertinya tidak sama. Selain itu, saya juga mulai paham mengapa berulang kali ada tetangga atau saudara yang berkata, "Susah cari tukang."

Lalu seperti yang saya tulis di awal, proses modifikasi kontainer ini belum tentu sekali jadi. Ini tentu menyusahkan khususnya di sisi mereka. Sejak saat itu, saya putuskan bahwa alih-alih hanya mengandalkan pekerjaan orang-orang lain, saya harus sedikit menyelami proses modifikasi ini dengan tangan saya sendiri.

Saya mulai membeli alat-alat pertukangan seperti mesin bor dan gerinda tangan dan berlatih menggunakannya. Khusus mengelas besi, saya berlatih dengan dibantu beberapa tetangga sekitar. Ini dibarengi dengan berburu informasi di internet dan material di toko-toko bahan bangunan.

Setelah berlatih beberapa waktu, barulah saya menyewa dua orang tenaga kerja sistem harian (bukan borongan) untuk membantu saya. Dengan cara ini, saya bisa mengalokasikan pekerjaan ke mereka masing-masing dengan lebih terhitung dan 'masuk akal'.

Saya sangat beruntung bahwa lahan yang saya tempati ini adalah pemberian orangtua. Saya pun bersyukur pernah enam tahun bekerja di Jakarta sehingga saya sudah punya sedikit tabungan untuk membangun rumah ini. Sudah bukan rahasia lagi bahwa harga tanah dan rumah di Jogja sudah terlalu mahal bagi warga lokalnya sendiri. Tingkat upah minimumnya pun konsisten tergolong terendah se-Indonesia.

Vice belum lama ini merilis artikel berjudul Menggali Penyebab UMR Jogja Konsisten Dianggap Terlalu Murah. Setelah memaparkan beberapa cara pekerja muda di Jogja untuk berhemat sehemat-hematnya, artikel itu memuat hasil riset Fisipol UGM pada 2021 yang mengatakan bahwa pekerja-pekerja ini hanya punya tiga pilihan terkait kepemilikan rumah: dari warisan, membeli rumah jauh dari kota, atau selamanya tidak punya tempat tinggal sendiri.

Sementara itu, banyak tanah dan properti di Jogja dibeli warga daerah lain yang lebih kaya, baik untuk ditempati atau investasi. Harga tanah dan bangunan jadi semakin mahal. Harga-harga kebutuhan lain juga semakin mahal. Warga yang penghasilannya pas-pasan hidupnya jadi semakin sulit, atau bahkan menjual rumahnya dan pindah ke kota lain (atau pindah rumah kontrakan yang lebih jauh). Ini ibarat zero-sum game; harus ada pemain yang kalah dan menyingkir supaya yang lain bisa menang.

Di sisi lain, saya tidak bisa menyangkal bahwa di awal, fakta bahwa tingkat upah di Jogja itu murah berperan cukup signifikan bagi saya dalam mematok berapa gaji minimum yang bersedia saya bayarkan ke dua tukang yang membantu saya tadi. Dengan kata lain, saya pun bersalah karena telah ikut melestarikan 'budaya' upah murah di kota ini. Barulah setelah saya pelan-pelan mengenal mereka dengan lebih baik, saya jadi paham bahwa pola pikir saya dulu itu sungguh keliru. Ah, sudahlah!

Meleset

Saya tidak akan bohong. Kebutuhan dana yang saya estimasi di awal jadi meleset jauh lebih tinggi. Tapi setelah melihat hasil akhirnya, menurut perhitungan kasar saya, total biayanya akan bisa ditekan seandainya di awal saya sudah yakin material-material apa yang akan saya gunakan dan seperti apa desainnya.

Sejauh ini, atap rumah ini tidak pernah bocor saat hujan dan dindingnya tidak pernah retak ketika terjadi gempa bumi (ringan). Saya masih ingat gempa bumi 27 Mei 2006 yang merenggut 10 ribu korban meninggal di Bantul dan Klaten. Pagi itu, kami masih berada di dalam kamar masing-masing. Tiba-tiba bumi bergoncang dengan kuat sehingga kami sontak langsung lari ke jalan di depan rumah. Memiliki rumah dari kontainer ini cukup meredam kekhawatiran saya jikalau tiba-tiba terjadi gempa bumi lagi.

Lalu setelah saya perhatikan, sudah ada dinding atau atap rumah orang lain yang sudah retak atau bocor meskipun masih tergolong rumah baru. Saya curiga hal semacam ini terjadi akibat proses pengerjaan yang tidak maksimal, baik disengaja atau tidak. Kalau kita cari di Google pun tak jarang kita temui kasus dan masalah pemilik rumah yang merasa ditipu entah oleh pengembang, kontraktor, maupun tukang bangunannya. Akibatnya, uang yang harus dikeluarkan untuk bisa memiliki rumah idaman jadi semakin banyak.

Proses pembangunan rumah ini akhirnya selesai di akhir 2019. Cukup lama juga karena sempat tersendat setelah ada beberapa kendala dan masalah pribadi. Saya salut kepada mereka yang mencoba cara-cara alternatif demi bisa memiliki rumah idaman. Entah itu ikut membangun dengan tenaga sendiri, menggunakan material-material yang tidak konvensional, maupun yang lain. Seperti konsep rumah tumbuh yang diterapkan Mas Pepeng dengan Klinik Kopi-nya, misalnya.Dari awal perencanaan, mereka membangun rumah dan menambah fitur atau ruang-ruang yang dibutuhkan secara bertahap sesuai dengan ketersediaan dana. Desain bangunan serta isinya pun menarik.

Hingga saat ini, saya masih menangkap kesan bahwa masih ada orang yang tidak berkenan menyebut atau mengistilahkan rumah saya ini sebagai rumah, tapi sebatas kamar. Lalu, masih ada juga yang alih-alih menyebutnya sebagai peti kemas atau kontainer, ia menyebutnya dengan istilah boks atau bahkan gerbong. Tidak masalah.

(mmu/mmu)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT