Rendang, Gus Dur, dan Kisah-Kisah Lainnya

ADVERTISEMENT

Kolom

Rendang, Gus Dur, dan Kisah-Kisah Lainnya

Ahmad Riyadi - detikNews
Jumat, 17 Jun 2022 11:00 WIB
Rendang
Foto ilustrasi: iStock
Jakarta -

Kreasi unik bangsa Indonesia salah satunya tercermin melalui makanan. Di Indonesia makanan tidak hanya menjadi penyumbang kesehatan yang bersifat fisik, tetapi juga cerminan kesehatan hubungan sosial.

Kala Lebaran atau hari raya umat beragama lainnya, makanan menjadi elemen penting yang tidak boleh terlewatkan. Jika antarumat tidak bisa bertemu dalam titik keyakinan, biasanya mereka dipertemukan lewat makanan.

Pada saat Idulfitri, ketupat tidak hanya dinikmati oleh umat Islam, tetapi juga mereka yang bertandang. Pun juga saat perayaan Imlek, nuomi fan atau kue ketan juga disantap bagi lainnya, tidak hanya bagi orang Tionghoa. Pada perayaan hari-hari besar lainnya juga demikian adanya.

Makanan ibarat mesin yang menggerakkan toleransi dan saling menghargai. Bahkan jauh sebelum makanan itu dihidangkan, proses dan pemaknaannya tidak lepas dari konstruksi kebudayaan. Tetapi belakangan tampaknya makanan berujung petaka. Rendang babi yang demikian ramai dibicarakan melecut sikap saling curiga, menghakimi, hingga berujung pada disharmoni.

Mula-mula, petaka itu muncul saat penilaian didasarkan pada identitas tertentu, Padang dan Islam. Bahwa faktanya warung penyedia itu sudah tutup dua tahun terakhir, atau pemilik warung sudah mencantumkan label non halal, tampaknya tidak bisa mencegah kemarahan dan kebrutalan.

Rendang memang identik dengan masakan restoran Padang. Sama halnya dengan yang lain, makanan juga identik dengan identitas etnis tertentu. Tapi dinamika pasar --lengkap dengan komersialisasi dan peningkatan promosi-- tidak terbantahkan. Selain daging sapi yang dijadikan rendang, mungkin babi juga bisa.

Makanan lain sama demikian, bakpao, ramen, hingga dalgona sekalipun. Makanan serupa, yang awalnya dari babi, sampai di Indonesia juga bisa dibuat dari daging sapi atau ayam. Ini yang kemudian menjadikan makanan sebagai kreasi yang unik. Ia bisa menerabas batas determinasi agama, budaya, dan teritori. Ia bisa menjadi peramu keharmonisan dan toleransi, tetapi di saat yang bersamaan juga menjadi petaka.

Tentang restoran Padang, di mana rendang menjadi salah satu menu utamanya, saya teringat apa yang ditulis oleh Gus Dur dengan judul Lagu Jawa di Restoran Padang. Bagi Gus Dur, restoran Padang adalah ujung dari sebuah tradisi memasak yang dikembangkan orang Minang. Juga perwujudan dari kemampuan mencapai kepraktisan untuk membagi atau menyajikan makanan hanya dalam unit yang diperlukan.

Kepraktisan adalah ciri dari restoran-restoran siap saji yang bergulir dari orang Barat. McD, KFC, dan semacamnya adalah restoran-restoran yang mengandalkan kepraktisan. Sampai-sampai, makanan siap saji ini dialamatkan oleh George Ritzer untuk membaca fenomena masyarakat modern, yang dikenal dengan istilah McDonaldisasi.

Maka Gus Dur sampai pada simpulan yang menarik, restoran Padang mempunyai daya tembus lintas sektoral. Ia tidak hanya untuk orang Minang, tetapi saya orang Madura atau Anda orang Bugis juga bisa menikmatinya. Bahkan, sepintas Gus Dur mendudukkan sejajar dengan masakan-masakan orang Barat, seperti humberger atau fried chicken.

Gus Dur menceritakan sisi lainnya, tentang makanan yang tidak hanya sekadar makanan, tetapi juga etos dan keterbukaan, lengkap dengan parade konstruksi kebudayaannya saat dia mencontohkan piring-piring yang bertengger di lengan pegawainnya, seperti terilhami "ilmu lengket" tari piring.

Kisah Lain

Rendang babi ini menggambarkan kisah lain. Ia diwacanakan sebagai pelecehan terhadap produk kebudayaan masyarakat Padang yang kental dengan Islam. Rendang babi dianggap sebagai penistaan terhadap budaya sekaligus agama. Wacana penistaan ini kian matang dengan munculnya pendapat-pendapat tokoh, mulai dari pengamat sosmed sampai dengan tokoh publik.

Benar bahwa Padang komposisi kependudukannya di sisi mayoritas orang Islam. Tapi Padang juga dibesarkan oleh hikayat-hikayat kutukan seorang ibu kepada puteranya yang menjadikannya batu. Padang juga dikayakan dengan novel (lalu difilmkan) Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk yang mengisahkan keterbuangan sosok manusia akibat tata adatnya.

Dalam sejarah dialog keislaman, Padang mempunyai peristiwa yang menarik. Wieringa dikutip Prof. Media Zainu Bahri (Perjumpaan Islam Ideologis & Islam Kultural, 2022) mengisahkan dialog keagamaan Syaikh Daud dengan Tuanku Lubuk Ipuh. Hingga akhirnya, Syaikh Daud harus mengambil jalan untuk ke Mekah, sebagai langkah kekalahannya dalam adu debat teologi di depan masyarakat umum. Dari Mekah, Syaikh Daud menulis Syair Makah dan Madinah.

Syair Makah dan Madinah yang awalnya digunakan Syaikh Daud untuk mengkritisi ajaran dan para pengikut agama Ulakan, syair ini kemudian dicetak oleh penerbit Singapura, yang kemudian dijadikan buku panduan haji untuk jamaah haji Nusantara dan Asia Tenggara yang transit di Singapura.

Rendang babi yang belakangan menjadi diskursus publik, sebagai wacana kebudayaan dan keislaman sekaligus, hanya akan mendorong kearifan Padang yang luar biasa menjadi stagnan bahkan mundur, dari tata makanan sampai dengan laku sosial-keagamaannya. Ekspresi eksklusivisme dalam kebudayaan dan keagamaan hanya akan semakin membuat genderang identitas kian tertabuh kencang, dengan irama-irama yang bisa menggoda terjadinya pertengkaran dan kerusuhan sosial.

Ahmad Riyadi alumni Sosiologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Simak juga 'Sejarah Agama Baha'i di RI: Dilarang Soekarno Lalu Diizinkan Gus Dur':

[Gambas:Video 20detik]




(mmu/mmu)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT