Eskpresi Cinta Ratu Laut Kidul (4)
Sudamala Kencani Bethari Durga
Catatan:
Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Jakarta - Romantisme dalam mistisme adalah bagian yang tak terpisahkan dalam diri manusia Jawa. Dua soal itu saling silang. Keduanya menyatu dalam kesatuan, dan terkemas dalam ritus yang sulit terpisahkan.Tak heran, ritual menangkal tragedi dan prahara pun nuansanya tak jauh-jauh dari itu, seperti yang terekam dalam Serat Sudamala.Renungan dan tangisan hingga hari ini masih terus terdengar di berbagai tempat di Jawa Tengah dan Yogya. Manusia Jawa yang menurut Kuntowijoyo diklasifikasikan sebagai manusia introvert itu kini makin diam dalam diam. Mereka ngudoroso, melakukan introspeksi, solilokui, di tengah kehancuran dan keterpurukan.Di tempat-tempat tertentu, di malam-malam yang sepi, suara rengeng-rengeng masih terdengar di sana-sini. Suara orang melaras megatruh, maskumambang atau dongeng cinta asmaradhana yang bernuansa mistis itu menjadi irama rutin. Ini bukan nyanyi tentang kegembiraan. Inilah tangis indah, yang dilatari oleh penyadaran diri, bahwa tiap musibah pasti ada hikmah.Ritus-ritus itu tergelar di mana-mana. Di antara debur ombak pantai, atau menyatu di tengah gemerisik dedaunan di gunung. Di dua kawasan macam itu kini makin banyak didatangi pencari berkah. Mereka melakukan ritus, agar tragedi dan bencana yang menimpa membuatnya kian tabah.Di perbukitan Menoreh, misalnya, informasi yang diterima penulis menyebutkan, tempat-tempat untuk melakukan diam dengan cegah lek dan cegah dahar (makan) itu makin penuh saja. Puluhan goa dengan spesifikasi tertentu dan tujuan tertentu, intensitas pengunjungnya menaik. Ini pertanda, bahwa tragedi Yogya, memang sangat memukul batin mereka.RuwatanDalam kepercayaan Jawa, situasi prihatin harus disikapi dengan dua langkah yang terkesan ambivalen. Pertama menerima musibah yang baru terjadi sebagai ujian dari Tuhan Yang Maha Esa, dan kedua, mempersiapkan secara metafisis agar tragedi tak terulang lagi. Dan dua langkah itu bisa dilakukan hanya dengan satu tindakan, yaitu ruwatan.Ruwatan merupakan murwokolo. Membuang sial dan unsur negatif lainnya dalam diri seseorang. Dalam ruwatan unsur Hindu amat kental. Biasanya untuk tujuan ini dilakukan dengan nanggap wayang cerita tertentu. Diyakini, dengan langkah itu, maka musibah yang terjadi tak akan terulang kembali.Untuk tujuan ruwatan, selain melakukan pagelaran wayang, juga ada cara lain yang tak kalah efektifnya. Cara ini lebih mudah dan murah, karena tak perlu sarana mahal. Hanya mengumpulkan orang, melakukan pembacaan serat secara bergantian, maka niat untuk ruwatan itu sudah terlaksana.Serat yang dibaca adalah Serat Sudamala. Serat ini dipercaya sebagai serat sakti. Serat ruwat yang manfaatnya untuk menangkal musibah serta nasib sial. Serat ini harus dibaca dan dipagelarkan menyerupai tradisi mocopatan. Diyakini, pendengar dan pencerita yang menghadirkan serat ini sama-sama memperoleh manfaat.Serat Sudamala bercerita tentang Bethari Durga dan keluarga Pandawa. Istri Bethara Guru yang cantik jelita itu mendadak berubah bentuk menjadi raksesi. Perubahan juga terjadi pada beberapa bidadari. Itu semua terjadi setelah mereka terlibat kasus asusila. Perubahan wujud itu mengubah perangainya. Akibatnya, jagat manusia goncang karena menjadi sasaran amuknya.Agar musibah tak berkepanjangan, maka Bethari Durga harus dikembalikan pada wujud asalnya. Ia harus dijauhkan dari istananya, Setro Gondomayit, serta pasukannya yang terdiri dari segala jenis setan yang ganas.Untuk menghentikan segala kedurjanaan itu, hanya ada satu cara. Harus ada lelaki yang mau berkorban, mencintai raksasa wanita itu sepenuh hati. Jika cinta sudah terjalin, maka tuah yang ada akan gugur, dan secara otomatis mengubah kembali seluruh bentuk raksesi di istana yang dipenuhi kebrutalan dan kebuasan itu.Untuk tujuan mulia ini, ditunjuklah Sadewa, saudara kembar Pandawa. Satria tampan dan perkasa itu tak kuasa menolak. Ia harus melaksanakan perintah demi kemaslahatan umat. Satria inipun masuk istana Setro Gondomayit dan mengencani sang ratu raksasa.Perjalanan Sadewa yang kemudian bergelar sebagai Sudamala itulah inti dari serat ini. Ada dramatisasi yang menegangkan, romantis, dan juga lucu didalamnya. Jika narator yang menceritakan kisah ini pandai, maka pembacaan Serat Sudamala akan hidup dan menjadikan pendengar terkesima. Namun kenapa serat yang romantis ini diasumsikan mampu sebagai jimat penangkal musibah?Jawaban untuk itu tak jauh-jauh dari sikap dasar dari kepercayaan manusia Jawa, sinkretisme. Dalam pandangan ini, asal-usul manusia hakekatnya adalah berasal dari lingga-yoni. Pertemuan antara lingga (kemaluan laki-laki) dan yoni (kemaluan perempuan). Jika dari sana kita berasal, taklah heran jika kencan, birahi, romantisme, serta organ kelamin, tidak bisa dibilang sebagai benda atau ulah tabu tetapi justru sebaliknya, sakral.So, jangan bilang candi Sukuh atau candi Ceto sebagai candi jorok. Juga Borobudur yang formatnya punden berundak. Termasuk tumpeng yang sering kita gunakan untuk menandai setiap upacara peresmian, karena semuanya adalah mimesis dari lingga yoni. (Habis)Keterangan penulis:Djoko Su'ud Sukahar adalah budayawan. Tinggal di Surabaya, Jawa Timur.
(/)











































