Kala Prahara Hantam Kota Mistik
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Ekspresi Cinta Ratu Laut Kidul (1)

Kala Prahara Hantam Kota Mistik

Rabu, 07 Jun 2006 11:56 WIB
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Kala Prahara Hantam Kota Mistik
Jakarta - Yogya kini tak terbayangkan. Kota yang indah dan tenang itu jadi berubah mirip kapal pecah. Puing berserakan, dan jerit tangis serta lolongan minta tolong menggema dimana-mana. Benarkah tragedi gempa Yogya ini tak melulu peristiwa alam, tetapi lebih sebagai peristiwa yang bernuansa mistik?Dan kalau itu peristiwa mistik, adakah yang salah, dan siapa dia? Betulkah dalang dari semua ini adalah Nyai Roro Kidul yang marah dan mengirim gempa dari Samudera Hindia yang dipercaya sebagai pusat kerajaannya? Atau, gempa yang diistilahkan manusia sebagai musibah itu justru adalah refleksi cinta dari sang ratu makhluk halus itu?Tulisan ini tak hendak menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab itu. Hanya, agar mampu menstimulasi korban dari tragedi gempa ini, maka dirasa menyejukkan bila musibah itu didekati dari sisi budaya. Budaya luhur, yang diyakini punya kekuatan sakti untuk melihat kenyataan dengan rasa syukur, dan optimisme ke depan.Untuk tujuan itu, maka tulisan ini didasarkan pada ungkapan yang ada dalam Serat Nitik yang mengkisahkan perjalanan mistik Sultan Agung, serta kisah percintaan raja Jawa dengan Nyai Roro Kidul yang teknik bercintanya melebihi indahnya Kamasutra. Kedua digunakan Serat Wirid Hidayat Jati untuk berkaca diri tentang asal dan kembalinya hidup ini. Dan ketiga, serat ruwat Sudamala disertakan sebagai pengeling bagaimana tiap musibah pasti ada hikmahnya.Kota MistikYogya berkabung. Gempa dasyat menerjang, dan ribuan nyawa melayang. Tragedi ini menyentak siapa saja, terutama para spiritualis. Soalnya, daerah yang nyaris hanya terancam oleh lahar Merapi itu secara metafisis adalah kawasan putih. Kawasan, dimana semadi, meditasi, dan lelaku diam dalam sepi (nglangut) sebaga tradisi sehari-hari.Kalau tidak percaya, datanglah malam-malam ke makam Panembahan Senopati, raja Mataram pertama. Di kawasan yang tenang itu jangkrik pun tak berani berbunyi. Di pintu utama tersedia dupa dan kemenyan untuk ritual, serta di dalamnya, ada saja manusia yang diam membisu untuk keperluan sesuatu.Ingin bukti lagi, ada pilihan untuk melihat itu di tengah suasana kampung. Di belakang Pasar Ngasem tampak puing-puing (akibat gempa, sekarang ambruk). Bangunan ini merupakan produk Mataram pasca Perjanjian Gianti. Sikap defensif raja-raja Jawa melahirkan bangunan yang berarsitektur megah dan wah. Tamansari, tempat itu, memadukan kepentingan keindahan,kecanggihan, pertahanan, sekaligus mistik.Tetapi kebudayaan Jawa yang mistis membuat keindahan dan kemegahan itu jadi tampil beda. Sumur Gumuling muncul dengan cerita seram. Dan di ruang dalam bangunan ini terdapat peraduan, kisahnya pun membuat merinding. Disinilah para raja Jawa melakukan kencan dengan Nyai Roro Kidul, Ratu Pantai Selatan. Tapi jangan takut malam-malam mendatangi tempat ini. 'Keseramannya' tak membuat ruang ini luang, tetapi justru merangsang banyak pendatang. Dalam gelap dan sunyi, ada saja orang menjalankan lelaku. Melakukan penyatuan diri dengan caranya sendiri-sendiri.Dua contoh itu mungkin masih belum lengkap. Sekarang mari kita ke tempat yang lebih ramai di Yogja, yaitu di alun-alun kraton. Di tanah lapang ini, saban malam ada atraksi jalan dengan menutup mata, yang dilakukan remaja sampai kakek dan nenek-nenek. Atraksi ini jangan dianggap sebagai mainan dan hiburan. Ini adalah bagian dari ritual, melihat nasib dan peruntungan. Mereka bergembira kalau berhasil melewati ringin (pohon beringin) kembar, dan berusaha melakukan ritual lagi jika gagal, untuk 'mengubah' nasib.Dan ritus untuk mengubah peruntungan semacam ini juga bisa disaksikan di Borobudur. Di candi itu ada sebuah patung yang saban hari disentuh oleh pengunjung. Patung Buddha itu disebut Kuntobimo yang kaki dan tangannya jadi rebutan para pelancong.Namun mengapa mereka melakukan dan mempercayai itu? Usut punya usut, ternyata patung ini sikap semadinya (mudera) adalah memutar roda dharma. Artinya, dalam agama Buddha, sikap semadi macam itu memang untuk 'mengubah nasib' dan peruntungan.Untuk itu, taklah heran jika Doktor Simuh, mantan rektor IAIN (sekarang UIN) Sunan Kalijogo menyebut, bahwa orang Jawa itu pinter. Agama apa saja bisa diterima, tetapi belum tentu orang Jawa itu masuk salah satunya. Hakekatnya orang Jawa itu adalah sinkretis. Tak penting agamanya, yang lebih penting adalah ritusnya.Namun mengapa kota yang dihuni para spiritualis itu digoncang prahara? Adakah ritual yang salah? Atau secara metafisis, musibah ini bagian lain dari cobaan bagi penghuninya? (Bersambung)Keterangan penulis:Djoko Su'ud Sukahar adalah budayawan. Tinggal di Surabaya, Jawa Timur. (/)


Berita Terkait