Cita-Cita, "Kotak Nasib", dan Pola Asuh Anak

ADVERTISEMENT

Kolom

Cita-Cita, "Kotak Nasib", dan Pola Asuh Anak

Krismanto Atamou - detikNews
Jumat, 03 Jun 2022 15:30 WIB
Kotak Nasib
Krismanto Atamou (Foto: dok. pribadi)
Jakarta -

Beberapa hari lalu istri saya menelepon kedua mertuanya di kampung. Setelah beberapa saat, dua orang anak saya ikut berbicara via telepon dengan Opa dan Omanya (kakek dan neneknya).Tiba-tiba Opa menanyakan cita-cita kedua cucunya itu. Pertanyaan itu dijawab sang kakak bahwa ia mau menjadi penjahit. Sedangkan adiknya menjawab bahwa ia ingin menjadi montir sepeda motor dan menjual bahan bakar minyak. Sontak Opa mereka terkejut.

Jawaban tidak lumrah dari kedua cucunya itu membuat Opa tidak nyaman. Opa lalu berupaya mengarahkan mereka untuk memilih pekerjaan yang sudah pakem dan menjadi idola dari dulu. Opa berharap sang kakak menjadi dokter atau dosen, sedangkan si adik menjadi aparat keamanan semisal polisi atau tentara. Tawaran itu dijawab, "No, Opa. No, no, no!" Kakak-beradik itu tetap kukuh.

Begitulah, wajar ketika para tetua selalu mengharapkan yang terbaik bagi keturunan mereka. Sayangnya, harapan para tetua itu terkadang membingkai keturunannya dalam "kotak" nasib seperti zaman dahulu.

Pada zaman dahulu, cita-cita setiap orang memiliki pakemnya sendiri. Orang dianggap sukses bila menjadi pekerja atau profesional di sektor tertentu. Sedangkan pekerja di sektor lainnya dianggap kelas dua, kelas tiga, dan kelas seterusnya. Seolah ada diskriminasi nasib manusia.

Saat masih kuliah, saya bergabung dengan Resimen Mahasiswa (Menwa) Satuan 01 Undana, Kupang. Pakaian Menwa mirip pakaian dinas kesatuan tertentu, lengkap dengan baret, wing, dan sepatu boneng. Seorang kenalan yang melintas di depan kampus dan melihat saya berpakaian demikian, datang menyapa dengan riang. "Wah, sukses ya, kamu. Tidak sangka-sangka kamu telah lulus dan bertugas di kesatuan ini."

Begitulah orang yang berpakaian dinas tertentu dianggap sukses. Sedangkan, orang yang berpakaian dinas lain, apalagi yang tidak memiliki pakaian dinas, dianggap kurang beruntung. Begitu juga ketika saya bertemu dan reuni dengan teman-teman lama, saya berupaya menghindari pembicaraan tentang nasib atau pekerjaan pribadi. Saya takut itu akan melukai pihak tertentu jika sudah ada unsur membanding-bandingkan.

Sudah Bergeser

Saya kira pada masa kini, pakem sukses dalam berkarier mestinya sudah bergeser seiring perkembangan zaman. Pemikiran bahwa orang sukses ialah seorang pekerja berpangkat, berpakaian dinas, dan memiliki full fasilitas, saya rasa tidak mesti lagi pada zaman ini. Namun dengan masih eksisnya generasi lama, pakem itu masih terus hidup.

Demikianlah, suatu saat Maell Lee sulit menjelaskan kepada ibunya terkait jalan sukses dan karier yang ia tempuh sebagai youtuber. Hal itu ia sampaikan saat wawancara di acara Tonight Show Premiere. Rekaman wawancara ini dapat kita saksikan di channel Youtube TonightShowNet menit ke-10.40. Mael mengaku bahwa ibunya heran, bagaimana Maell menghasilkan uang tanpa bekerja di kantor. Ibunya juga heran karena Maell tidak berpakaian dinas dan tidak bangun pagi untuk bekerja sebagaimana orang kantoran. Sebagai youtuber, kerja Maell ialah sebagai content creator --tanpa kantor dan jam kerja khusus.

Hal yang dialami Maell juga dialami oleh beberapa teman dan saudara saya. Selepas kuliah dan memperoleh gelar sarjana, mereka lebih suka berwirausaha berbekal ilmu yang didapat dari kampus. Kuliah tidak lagi semata sebagai proses mencetak tenaga kerja bagi sektor birokrasi atau industri, tetapi juga proses untuk mempersiapkan wirausahawan dan wirausahawati. Sesuatu yang "aneh" bagi generasi tua.

Salah seorang sepupu saya saat ini telah lulus SMA dan akan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Ia menyampaikan keinginannya untuk kuliah di Jurusan Pertanian. Ketika saya bertanya alasannya, ia menyampaikan keinginan untuk mendapatkan ilmu pertanian lalu mengolah tanah warisan orangtuanya. Saya kagum padanya.

Begitulah saya kira sebagai orangtua zaman ini, kita berada di persimpangan jalan pola pengasuhan anak. Apakah kita tetap mengasuh anak semata demi menjadi profesional dan tetap berorientasi seperti itu, atau kita berubah sesuai zaman? Apakah sebagai orangtua kita hanya berharap anak kita kelak akan menjadi seorang profesional, menjadi pekerjaan tetap? Apakah kita begitu takut jika nasib anak kita kelak tidak seperti ekspektasi kita? Apakah kita khawatir anak-anak kita kelak terlantar dan luntang-lantung?

Politisi Adian Napitupulu pernah mengatakan: kita tidak bisa lagi mewariskan ketakutan masa lalu kepada anak masa kini. Anak masa kini punya tantangannya sendiri. Adian mengatakan ini di acara Mata Najwa dalam konteks partai terlarang PKI yang kini telah sirna.

Dalam acara itu, Adian mendebat Kivlan Zen dengan mengatakan, "Saya menghargai pengalaman hidup dan pengalaman traumatik Bapak. Tapi itu tidak mungkin kita wariskan kepada generasi kita terus menerus. Bagaimanapun juga generasi muda hari ini akan memiliki zamannya sendiri, tantangannya sendiri, akan memiliki musuhnya sendiri. Biarkan mereka menghadapi itu. Tidak kemudian hantu masa lalu harus kita wariskan menjadi hantu bagi mereka di kemudian hari. Tidak bisa ketakutan masa lalu kita wariskan kepada generasi kita."

Kata-kata Adian ini saya kira pas juga untuk menggambarkan konteks orientasi kerja dan pakem sukses bagi anak-anak masa kini. Dan bahwa pola asuh orangtua masa kini kepada anak-anaknya sudah tidak bisa mesti seperti dulu lagi.

Anak-anak masa kini punya tantangan pekerjaannya sendiri. Bahkan bukan tidak mungkin, anak-anak ini sudah berpikir di luar "kotak" nasib yang dipikirkan orangtuanya. Semisal dua anak saya tadi yang bercita-cita menjadi penjahit dan montir. Alih-alih mengarahkan mereka ke "kotak" nasib, saya kira alangkah lebih baik jika orangtua mendukung mereka untuk bersiap masuk dan menanjak di jalan karier yang mereka pilih sendiri.

Krismanto Atamou penulis, tinggal di Kabupaten Kupang

(mmu/mmu)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT