Kolom

Inflasi dan Kenaikan Suku Bunga Global

Haris Mubarak - detikNews
Rabu, 25 Mei 2022 11:05 WIB
Inflasi di AS Menembus Level Tertinggi dalam Empat Dekade
Foto ilustrasi: DW (News)
Jakarta -

Kejutan besar terjadi pada finansial global. Bank Sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve atau The Fed secara resmi mengumumkan pada Rabu (4/5) untuk menaikkan suku bunga acuan 50 basis poin atau 0,5 persen sebagai upaya lanjutan dalam mengatasi inflasi tertinggi selama empat dekade. Kenaikan ini menyusul peningkatan 0,25 persen suku bunga acuan yang sudah dilakukan The Fed pada Maret. Sekarang suku bunga di AS mencapai 0,75 persen.

Peningkatan ini bakal berdampak meningginya biaya semua jenis pinjaman, termasuk hipotek, kartu kredit sampai cicilan mobil. Hal ini diprediksi akan dapat meredam permintaan dan aktivitas bisnis. Masalah inflasi di AS sejatinya telah menjadi perhatian setelah ekonomi terbesar di dunia ini mengalami lonjakan inflasi 8,5 persen selama 12 bulan terakhir dan ini merupakan tertinggi sejak Desember 1981. Dengan adanya kenaikan suku bunga ini diharapkan dapat membantu mengendalikan lonjakan inflasi di AS.

Tak hanya AS yang menaikkan suku bunga. Bank sentral Australia (Reserve Bank of Australia/RBA) juga memberikan kejutan ke pasar finansial pada Selasa (3/5).Untuk pertama kalinya dalam lebih dari 10 tahun terakhir RBA menaikkan suku bunganya. Meski para ekonom sudah memprediksi akan terjadinya kenaikan tersebut, tapi RBA di bawah pimpinan Gubernur Philip Lowe akan bertindak lebih agresif. Dalam pengumuman kebijakan moneter, RBA menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 0,35% dari rekor terendah sepanjang masa 0,1%. Kenaikan tersebut menjadi yang pertama sejak November 2010.

Hasil survei Reuters pada 27 - 29 April terhadap 32 ekonom menunjukkan mayoritas memperkirakan RBA akan menaikkan suku bunga sebesar 15 basis poin menjadi 0,25% dari saat ini 0,1% yang merupakan rekor terendah sepanjang sejarah. Survei tersebut juga menunjukkan RBA akan diperkirakan agresif dalam menaikkan suku bunga. Sebanyak 23 dari 32 ekonom memperkirakan pada Juni, suku bunga diperkirakan akan kembali dinaikkan menjadi 0,5%, 4 ekonom bahkan memprediksi suku bunga menjadi 0,75%.

Mulai bergeraknya kenaikan suku bunga pada beberapa negara jelas memberi bukti penting jika perkembangan perekonomian global terbukti resilien dan pertumbuhan inflasi telah naik dengan cepat, ke level yang lebih tinggi dari yang diantisipasi oleh banyak negara. Melihat dinamika ini, jelas situasi ini memberi peringatan keras bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Karena dikhawatirkan juga akan turut memberi dampak inflasi yang sangat besar bagi ekonomi nasional.

Apalagi, baru-baru ini Internasional Moneter Fund (IMF) telah merevisi proyeksi inflasi Indonesia menjadi 4% akhir 2022 dari sebelumnya 3,5% sebagai imbas meletusnya perang Rusia-Ukraina. IMF merevisi rata-rata inflasi Indonesia dalam 12 bulan dari 2,9% menjadi 3,3%. Melihat proyeksi IMF, inflasi Indonesia berada di titik atas target Bank Indonesia (BI) di kisaran 2-4%. Revisi proyeksi inflasi ini sejalan dengan koreksi IMF terhadap proyeksi inflasi global mereka untuk negara maju menjadi 5,7% dari 3,9%.

Antisipasi Praktis

Untuk ukuran negara berkembang, laju inflasi Indonesia diperkirakan meningkat pada tahun ini menjadi 8,7%, naik dari angka sebelumnya yakni 5,9%. Sepanjang 2022, BI memperkirakan jika pertumbuhan ekonomi mencapai 4,5 persen -5,3 persen. Nilai ini lebih rendah dari proyeksi awal 4,7 persen - 5,5 persen. Ketegangan geopolitik antara Rusia dan Ukraina secara rasional telah menciptakan terjadinya disrupsi rantai pasok global yang berdampak sistemik pada rapuhnya sistem kinerja ekspor Indonesia ke pasar global.

Volume ekspor Indonesia diperkirakan tertahan akibat konflik Rusia dengan Ukraina. Permintaan barang dari negara mitra dagang Indonesia ikut menurun imbas dari ketegangan geopolitik itu. Gangguan rantai global ini menyebabkan tertahannya permintaan negara mitra dagang Indonesia karena ekspor Indonesia menjadi ikut tertahan. Sementara faktor eksternal memburuk, indikator ekonomi domestik relatif positif dan terjaga. Hal ini tercermin dari berbagai indikator, seperti pada Prompt Manufacturing Index Bank Indonesia (PMI-BI) pada triwulan pertama 2022 yang mencapai 51,77 persen, lebih tinggi daripada triwulan keempat 2021 sebesar 50,17 persen.

Nilai PMI- BI yang berada di atas level 50 menunjukkan jika industri pengolahan dalam fase ekspansi. Selain itu, penyaluran kredit perbankan terus bertumbuh. Sampai Maret 2022, penyaluran kredit bank bertumbuh 6,65 persen secara tahunan. Nilai pertumbuhan ini lebih tinggi dibandingkan Februari 2022 yang bertumbuh 6,33 persen yang menunjukkan telah terjadi peningkatan kegiatan usaha.

Untuk antisipasi inflasi lebih dalam, suku bunga acuan RDG BI bahkan memutuskan mempertahankan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 3,5 persen, suku bunga deposit facility sebesar 2,75 persen, dan suku bunga lending facility sebesar 4,25 persen. Keputusan ini sejalan dengan upaya untuk dapat menjaga stabilitas nilai tukar dan pengendalian inflasi, serta mendorong pertumbuhan ekonomi. Putusan ini diambil setelah mempertimbangkan meningkatnya tekanan eksternal akibat masalah geopolitik Rusia dan Ukraina dan adanya percepatan normalisasi kebijakan moneter di negara maju.

Di sinilah pemerintah melalui BI harus dapat memperketat sistem moneter ekonomi dalam negeri secara merata. BI harus dapat menyiapkan skenario antisipasi praktis untuk tetap menjaga stabilnya daya beli konsumsi masyarakat yang belum sepenuhnya pulih dari Covid-19. Karena jika tingkat inflasi naik, maka daya beli konsumsi rumah tangga menjadi terhambat. Jika konsumsi rumah tangga tidak tumbuh maka kondisi ini akan mempengaruhi laju pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Pemetaan Strategis

Demi menekan inflasi dan perubahan yang dinamis pada sistem kerja ekonomi global, pemerintah harus melakukan tiga langkah pemetaan strategis. Pertama, melalui penataan kebijakan fiskal secara terpadu yakni optimalisasi penerimaan dan pengeluaran dari anggaran pemerintah seperti melalui peningkatan tarif pajak dan pinjaman keuangan yang produktif.

Kedua, melaksanakan tata kebijakan moneter nasional efektif. Diantaranya dengan stabilisasi penambahan atau pengurangan jumlah uang di tengah masyarakat. Rutinitas operasi pasar terbuka secara masif akan dapat mengendalikan jumlah uang yang beredar akan meningkatkan aktivitas ekonomi dalam negeri.

Ketiga, mengoptimalisasikan pemetaan ekonomi melalui kebijakan non-fiskal dan non-moneter yang memberi bantalan ketahanan ekonomi secara sistem. Upaya rasional dalam kebijakan non-fiskal dan non-moneter ini dilakukan dengan kegiatan penambahan hasil produksi. Kebijakan pemerataan pendapatan masyarakat, menetapkan harga barang maksimum, dan pengawasan barang produksi nasional secara menyeluruh.

Dengan banyaknya barang yang beredar di masyarakat, perputaran uang akan cepat dan banyak, sehingga uang beredar dapat kembali seimbang. Menjaga pendapatan masyarakat agar tidak naik bisa menjadi cara untuk menekan laju pertumbuhan inflasi yang tak terkendali. Karena dengan pemerataan pendapatan masyarakat akan berdampak baik bagi produktivitas daya beli masyarakat.

Begitu pula dengan penetapan aturan harga akan memberi stabilitas bagi resistensi daya beli masyarakat secara nyata. Pada saat terjadi inflasi, harga barang cenderung naik tak terkendali. Hal ini membuat daya beli masyarakat menjadi semakin menurun. Dengan menetapkan harga maksimum, pemerintah mengharap agar daya beli masyarakat menjadi lebih baik lagi.

Langkah terakhir yang harus selalu diperhatikan adalah kesadaran dalam melakukan pengawasan terhadap distribusi barang. Karena masalah distribusi barang yang terhambat akan menjadi faktor utama terjadinya inflasi di suatu wilayah. Permintaan besar yang tidak diimbangi jumlah barang yang terbatas akan membuat kenaikan harga dan kekurangan stok barang terjadi dimana - mana. Dengan adanya pengawasan, setiap barang akan lebih cepat didistribusikan kepada masyarakat dan ini berdampak produktif bagi pertumbuhan ekonomi secara nasional.

Haris Zaky Mubarak, MA Eksekutif Peneliti Jaringan Studi Indonesia

(mmu/mmu)