Kolom

Refleksi atas Pengalaman dalam Kurikulum Merdeka

Odemus Witono - detikNews
Selasa, 24 Mei 2022 12:15 WIB
PT Timah Tbk kembali memberikan kesempatan bagi anak bangsa yang ada di wilayah operasional perusahaan secara ekonomi kurang mampu agar dapat mengenyam pendidikan terbaik.

Tentunya semua itu diberikan secara gratis dan cuma-cuma untuk jenjang SMA yang dilaksanakan dengan sistem asrama.

Untuk pembelajaran secara akademik tetap dilaksanakan di SMAN 1 Pemali, sementara untuk asramanya dilaksanakan di kawasan Timah Learning Center.
Foto ilustrasi: Rachman/detikcom
Jakarta -

Setiap orang mempunyai pengalaman hidup khas, kadang mirip, tetapi bisa juga berbeda sama sekali. Pengalaman --berupa aktivitas fisik dan pikiran– merupakan peristiwa yang terjadi dalam realitas kehidupan. Pengalaman dalam realitas terkait langsung dengan keberadaan manusia dalam interaksi sosial keseharian.

Keberadaan manusia dalam segala aktivitas menjadi berkat bagi semesta. Kehadiran subjek pribadi secara eksistensial dapat memberikan makna yang bernilai bagi sesama dan lingkungan yang lebih luas. Pemberian makna terhadap pengalaman membantu orang untuk belajar mengenai kehidupan yang lebih baik.

Pengalaman hidup yang direfleksikan dapat menjadi pembelajaran yang berharga. John Dewey mengatakan, "We do not learn from experience... we learn from reflecting on experience." Manusia tidak belajar dari pengalaman, tetapi dari refleksi atas aneka peristiwa yang dialami. Dalam arti yang demikian, Dewey memandang bahwa refleksi merupakan prasyarat belajar dalam memaknai pengalaman yang terjadi pada keseharian hidup.

Secara etimologis kata refleksi berasal dari kata Latin, reflexio yang berarti berpaling atau mundur. Refleksi dalam kamus (merriam-webster.com, 2022) dikaitkan dengan pertimbangan beberapa materi, ide, pendapat, atau tujuan yang terbentuk sebagai hasil dari permenungan. Menurut Boud, Keogh, and Walker (dalam Nguyen, 2015) ada tiga tahap di dalam proses pembuatan refleksi.

Tahap pertama pembuat refleksi atau reflektor mencoba --dalam imajinasi– kembali mengalami peristiwa yang sudah terjadi, kemudian memutar ulang pengalaman tersebut dan setelah itu mundur menjaga jarak melihat objektivitas peristiwa yang dialami. Pada tahap ini, proses berefleksi perlu disertai data, melihat pengalaman dari sudut pandang berbeda, dan adanya kesadaran terhadap ide-ide dan perasaan baru yang muncul.

Tahap kedua reflektor menghadirkan perasaan dalam peristiwa yang dialami. Pada tahap kedua, Boud et al. berupaya memanfaatkan perasaan positif dan menghilangkan rasa lain yang dapat menghalangi, dengan cara yang pas untuk mendapatkan fleksibilitas dan kreativitas di dalam merespons penilaian atas pengalaman.

Tahap ketiga pengevaluasian terhadap pengalaman yang melibatkan pemeriksaan data yang muncul dari dua tahap sebelumnya. Evaluasi atas pengalaman dapat berkontribusi pada peningkatan kualitas hasil refleksi yang diharapkan. Pada tahap evaluasi inilah kemudian refleksi atas keseluruhan peristiwa dapat dilakukan.

Kebiasaan berefleksi merupakan cara hidup meditatif guna menyadari peristiwa-peristiwa yang dialami. Aneka peristiwa --berupa pengalaman hidup– dapat direfleksikan sesuai konteks dan kejadian. Pengalaman manusia yang direfleksikan dapat menjadi "guru terbaik" bagi siapa saja yang melakukan.

Menurut Babauta (2022) refleksi membantu manusia belajar memperbaiki diri dari kesalahan, memunculkan gagasan bermutu, menjadi lebih peduli terhadap sesama, memperoleh kebahagiaan, dan memberikan sudut pandang baru terhadap persoalan hidup yang dihadapi. Kebiasaan berefleksi menciptakan energi positif dalam memandang dunia.

Sesuatu yang awalnya dilihat gelap gulita tanpa harapan, melalui refleksi manusia dapat menemukan jembatan penghubung antara kegalauan, tekanan hidup, kesedihan dengan keyakinan, kebebasan, dan sukacita kegembiraan. Dalam refleksi, manusia dapat memaknai hidup secara lebih objektif dan secara manusiawi dapat dipertanggungjawabkan.

Ruang Edukasi

Kebiasaan berefleksi –bagi para pendidik dan peserta didik dalam ruang edukasi-- perlu dirancang dan dipraktikkan secara berulang setiap hari. Membuat refleksi berbeda dengan menceritakan atau menarasikan ulang suatu peristiwa dalam pengalaman. Refleksi merupakan pengalaman konkret yang ditinjau berdasarkan permenungan, kemudian hasil renungan dituliskan kembali dan dimaknai lebih lanjut sebagai pembelajaran hidup.

Dalam kurikulum merdeka, pembelajaran bermakna membutuhkan refleksi dalam memaknai hal-hal yang dipelajari para murid. Konsep pembelajaran bermakna sesuai dengan gagasan Ki Hajar Dewantara. Dalam analisis Ki Hajar Dewantara, pendidikan bermakna mampu menuntun segala kekuatan kodrat pada para murid sebagai manusia dan anggota masyarakat untuk mencapai keselamatan serta menggapai kebahagiaan setinggi-tingginya.

Pembelajaran bermakna hasil kebiasaan para murid berefleksi akan memperkuat kualitas pembelajaran. Dasarnya adalah para murid dalam sekolah tidak hanya mendapat materi ajar dalam capaian pembelajaran tetapi juga mereka mampu memaknai apa yang dipelajari.

Para murid dalam refleksi dapat menyadari keberadaan mereka di sekolah, mengerti tujuan pembelajaran bidang studi, dan memahami cara atau strategi seharusnya belajar. Para murid yang sadar akan jatidirinya akan bertumbuh optimal dari berbagai sisi formatif yang mereka dapatkan selama bersekolah.

Sebagai catatan akhir, saya menyimpulkan bahwa kebiasaan berefleksi merupakan hal penting dan mendesak untuk dilakukan sejak usia dini atau muda. Para murid dalam kurikulum merdeka perlu dilatih membuat refleksi untuk memaknai pelajaran yang mereka pelajari dan alami. Pelajaran berupa bahan ajar dan pengalaman aktivitas murid dalam ruang edukasi perlu direfleksikan dalam keseharian para murid.

Kebiasaan berefleksi akan memperkuat kualitas pembelajaran para murid dalam menggapai cita-cita dan kebahagiaan mereka di masa depan. Para murid yang sudah terbiasa berefleksi merasa siap sedia dalam berproses di sekolah. Mereka akan memetik banyak pelajaran selama bersekolah di tingkat dasar maupun menengah. Akibatnya, setelah lulus sekolah, mereka dapat memilah sesuatu yang terbaik baik bagi masa depan mereka.

Jika mereka setelah lulus memilih kuliah, maka pilihan jurusan dan kampus yang dipilih merupakan hasil diskresi yang sudah direfleksikan. Demikian juga jika mereka memutuskan langsung bekerja, maka hal tersebut merupakan buah dari refleksi yang dihasilkan.

Oleh karena itu untuk mendampingi para murid berefleksi, para guru perlu dibekali cara membuat refleksi yang baik dan berkualitas. Mereka perlu diikutkan dalam pelatihan-pelatihan membuat refleksi atas pengalaman. Guru atau pendidik yang terlatih membuat refleksi dapat membantu para murid melakukan hal yang sama, yaitu berefleksi secara baik dan berkualitas untuk meraih masa depan mereka.

(mmu/mmu)