Kolom

Catatan Hari Bakti Dokter 2022

Puspa Ayu Lestari - detikNews
Senin, 23 Mei 2022 15:10 WIB
Doctor sitting at desk and writing a prescription for her patient
Ilustrasi: Getty Images/iStockphoto/demaerre
Jakarta -
Masa kejayaan kisah-kisah "manis" kehidupan dokter di daerah terpencil sebaiknya segera diakhiri. Apalagi jaminan kesejahteraan dari pemerintah untuk mereka terbilang cukup memprihatinkan.

Saya seorang dokter Puskesmas di salah satu kabupaten di Jawa Tengah. Bekerja di daerah pegunungan yang sejuk dan subur. Sebagian wilayah kerja Puskesmas saya bertugas adalah pedesaan. Selayaknya dokter Puskesmas, pada banyak kesempatan saya turun ke desa-desa. Pada hari-hari tertentu memberikan pelayanan di Puskesmas pembantu.

Ada salah satu Puskesmas pembantu terletak di sebuah desa di kaki Gunung Slamet. Karena halamannya cukup luas, oleh penduduk sekitar tanah kosong tersebut ditanami berbagai macam sayuran. Hasilnya diambil untuk mereka. Kadang penduduk desa juga membaginya untuk kami pada saat panen.

Begitu mungkin salah satu gambaran ideal seorang dokter di Indonesia. Hidup di desa-desa, sangat dekat dengan kaum terpinggir yang kekurangan. Menjadi kesayangan hampir semua penduduk desa, dianggap sosok hampir sempurna karena kebaikannya. Siap membantu masyarakat kapan pun mereka membutuhkan. Sakit tidak pernah menunda besok, satu minggu atau satu bulan ke depan bukan?

Semasa kuliah, sebagai mahasiswa kedokteran, saya sering diceritakan tentang betapa luhurnya profesi ini. Siap bekerja dan ditempatkan di mana saja demi kemanusiaan. Anehnya kebanyakan yang berkisah seperti itu justru para dokter yang tinggal di kota. Dengan seragam necis, memakai snelli jas putih mentereng.

Sementara kalau bertemu dengan para dokter senior di desa, mereka memberikan nasihat, "Mumpung masih muda, sana pergi sekolah lagi. Jadilah spesialis, jangan mau tinggal di desa terus menerus." Tidak semua seperti itu, tapi rata-rata mereka akan berkata demikian. Kontradiksi ya?

Dulu saya termasuk dokter yang keberatan dengan dihapuskannya program wajib PTT (pegawai tidak tetap) bagi dokter yang baru lulus oleh Kementerian Kesehatan. Bagi saya dengan PTT --yang lebih sering menempatkan dokter baru lulus di desa atau daerah terpencil-- inilah mereka akan lebih ditempa jiwa sosial dan kemandiriannya.

Kalau sekarang? Tidak lagi. Para dokter menempuh pendidikan atas biaya sendiri tanpa bantuan dari pemerintah. Dalam proses seleksinya untuk masuk Fakultas Kedokteran juga atas usaha dan jerih payah sendiri. Sampai saat ini saya belum pernah mendengar ada bimbingan belajar yang disponsori oleh pemerintah bagi anak-anak lulusan SMA sederajat agar lebih mudah masuk ke Kedokteran. Akan sangat aneh kalau kemudian lulusannya dituntut wajib melakukan pengabdian, di daerah terpencil atau sulit pula.

Selain itu, tidak semua daerah ramah dan layak untuk dijadikan sarana pengabdian. Banyak sejawat dokter ditempatkan di daerah terpencil tanpa adanya dukungan sarana dan penghargaan yang manusiawi. Tidak tersedianya rumah dinas, kalaupun tersedia biasa kondisinya rusak parah atau tidak terawat. Sistem penggajian dan pembagian jasa medis yang sering tertunda, tidak transparan, dan kurang berkeadilan. Belum lagi seenaknya ditempatkan di daerah konflik tanpa perlindungan terstandar.

Tugas sebagai dokter di daerah pedesaan juga memiliki banyak kesulitan tersendiri. Seringkali sebagian masyarakat tidak bisa memahami iktikad baik para dokter dalam memberikan edukasi kesehatan. Banyak prinsip kedokteran modern yang ternyata bertentangan dengan kepercayaan atau mitos di masyarakat.

Sampai sekarang saya masih harus berhadapan dengan mitos bahwa ibu nifas itu dilarang untuk tidur siang dan tidak diperbolehkan untuk mengkonsumsi protein hewani. Padahal pada masa nifas inilah seorang ibu harus banyak beristirahat dan membutuhkan nutrisi lengkap supaya bisa memberikan ASI eksklusif untuk bayinya.

Ditambah lagi para pengobat tradisional yang sudah turun temurun dipercaya oleh masyarakat, seringkali menawarkan berbagai macam bentuk pengobatan yang tidak masuk akal. Pada kasus pasien dengan gangguan jiwa yang paling sering terjadi. Dengan kehadiran dokter sedikit-banyak mereka merasa "terancam" dominasinya. Dan dokter dibiarkan sendirian menghadapi mereka.

Kewajiban program PTT Kementerian Kesehatan memang sudah dihapus sejak 2007. Dokter yang baru lulus tidak lagi dibebani dengan kewajiban bertugas di desa dan daerah terpencil. Mereka dibebaskan untuk langsung melanjutkan pendidikan spesialis atau berpraktik sebagai dokter umum.

Apakah permasalahan selesai? Tidak, ternyata. Yang terjadi kemudian adalah adanya penumpukan jumlah dokter di kota-kota besar, dan sangat kekurangan dokter di desa dan daerah terpencil. Pemerataan dan distribusi jumlah dokter menjadi tidak merata. Data terakhir Oktober 2021 menunjukkan masih ada sekitar 700 Puskesmas yang tidak memiliki tenaga dokter. Padahal ujung tombak pelayanan kesehatan yang paling mudah diakses adalah Puskesmas.

Kalau keadaan ini dibiarkan tanpa regulasi kuat dan berkeadilan, bukan tidak mungkin semakin sedikit dokter yang bersedia ditempatkan di desa dan daerah terpencil. Pembangunan infrastruktur sampai ke pelosok desa juga tidak akan banyak membantu bila perhatian pemerintah terhadap kesejahteraan dan keselamatan dokter masih minim.

Saya sangat setuju, seorang dokter memang harus dekat dengan masyarakat. Bertugas mengutamakan sisi kemanusiaan. Tapi selagi belum ada sistem yang menjamin kehidupan yang layak dan aman, sudahlah, kalian tidak perlu harus menjadi "pahlawan" kok....

Puspa Ayu Lestari dokter
Simak juga 'Achmad Yurianto, dari Dokter Militer hingga Jubir Covid-19':

(mmu/mmu)