Kolom

Yang Muda yang (Tidak) Produktif

Florentz Magdalena - detikNews
Senin, 23 Mei 2022 11:15 WIB
Infografis jumlah pengangguran di Indonesia
Ilustrasi: Infografis detikcom/M Fakhry Arrizal
Jakarta - Kaum muda identik dengan semangat tinggi dan penuh inovasi. Mereka merupakan motor penggerak pembangunan. Hasil Sensus Penduduk yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2020 menyebutkan bahwa penduduk Indonesia didominasi oleh kaum muda; sebanyak 27,90 persen merupakan generasi Z. Hal ini merupakan modal penting bagi keberlangsungan masa depan bangsa.

Tetapi, sebanyak 22,40 persen kaum muda Indonesia pada 2021 justru tidak produktif. Artinya, lebih dari seperlima penduduk Indonesia yang berusia 15-24 tahun justru tak melakukan apa-apa. Padahal, penduduk pada rentang usia ini seharusnya sedang mengenyam pendidikan, atau sudah berada dalam pekerjaan ataupun pelatihan. Mereka dikategorikan sebagai NEET (Not in Employment, Education, or Training), yaitu tidak masuk ke dalam pasar tenaga kerja, tidak bersekolah, ataupun tidak mengikuti pelatihan. Meski menurun jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, angka ini tidak banyak mengalami perubahan dalam enam tahun terakhir.

Pada 2021, perempuan muda yang tidak produktif sebesar 25,93 persen sedangkan laki-laki sebesar 18,94 persen. Budaya patriarki yang mengakar di Indonesia mendorong perempuan untuk lebih banyak terlibat dalam pekerjaan domestik seperti memasak, mencuci, membersihkan rumah, dan sebagainya. Hal ini sangat disayangkan, khususnya jika waktu yang dimiliki oleh perempuan muda ini dihabiskan untuk pekerjaan rumah tangga dan menghambat mereka bersekolah ataupun mengikuti pelatihan yang dapat menambah keterampilannya.

Pada 2021, angka NEET untuk kaum muda berusia 15-24 tahun yang memiliki tingkat pendidikan SD ke bawah adalah 30,44 persen; 12,35 persen yang memiliki tingkat pendidikan SMP; 27,76 persen yang memiliki tingkat pendidikan SMA sederajat; dan 27,75 persen yang memiliki tingkat pendidikan perguruan tinggi. Dengan demikian, angka NEET paling tinggi ada pada kaum muda dengan tingkat pendidikan rendah.

Produktivitas kaum muda yang belum tercapai secara maksimal ini dapat memunculkan permasalahan baru lainnya, di antaranya penganggur usia muda. Sejalan dengan hal tersebut, TPT kaum muda, yang berumur 15-24 tahun, juga paling tinggi di antara kelompok umur lainnya. Pengangguran kaum muda ini menjadi cerminan tren tingkat ketidakaktifan ekonomi kaum muda.

Berbagai penelitian menyebutkan kaum muda sering dianggap memiliki pengalaman dan keterampilan yang rendah sehingga pengusaha cenderung lebih memilih untuk mempekerjakan pekerja berketerampilan tinggi daripada pekerja usia muda. Oleh karena itu, salah satu cara untuk mencegah dan mengurangi pengangguran pada kelompok usia muda adalah dengan meningkatkan partisipasi kelompok usia muda ke dalam pendidikan (Dietrich, 2012).

Kaum muda yang berstatus NEET sebenarnya punya berbagai masalah yang kompleks dan mendalam (Wiliamson, 1998). Menjadi kaum muda dengan status NEET dapat merupakan suatu pilihan atau keterpaksaan. Bagi mereka yang mendapatkan dukungan ekonomi dari orangtua atau alasan lain untuk tidak bekerja atau bersekolah, bukan jadi masalah. Namun, kebanyakan kaum muda yang berstatus NEET cenderung memiliki status ekonomi yang rendah (Sari, 2020).

Fenomena ini dapat menjadi early warning bagi pemerintah untuk memperhatikan kaum muda. Jika tak diatasi, bonus demografi yang banyak digaungkan dapat tidak termanfaatkan dengan baik. Bahkan bisa berbalik arah dari berkah menjadi bencana. Tingginya angka NEET penduduk usia muda dapat menjadi bencana bagi suatu negara karena banyaknya penduduk usia muda di Indonesia yang tidak produktif, tidak hanya dalam pasar tenaga kerja namun juga pendidikan ataupun pelatihan.

Sementara itu, kebijakan pemerintah selama ini hanya terfokus kepada penduduk usia muda yang termasuk dalam angkatan kerja. Perlunya sistem pendidikan yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar tenaga kerja agar kaum muda dapat menjadi lulusan siap kerja seusai pendidikan. Selain itu, pemberdayaan perempuan diperlukan mengingat tingginya angka NEET pada perempuan, baik berupa pendidikan pada remaja perempuan maupun perluasan kesempatan kerja pada perempuan muda di kewirausahaan.

Florentz Magdalena BPS Provinsi Sulawesi Utara

(mmu/mmu)